Menurut Abraham Maslow ada lima tingkat kebutuhan manusia dan pemenuhan kebutuhan sesuai dengan tingkatannya menentukan tingkat kualitas kebahagiaan seseorang. Apakah praktik meditasi bisa membuat orang mencapai kebahagiaan tanpa mengikuti skema lima hirarki kebutuhan ini?

Kebahagiaan yang kita kenal dalam kesadaran sehari-hari pada umumnya terkait dengan banyak prasyarat seperti teori pemenuhan kebutuhan hidup manusia dari Abraham Maslow. Tetapi terpenuhinya prasyarat-prasyarat ini tidak serta merta membuat orang bahagia.  Kebahagiaan yang sesungguhnya tidak berkaitan dengan terpenuhinya prasyarat-prasyarat ini, melainkan pada “disposisi” batin seseorang yang tidak lagi terkondisi.

Mari kita mencermati satu per satu ke lima hirarki kebutuhan manusia ini dan bertanya bagaimana praktik meditasi bisa membantu men-“disposisi” batin, sehingga makin membebaskan batin dari segala keterkondisian, terutama di sini keterkondisian dari kebutuhan untuk pemuasan-pemuasan psikologis.

1.Kebutuhan fisiologis (survival needs): kebutuhan sandang, pangan, papan, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, pemuasan seks, dan lain sebagainya.

Kita bisa membayangkan apa jadinya kalau orang tidak berkecukupan dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan, dan seks. Tentu saja ada penderitaannya sendiri ketika kita hidup serba berkekurangan. Tetapi pemenuhan kebutuan sandang, pangan, papan, dan seks, bahkan secara berlebihan, tidak menambah apapun pada kualitas kebahagiaan. Begitu pula, menjalani hidup dengan keterbatasan sandang, pangan, papan, dan hidup tanpa seks yang diterima dengan sukarela, atau bahkan dengan sengaja dipilih sebagai bentuk hidup dalam kemiskinan dan kemurnian, bisa jadi membuat orang kurang menderita dibanding kalau hidup berkecukupan atau bahkan berlebihan.

Adalah sebuah kenyataan bahwa kebanyakan dari kita lebih mementingkan pemuasan kebutuhan psikologis dibandingkan pemenuhan kebutuhan fisiologis atau biologis. Ada kenikmatan dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan, dan seks. Tetapi ketika kenikmatan fisiologis telah berkembang menjadi kenikmatan psikologis dan kenikmatan psikologis dijadikan tujuan tindakan, maka itu semua justru menjadi bahaya bagi tercapainya kebahagiaan yang sesungguhnya.

Praktik meditasi memiliki dampak positif di mana orang bisa secara optimal menggunakan daya-daya manusiawinya untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, menggunakannya secara efektif dan bijaksana, dan membuat batin bebas dari ilusi kenikmatan psikologis.

2.Kebutuhan keamanan dan keselamatan (safety needs): bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, menikmati stabilitas social, memperoleh proteksi sistemik, dan lain sebagainya.

Tidak adanya keamanan fisik dan social di lingkungan masyarakat atau negara tertentu merupakan salah satu factor yang memicu perpindahan orang dari satu tempat ke tempat lain. Adalah wajar orang ingin hidup di tengah lingkungan yang aman dan stabil. Tetapi kalau orang tidak punya pilihan lain kecuali bertahan dalam lingkungan yang penuh konflik, bisakah mereka menjalani hidup dalam damai? Sebaliknya ketika orang hidup dalam lingkungan yang serba aman dan stabil, apakah otomatis mereka hidup bebas dari konflik?

Praktik meditasi membantu orang menemukan kedamaian yang tidak dikondisikan dari luar, bukan ketika ancaman atau konflik-konflik di luar berhenti, tetapi ketika konflik-konflik dalam batin berakhir. Batin yang damai memberikan kekuatan untuk bertahan dalam situasi-situasi yang biasa sampai yang paling sulit sekalipun.

3.Kebutuhan social terutama cinta dan pertemanan (love and belongings needs): memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, menjadi anggota komunitas sebaya, komunitas agama, etnik, dan lain sebagainya.

Setiap individu tidak bisa hidup sendirian seperti pulau yang terpisah dari pulau yang lain. Kehadiran orang lain atau komunitas dibutuhkan demi survival individu dan kelompoknya. Akan tetapi tanpa kualitas kebebasan dari dalam (inward freedom), keluarga atau komunitas, misalnya, bisa menjadi penjara baru yang justru mengasingkan setiap individu yang tinggal di dalamnya. Orang bisa menjadi sangat tergantung secara psikologis satu dengan yang lain dalam komunitasnya. Dalam ketergantungan psikologis, terdapat ketakutan, kekerasan, eksploitasi, dan lain sebagainya.

Praktik meditasi membantu orang menemukan kebebasan dari dalam dan dalam kebebasan yang sama  belajar menjalani hidup yang adalah relasi satu dengan yang lain. Relasi-relasi, misalnya dalam keluarga atau komunitas, bukan lagi menjadi sarang di mana orang mencari rasa aman, pemuasan diri atau cinta diri, melainkan menjadi ekspresi dari kebebasan dari dalam dan komunitas tidak lagi menjadi penjara baru.

4.Kebutuhan penghargaan (esteem needs): kebutuhan untuk dihargai (respect from others) karena status, ketenaran, reputasi baik, keahlian; dan kebutuhan harga diri (self-esteem) dalam bentuk keyakinan diri, kompetensi diri, independensi, kebebasan.

Rasa hormat atau penghargaan terhadap orang lain merupakan proyeksi dari apa yang kita pandang bernilai dalam diri kita. Kalau kita berambisi menjadi orang sukses, maka kitapun tidak akan malu-malu memberi rasa hormat pada orang-orang yang sukses. Kalau kita berambisi menjadi orang saleh atau suci, maka kita pun suka memberi hormat pada orang-orang yang tampak saleh dan suci di lingkungan kita. Tetapi kita seringkali hanya menghargai diri kita dan orang lain berdasarkan pada apa yang kita lakukan atau apa yang kita miliki. Itu bisa berupa kekuasaan, ilmu pengetahuan, keahlian, uang atau kekayaan, kemolekan tubuh dan seterusnya.

Praktik meditasi membantu kita untuk menghargai atau memberi rasa hormat pada keberadaan kita dan orang lain apa adanya, bukan berdasarkan pada apa yang dilakukan atau dimiliki.

5.Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization needs): bertindak sesuai bakat dan minatnya sebagai ekspresi penuh dan sempurna dari potensi-potensi dalam diri.

Orang-orang yang mampu mengenali bakat-bakatnya dan mengaktualisasikannya sering disebut bukan hanya sebagai orang-orang yang kreatif, tetapi juga orang-orang yang tahu bagaimana menikmati kebahagiaan melalui bakat-bakatnya. Tetapi kreatifitas yang bersumber hanya pada bakat-bakat alamiah bukanlah kreatifitas sejati. Ada kreatifitas yang lain sama sekali ketika orang mampu menyentuh dimensi yang lebih dalam melampaui bakat-bakat alamiahnya yang masih terbatas betapapun mengagumkan. Maka aktualisasi diri belum menjadi manifestasi kepenuhan atau keutuhan dirinya selama segala potensi dan keterbatasan diri belum terlampaui.

Praktik meditasi membantu orang menyadari bakat-bakat alamiah ini, kekuatan sekaligus keterbatasannya, dan melampauinya. Lebih jauh lagi orang belajar bukan hanya bagaimana mengaktualisasi diri melalui bakat-bakatnya, tetapi bagaimana “aktualisasi tanpa-diri” sebagai tindakan yang paling kreatif menjadi mungkin dan proses ini menjadikan keutuhan atau kepenuhan pribadi menjadi lengkap.

Kalau kita hanya makan, tidur, menikmati seks, menjadi bagian dari komunitas tertentu, dan mengaktualisasi bakat-bakat alamiah, sesungguhnya kita tidak jauh berbeda dari hewan. Apa yang membedakan kita dari hewan bukanlah tingkat pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi terutama adalah kemungkinan untuk hidup melampaui segala keterbatasan diri.*