Apa perbedaan pengetahuan intelektual dan pengetahuan mystical tentang Allah atau kebenaran?

Ada dua cara mengetahui, yaitu mengetahui dari “tangan pertama” dan mengetahui dari “tangan kedua”. Mengetahui dari dari tangan kedua menghasilkan pengetahuan intelektual,  sedangkan mengetahui dari dari tangan pertama menghasilkan pengetahuan mystikal.

Pengetahuan dari tangan kedua adalah pengetahuan yang berasal dari buku-buku atau apa kata orang lain. Pengetahuan tentang kebenaran atau Tuhan, kita dapatkan dengan mendengarkan kata-kata ahli kitab suci, teolog, guru spiritual, pemimpin agama, atau dengan membaca kitab-kitab suci atau buku-buku spiritual.

Pengetahuan dari tangan pertama adalah pengetahuan yang berasal dari pengalaman langsung atau pengalaman aktuil tentang kebenaran atau Tuhan. Pengalaman aktuil ini muncul dari kesadaran non-dualistik, bukan melalui proses-proses intelektuil atau proses-proses mental.

Pengetahuan dari tangan pertama disebut dengan pengetahuan mystikal, sedangkan pengetahuan intelektual atau pengetahuan spiritual atau pengetahuan agama termasuk bagian pengetahuan dari tangan kedua.

Bagaimana masing-masing jenis cara mengetahui ini bekerja?

Pengetahuan dari tangan kedua bekerja dengan kesadaran dualistic sedangkan pengetahuan dari tangan pertama bekerja dengan kesadaran non-dualistik.

Dalam kesadaran dualistic, ada pemisahan subjek-objek, si pengamat dan yang diamati, si pengenal dan yang dikenal. Misalnya, Anda mengenal Allah lewat kitab suci. Allah sebagaimana dikatakan kitab suci adalah “yang dikenal” dan Anda sebagai orang yang membaca dan memahami kitab suci adalah “si pengenal”nya.

Pengetahuan mystikal terjadi ketika tidak ada lagi kesadaran dualistic subjek-objek. Allah tidak bisa dipahami sebagai objek (yang dikenal) dari subjek (si pengenal). Agar Allah yang pada hakekatnya “tak-bisa dikenal” bisa dialami secara aktuil, maka “si pengenal” harus berakhir. Ketika si pengenal runtuh, yang dikenal juga tidak ada lagi. Ketika si pengenal dan yang dikenal keduanya runtuh, maka hanya ada mengetahui atau mengalami secara aktuil di luar batas-batas intelektual.*