AB, 47 tahun.

Tadinya aku pikir kesadaran meditatif telah meresap dalam diriku walaupun aku amat sangat jarang mengambil waktu khusus untuk diam. Ternyata aku belum apa-apa, masih sangat dangkal, dan tipis pengalaman. Aku bahagia ketika aku bisa memperoleh segala hal yang dapat kunikmati. Mungkin itu yang disebut sensasi. Rasa syukur, bahagia, dan kepuasan sesungguhnya semu. Semua perasaan itu hanya aku rasakan ketika aku dalam kondisi baik-baik saja. Ketika aku dikondisikan pada posisi terbawah, sulit bagiku untuk tidak terlarut dalam kondisi tersebut.

 

Dalam lima hari liburan penjelajahanku di tanah orang, sekian detik atau sekian menit dalam perjalanan aku bisa mencuri waktu untuk berdiam diri. Seperti biasa duduk diam bukan berarti seluruhnya kosong tapi pikiran timbul tenggelam. Kadang aku terseret jauh kemudian hening, kadang timbul sejenak dan tersadar lagi.

 

Itulah yang aku alami dan mungkin membuat aku bisa menikmati perjalanan itu sekalipun udara panas dan fasilitas yang tersedia sederhana saja. Banyak hal indah yang aku rasakan. Persaudaraan dan pelayanan yang bagiku tampak tulus, karya-karya dari para pelayan Tuhan yang sungguh-sungguh sangat membangun, hingga alam raya ciptaan Tuhan yang demikian indah di tanah air itu. Mungkinkah kepekaan akan keindahan dan kebaikan dari suatu keadaan dan peristiwa itu timbul dari kebiasaan menyadari diri, atau sekedar sensasi, atau bisa juga sudah ada dalam pribadi-pribadi tertentu sejak dilahirkan?

 

Hanya selang lima hari kemudian, euphoria keindahan berubah dalam bentuk musibah. Aku terjatuh di tangga dan kakiku patah. Ternyata hidup dengan rasa sakit tidak mudah kujalani. Menyadari penderitaan sebagai penderitaan apa adanya amat sulit karena ada keinginan yang sangat kuat untuk segera mengakhiri penderitaan.

 

Aku dilanda ketakutan kalau-kalau tidak bisa berjalan lagi. Aku resah karena sebagian anggota tubuh tidak dapat digerakkan. Aku ingin sekali tidur dengan cepat tapi justru keinginan itu sangat menyiksa. Aku tahu kalau aku terseret dalam pikiran-pikiran dan emosi akan menambah sulit keadaan, maka aku mencoba menghilangkan perasaan itu. Namun usaha itu justru membuat aku semakin tidak nyaman karena bukan saja fisik tidak mendukung tapi pikiran dan perasaanpun ikut bergumul.

 

Seketika aku sadar batinku kacau. Pikiran dan ego tidak pernah diam.  Aku dipenuhi ketakutan, kekuatiran, keinginan, kekecewaan.

 

Deritaku tidaklah berarti bila dibanding orang-orang lain yang lebih parah yang tidak tertangani bahkan terabaikan. Mereka tidak pernah meditasi, tidak mengerti arti keheningan, namun mungkin mereka mampu melewati semua derita mereka dalam diam.

 

Akankah diriku sungguh-sungguh hening dan batinku benar-benar diam?