UC, 43 tahun, Jakarta

Sekalipun diawali dengan banyak rintangan dan problem kesibukan sehari-hari, sungguh sangat  tidak mudah untuk berhenti (break) sejenak melalui retret meditasi tanpa obyek ini.

Sekalipun singkat, serasa menyadari dan memahami diri sebagai koan masih bergema terutama dalam acara puncak misa kudus. Menyadari diri dengan menyadari bathin setiap saat, baik di rumah, di jalan raya, menyadari waktu (psikologis), seluruh dimensi kehidupan, relasi dan seterusnya. Juga janji untuk menghargai kehidupan dan segala mahluk. 

Awalnya kami diajak untuk hening sekalipun bathin belum begitu dikenal mendalam. Kami belajar duduk diam (sitting meditation), meditasi jalan (walking meditation)  dan mediasi makan (eating meditation). Retret dilakukan dalam suasana silentium selama 3 hari dan di akhir retret ditutup dengan Ekaristi.

Menyadari tanpa daya upaya gerak bathin yang muncul dan tenggelam dari saat ke saat, tidaklah mudah meskipun tampak sangat sederhana. Sebagai pemula, saya belum terbiasa dengan keheningan. Tapi tidak mengapa. Ini awal yang baik untuk menyadari gerak batin atau diri yang tidak pernah disadari.

Hari terakhir merupakan klimaks untuk saya. Menyadari akan makna dari seluruh acara dalam kesadaran meditative muncul begitu saja. Bahkan mulai muncul kesadaran dan pemahaman akan diri  dalam perspektif yang lebih baru.

Dengan kesadaran yang baru ini,  semua terlihat betul-betul baru: obyek indrawi, ingatan, pikiran yg menciptakan diri, subyek-obyek yg terpisah, sensasi fisikal, labelisasi pikiran, perasaan, pengalaman, pengetahuan, imaginasi, keinginan, niat, daya upaya, maupun tindakan.

Tidak mudah untuk tidak terserap dalam obyek-obyek. Tetapi yang lebih utama adalah menyadari bathin setiap saat, sadar dari saat ke saat. Itu saja.

Pada akhir retret, kami diingatkan pula untuk selalu menyadari diri dalam relasi sehari-hari. Hanya dalam relasi-relasi si ego atau diri terkuak, baik relasi dengan sesama mahluk, materi, problem dan lain-lain.

Setelah sampai di rumah, bertemu istri, anak, teman, komunitas, rutinitas sehari-hari, saya diingatkan untuk belajar menyadari gerak bathin dalam relasi. Praktik kesadaran berlangsung tidak hanya pada saat retret meditasi saja dan tidak hanya berhenti sebagai pemuasan intelektuil semata.

Ada hal positif yang saya dapatkan, yaitu berkaitan dengan kesadaran akan keterbelengguan, keterkondisian, penderitaan, kehidupan yang mekanistik, dualistic. Itu sangat terasa dalam keheningan. Pikiran yang bergerak selalu menciptakan keinginan, kecemasan, harapan, ketakutan dan lain-lain. Pikiran membuat bathin semakin jauh dari apa adanya. Keheningan membuat pengalaman desolasi maupun konsolasi terlampaui. Batin tidak mudah tergoyahkan oleh kekeringan atau tidak mudah terserap dalam kesenangan atau kepuasan diri.

Hal lain adalah memahami doa dalam perspektif baru. Ada bentuk doa keheningan yang melampaui doa permohonan, doa vokal, doa dengan nyanyian, dan lain-lain. Dalam keheningan, kita lebih menyadari interior guidance  dimana Tuhan tidak lagi sebagai obyek kesadaran tetapi subyek kesadaran.

Retret ini memberikan pengalaman yang sungguh berharga. Terima kasih atas bimbingan dan kesabaran dalam melayani setiap pertanyaan. *