Kata-kata kebenaran bukanlah kebenaran itu sendiri. Ia hanya menunjuk kepada realita kebenaran supaya dialami sendiri secara aktual. Tetapi seringkali orang hanya berhenti pada kata-kata kebenaran dan tidak mengalami secara aktuil realita kebenaran. Bahkan kata-kata kebenaran dianggap sebagai kebenaran itu sendiri, sehingga justru menghalangi penemuan kebenaran yang sesungguhnya.

Mengapa orang mudah terjebak pada penjara “kata” kebenaran? Berikut ini beberapa kemungkinan penyebabnya.

 1.Prinsip mantra spiritual. Ada pemahaman yang sudah meluas bahwa terdapat kata-kata atau kalimat-kalimat suci yang memiliki kekuatan magis. Kata-kata tertentu dari bahasa sansekerta, pali, latin, atau arab, misalnya dianggap memiliki daya magis dibanding kata-kata dari bahasa lain. Tidak penting apakah orang mengerti betul arti yang dimaksudkan. Dengan mengulang-ulang atau membatinkan mantra atau kata-kata yang dianggap magis tersebut orang merasa sudah mengalami realitanya. Misalnya, dengan mengulang-ulang mantra “Jesus” atau “Buddha” orang merasa sudah “mengalami” Jesus atau Buddha. Dengan membatinkan kata-kata, “Hidup adalah annica (impermanent), dukkha (tidak memuaskan atau menderita), Anattā (tanpa-diri)”, seolah-olah sudah menjadi Buddhist sejati. Dengan membatinkan kata-kata, “Di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis. 17:28), seolah-olah sudah berjumpa dengan Kristus.

2.Prinsip kepastian. Orang mengetahui kebenaran ini: Tidak ada yang pasti di bawah langit kecuali ketidakpastian itu sendiri. Secara kejiwaan, orang tidak tahan dengan ketidakpastian. Dan kepastian itu mudah didapatkan dalam rumus-rumus kebenaran. Dogma agama, doktrin teologi atau spiritual, rumus pengetahuan, dan kata-kata bijak gampang menjadi pegangan orang-orang yang haus akan kepastian. Kenyataannya, semakin banyak memiliki pengetahuan dan otoritas kebenaran dalam batinnya, semakin orang tidak bebas dari belenggu keraguan. Orang cenderung mencari kepastian, meskipun regim kepastian sesungguhnya tidak ada. Itulah jebakan pikiran.

3.Prinsip kesesuaian. Sesuatu dianggap tidak benar kalau tidak sesuai dengan fakta. Suatu teori dianggap benar kalau bisa menjelaskan suatu perkara, sampai muncul teori baru yang lain yang bisa membuktikan kesalahan teori sebelumnya. Misalnya, teori “Bumi ini datar” dianggap sebagai kebenaran sampai ditemukan teori baru bahwa “Bumi ini bulat”. Selama belum ada teori baru yang muncul, teori yang lama dianggap memiliki infalibilitas kebenaran. Akan tetapi memegangnya sebagai kebenaran final membuat kebenaran tersebut sebagai kasus khusus kekeliruan. Beranggapan suatu kebenaran sebagai kenyataan adalah sebuah fiksi.

Terlebih lagi, apa yang dianggap benar seringkali bukan karena sesuai dengan kenyataannya, tetapi karena sesuai dengan selera penganutnya. Maka penerimaan atau penolakan sebuah kebenaran seringkali bukan karena orang telah melihat kebenarannya, tetapi karena kecocokan atau ketidakcocokan sebagai reaksi dari keterkondisian batin si penganutnya.

4.Prinsip pemuasan. Di balik setiap kebenaran, ada naluri tirani yang ingin dipuaskan. Lihatlah pernyataan berikut ini, “Semua agama adalah baik. Tetapi bagiku, agamaku adalah yang paling baik.” “Tidak ada agama yang lebih baik dan lebih benar, selain agama kita.” Identifikasi diri dengan kebenaran—dalam kasus di sini kebenaran agama—dengan cara tertentu memuaskan ego individual atau ego kolektif dan kebenaran yang dianut menjadi system pendukung bagi kelangsungan hidup individu atau kelompok. Kebenaran bagi para penganutnya lalu menjadi alat legitimasi atas proses-proses eksploitasi, dominasi, dan kekerasan. Di balik demonstrasi kata-kata suci, tersembunyi nafsu-nafsu tirani.

5.Prinsip penyebaran. Sesuatu dianggap sebagai kebenaran kalau diterima oleh suatu komunitas. Lalu muncul anggapan: semakin banyak diikuti, semakin dianggap benar; semakin sedikit diikuti, semakin dianggap tidak benar. Menguji kebenaran hanya dengan menghitung jumlah massa penganutnya adalah kesalahan besar. Demikian pula menguji kekeliruan dari sebuah kebenaran dengan menghitung jumlah massa penentangnya adalah suatu kebodohan. Kenyataannya, kebanyakan orang “tebal debu menutupi mata” sehingga tidak bisa melihat kebenaran dan sedikit orang “tipis debu menutupi mata” yang mampu melihat sendiri kebenaran.

6.Prinsip jawaban instan. Orang tidak akan bertanya kalau sudah tahu; orang bertanya karena tidak tahu. Hampir setiap hari, kita memiliki segudang pertanyaan untuk dipecahkan, dari pertanyaan-pertanyaan praktis sampai pertanyaan-pertanyaan fundamental menyangkut kehidupan. Pada umumnya, orang tidak memiliki daya tahan yang panjang untuk menyelidiki pertanyaan sampai tuntas. Alih-alih orang cenderung mencari jawaban instan atas pertanyaan dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan fundamental gampang diperoleh dari rumus-rumus kebenaran. Jawaban yang sesungguhnya tidak berada di luar pertanyaan, tetapi sudah ada di dalam pertanyaan itu sendiri. Oleh karena itu, lebih penting memahami pertanyaan itu sendiri sampai tuntas, bukannya mencari jawaban dalam rumus-rumus kebenaran.

Kebanyakan orang sudah memiliki otoritas kebenaran dalam batinnya dan menemukan kepastian di dalamnya sebagai panduan untuk hidup dan bertindak secara benar. Namun pengetahuan tentang apa yang benar, rumusan dogma atau doktrin yang dibatinkan, justru bisa memperkuat belenggu batin yang susah untuk diruntuhkan. Orang lalu hanya berhenti dengan percaya bahwa apa yang mereka dengar atau baca sebagai kebenaran, tetapi tidak mampu melihat atau menemukan sendiri kebenarannya.

Membaca kitab-kitab, mengumpulkan kata-kata bijak, mendengar kata guru-guru spiritual atau ahli-ahli kitab untuk mendapatkan pencerahan adalah seperti menunjuk gunung di utara dengan melihat laut di selatan. Keduanya tidak berkaitan. Hanya dengan membaca atau membatinkan kata-kata suci, batin tidak akan terbebaskan dari ketidaktahuan. Pencerahan tidak bisa dialami hanya dengan mengingat isi kitab-kitab dan memahami secara intelektual.

Pengetahuan tentang kitab-kitab justru bisa menjadi perintang terbesar untuk mengalami pencerahan. Pengetahuan intelektual itu sendirilah yang perlu diruntuhkan atau dikandaskan. Tetapi tidak ada jalan untuk meruntuhkan atau mengkandaskan. Kalaupun ada, “jalan” itu tidak lain adalah praktik kesadaran.

Tidak ada pencerahan tanpa praktik kesadaran. Tetapi janganlah mencari pencerahan dalam praktik kesadaran, karena pada dirinya praktik kesadaran sudah menunjuk pada pencerahan. Praktik kesadaran bukanlah jalan untuk mencapai pencerahan. Itu bukanlah dua hal yang terpisah. Pencerahan adalah praktik kesadaran dan praktik kesadaran adalah pencerahan.*