LS, 37 tahun, Ibu satu anak.

Saya praktisi Meditasi Tanpa Objek (MTO) sejak tahun lalu 2011. Anak saya (11 tahun) tercatat mengikuti MTO untuk anak-anak dua kali selama 60 menit tahun lalu, namun tidak melanjutkan karena tidak ada kelas lagi untuk anak-anak. Sampai umur 5 tahun, saya memberi kebebasan seluas-luasnya pada anak. Tak ada kata ”tidak” dan ”jangan”. Tayangan atau suara kekerasan atau hal-hal negatif sama sekali tidak boleh menyentuhnya. Saya harus bisa menjaga emosi saya dengan selalu menenangkan diri terlebih dahulu sebelum menemuinya. Dia adalah anak yang aktif, mandiri dan tidak pernah merepotkan. Pengasuhnya yang saya pilih adalah orang yang tenang. Kami melalui hari-hari dengan bersenang-senang.

Sebenarnya saya tidak berniat dia menjalani test IQ, namun sekolahnya secara berkala mengadakan test IQ untuk mengetahui cara belajar yang tepat bagi setiap anak. IQ nya 113-Superior, dengan dominasi otak kiri – 4. Mengikuti beberapa saran teman dan psikolog, dia pun saya kirim untuk les balet, piano dan kegiatan ekskul seni.

Beberapa tahun kemudian IQ nya naik 5 point menjadi 118-Superior, dan dominasi otaknya menjadi otak kanan 1, berarti sudah seimbang antara otak kanan dan kiri. Dari sinilah saya berpikir, simulasi untuk anak sangat penting. Berbagai upaya saya lakukan. Saya mulai mencari informasi tentang cara mendidik anak, membeli buku-buku, konsultasi hingga pada psikiater. Puncaknya saya memutuskan untuk berhenti bekerja ketika dia berumur 9 tahun supaya saya bisa total bersamanya, mengingat sebentar lagi dia akan memasuki masa pubertas.

Sekarang ini tingkah laku dan pertanyaan-pertanyaannya mulai memancing emosi. Waktu rasanya semakin kurang dan ketenangan mulai mahal. Saya selalu menilai apakah sikap, tindakan, dan keputusan saya benar atau tidak bagi perkembangannya. Menyayangi atau memanjakan menjadi bandul konflik yang tak berkesudahan. Saya sadar betul bahwa diri saya hari ini adalah akumulasi seluruh diri saya dari kecil dan itu sangat mempengaruhi cara saya dalam mendidik. Jadi, bila ada yang harus diperbaiki, yang pertama harus disentuh adalah diri sendiri.

Hubungan kami baik adanya. Dia menyayangi saya dan selalu menjaga perasaan saya setiap ada konflik, karena dia tahu persis saya mencintainya. Namun ada yang tidak beres. Nanyian saya sudah tidak menarik baginya. Dia tidak lagi tidur berpelukan. Berbicara atau berdialog menjelang tidurpun semakin jarang. Semua itu ditolak dengan cara yang sangat manis. Akhirnya saya pun kembali bekerja, karena merasa tidak ada gunanya di rumah. Dua bulan kemudian, test berikutnya menunjukkan bahwa IQ nya turun 13 point menjadi 105-normal dan tingkat ketergantungannya 94 dari angka 100. Saya terperanjat dan bertanya, ”Ke mana sifat kemandiriannya?” Psikolog-nya bilang saya harus mengurangi suasana protektif dan mendidik untuk berbagi suka dan duka. Meskipun sudah dijelaskan, saya tetap tidak mengerti bagaimana mengurangi sikap protektif ini yang sudah berlangsung selama 10 tahun.

Saat itu saya baru mengenal MTO. Baru dua kali ikut meditasi mingguan pada Saptu pagi Blok Q. Saya merasa hanya butuh dipaksa untuk duduk diam, tidak ada keinginan lainnya. Namun, tiba-tiba saya pelukan itu saya dapati lagi sepanjang malam. Dia minta mengobrol dan menyanyikan lagu sebelum tidur. Tanpa diminta dia bercerita tentang hari-harinya. Mungkin dia bisa merasakan kalau saya mulai sanggup mendengarkan tanpa reaksi. Itulah yang saya inginkan. Dia bisa menceritakan semua hal padaku, termasuk hal-hal pribadi. Saya juga sanggup berjauhan dengannya saat dia mengikuti homestay selama 2 minggu, meninggalkannya selama 10 hari untuk retret atau beberapa hari untuk meeting. Masalah IQ sudah saya lupakan; itu bukan hal yang penting lagi.

Awal tahun ini, untuk keperluan pendaftaran SMP dia harus mengikuti test IQ lagi. Sungguh mengejutkan IQ nya naik 23 point menjadi 128. Saya senang tapi saya anggap itu hanya fenomena biasa. Selama setahun ini di kelas 6, praktis saya bisa melepas semua keputusan di tangannya: apakah dia mau les atau tidak, rapi atau tidak, belajar atau tidak. Kebetulan saya juga sedang sibuk dengan kejutan-kejutan perjalanan saya dengan Tuhan, diri saya sendiri, sesama dan alam. Akhir-akhir ini saya perhatikan hidupnya juga jauh lebih tertib, bertanggungjawab, dan sibuk dengan hal-hal baru. Misalnya ia membeli gitar dan bukunya untuk dipelajari sendiri dan membaca novel anak berbahasa inggris.

Saya tidak pernah mempermasalahkan nilai, karena tidak mau memberi beban padanya. Dia sendiri sadar nilai sempurna itu tidak mungkin. Bukan karena dia tidak mampu tapi lebih disebabkan oleh ketidaktelitiannya. ”Paling tinggi nilainya 97,” katanya. Anehnya sejak selesai ujian, dia langsung mengatakan pada semua orang bahwa nilainya 100. Saya sebagai orang tua sangat khawatir dia akan kecewa bila itu tidak terjadi. Namun aku sadar, apapun yang terjadi itu akan menjadi pelajaran hidup baginya. Kecemasan itu lenyap dengan berita bahwa dia mendapat nilai sempurna 100 untuk ujian negara Matematika. Nilai rata-ratanya juga sangat memuaskan. Ketika ditanya.”Dek, kamu deg-degan nga?” Dia menjawab, ”Ngak Ma, jantungku berhenti.”

Latihan kesadaran dalam MTO ternyata bukan hanya bermanfaat bagi pribadi saya sendiri, tetapi juga memiliki dampak pengaruh yang amat baik bagi perkembangan kejiwaan dan prestasi belajar anak meskipun anak tidak mempraktikkan meditasi.

Saya menjadi mengerti tentang batin yang berfungsi secara alamiah tanpa daya upaya. Saya belajar pentingnya menjaga kesadaran diri. Jangan lalai, jangan lembek. Terima kasih kepada Romo Sudri atas pendampingannya dalam keheningan.*