CW, 58 tahun, Psikolog Senior.

Sulit untuk mulai menulis dari mana. Sepulang retret meditasi 1 Januari 2012, saya dipenuhi semangat untuk menuliskan pengalaman semasa retret. Namun semangat itu amat simpang siur. Ada semangat ingin berbagi. Lalu ada perasaan bahwa semua itu hanyalah ego yang ingin memperkuat diri. Ada keraguan apakah memang pantas. Semua konflik batin ini menutup realisasi keinginan menulis.

Lalu saya membaca buku Titik Hening – Meditasi Tanpa Objek. Di situ saya menemukan semua pergolakan, keraguan, dan jawaban atas beberapa kebingungan. Juga menemukan sharing yang serupa dengan pengalaman pribadi saya.

Selanjutnya terlarut dalam kehidupan yang harus dihadapi dari hari kehari.

Yang saya temukan kemudian adalah saya jatuh berulang-ulang dalam depresi. Saya pernah sharing lewat sms kepada Romo pada saat puncak depressi sekitar dua bulan yang lalu. Rasanya semua cara dan jawaban sudah ada. Tidak banyak yang perlu dipersoalkan kalau kita mau diam dan menyadari pikiran dan perasaan yang bersumber pada si aku. Persoalannya adalah bagaimana membuat itu terkait dengan kehidupan yang aktuil saat ini dan menjadi jujur dengan semua pergumulan batin yang ada.

Saat ini saya mengalami periode yang menyakitkan melihat segala sesuatu yang selama ini diupayakan sungguh hanya berpusat pada ego. Betapa menyakitkan melihat semua kelekatan dan kesakitan yang diakibatkannya. Betapa memalukan melihat gerakan-gerakan si ego yang manipulatif, mencoba tawar-menawar apakah betul semua itu harus dilepaskan.

Sms Romo yang mengatakan “keep experiencing without the experiencer” (alamilah tanpa si pengalam) sungguh menantang. Pergumulan terus berlangsung karena si ego mau terus “ngganduli”. Betapa susahnya proses de-flatting (menggembosi) the ego…

Terimakasih Romo. Salam hangat.

CW