LW, 58 tahun, Jakarta.

Terima kasih atas kesempatan mengikuti retret akhir pecan di Muntilan 20-22 Juli 2012. Meski waktunya sangat singkat, hasil yang saya rasakan luar biasa. Semula banyak keraguan apakah akan ikut retret atau tidak. Akhirnya, saya dapat menggunakan long weekend ini untuk retret di luar kota.

Dengan penuh kesadaran saya mengikuti dinamika retret sejak awal pembukaan. Ada beban batin yang muncul sekitar satu setengah bulan yang lalu. Saya kehilangan perhiasan di rumah. Saya merasa kenyamanan dan keamanan di rumah terusik. Mula-mula saya tidak tergoncang dengan hilangnya barang-barang itu. Rasanya tak ada kelekatan. “Sudah hilang ya sudah.” 

Namun di luar kesadaran, ego/pikiran mengintervensi. Mulailah batin terseret makin jauh, menduga-duga, menganalisa tiada henti, curiga kepada si A,B, dan seterusnya. Maka terbelenggulah diri ini oleh pikiran. Batin dipenuhi kotoran-kotoran yang tidak disadari, mekipun setiap hari berlatih meditasi.

Hari-hari retret saya jalani dalam keheningan, dari saat bangun pagi dini hari sampai saat tidur malam hari.

Pada saat dialog, penjelasan tentang hubungan subjek – objek dan batin yang sadar – batin yang terlibat sangat mencerahkan. Juga bimbingan selama meditasi berjalan (walking meditation) sangat membantu. Baru kali ini saya mengerti arti walking meditation. Sebelumnya saya melakukan walking meditation hanya sekedar untuk membuat perimbangan atau jeda di antara duduk meditasi dan ini sudah berjalan bertahun-tahun. Oh, so amazing this time.

Pada saat walking meditation, Romo juga mengajak untuk memasuki kematian dan kehidupan secara sukarela: “Can you die freely and happily? Can you live freely and happily right now?” Selain itu, Romo jg mengajak kami untuk selalu melangkah dari titik keheningan.

Retret ini membawa kelegaan, rasa plong, bebas dari kungkungan penjara yang membelenggu. “I am nobody. The missing jewellery is also nothing.” Saya mengalami kematian dari hidup yang terkondisi dan  sekaligus mengalami hidup baru. Bahkan saya bisa mengampuni dan mendoakan mereka yang semula saya curigai. Tetapi saya juga harus lebih waspada di rumah dengan memasang kunci dobel.

Terimakasih saya ucapkan kepada Romo atas kesempatan retret ini, atas pencerahannya, atas pertemanannya dalam perjalanan spiritual saya selama bertahun-tahun. Terimakasih juga kepada semua rekan atas kebersamaannya yang indah.*