Mei 2012 akan genap satu tahun mengikuti bimbingan Meditasi tanpa Objek. Pada mulanya penuh tanda Tanya. Lambat laun mulai terpahami apa yang dimaksud dengan Meditasi tanpa Objek. Kalau masih ada yang belum begitu jelas, buku-buku Meditasi sebagai pembebasan diri (Kanisius 2011), Revolusi Batin (Kanisius 2009), dan Titik Hening  (Kanisius 2012) dapat membantu menuju pemahaman. 

Sudah dua kali saya mengikuti retret meditasi dengan suasana silentium, tapi belum berani ikut walking meditation menuju air terjun Cibeureum. Saya masih enggan karena berangkat jam 03.00 pagi, selain tidak mengerti apa manfaatnya pergi ke air terjun.

 Tiap kali diajak, saya selalu menolak. Tapi kali ini jadi ikut juga, dengan harap-harap cemas.

Berangkat dari gereja Santa jam 21.30, tiba jam 23.00 di Cibulan dengan iring-iringan dua mobil. Lalu istirahat sebentar untuk kemudian berangkat pada jam 03.30 menuju air terjun.

Persiapan dari rumah berupa tongkat bambu, batere dan air minum. Lalu pakaian yang cocok dengan udara dingin.

 Kami berdelapan orang mulai naik. Lingkungan sekeliling masih gelap gulita. Tapi semuanya baik-baik saja. Saya mulai walking meditation. Langkah-langkah pertama langsung menelusuri undakan batu-batu kali. Permukaannya tidak rata; ada yang besar sekali ada juga yang kecil.

 Kami berjalan berdua-berdua karena jalannya sempit. Tongkat bambu dan senter batere merupakan teman sejati. Memang beda, bangun melek mata pada jam 03.30 atau berada di jalanan berbatu kali pada jam 03.30. Tidak ada bayangan berapa lama harus naik atau turun. Muncul pikiran, kapan bisa sampai di air terjun? Just keep going. Setelah setengah jam naik terus, napas mulai pendek. Lalu teringat ajaran yoga. Kalau mulai tersengal-sengal, stop sebentar, tarik napas dalam-dalam (inhale) beberapa kali. Lalu berjalan naik lagi. Lagi-lagi anak tangga. Undakan-undakan ada yang tinggi, ada juga yang rendah. Selama setengah jam berikut badan mulai gemetar. Terasa lelah sekali dan tidak tahu sudah sampai di mana. Tetesan keringat sudah deras sekali, masuk mata masuk telinga.

 Tidak ada tanda penunjuk jalan, tidak ada marka-marka lain sebagai indikasi posisi.  Romo Sudri terus mendampingi sampai saya berujar, “Please Romo, silahkan jalan terus, saya akan menyusul. Saya tidak mau jadi hambatan. Pasti tidak kesasar karena tidak ada jalan lain menuju air terjun. So don’t worry.”

 Tapi Romo Sudri bagai batu karang, tidak bergeming, kokoh, disamping terus.  Kalau berhenti untuk istirahat, kuatir tidak naik lagi. Jadi saya tidak mau duduk.  Carry on or Give up?  Romo Sudri mengatakan, “Ya tidak dapat apa-apa kalau berhenti atau balik.” Jadi jalan terus. Naik lagi. Lagi-lagi tangga batu tidak beraturan.  “Dengarkan suara gemericik air”, kata Romo. Saya sudah mendengar dari tadi suara air, tetapi tetap saja belum kelihatan air terjunnya.

 Sepertinya ada pertempuran mental dalam diri setiap kali langkah kaki menjangkau undakan-undakan. Bagaimana mau give up karena Romo Sudri tetap disamping. Tiap sel dalam tubuh sudah mengeluarkan tetesan keringat. Pada akhirnya pertempuran batin mereda, pikiran mereda. Hanya ada satu langkah disusul langkah berikut. Melangkah begitu saja, wherever it may go. Dan pada saat itu gunung sudah nampak, begitu juga air terjun.  Saya sampai.

 In gratitude Romo Sudri, for your patience, your guidance, and for not giving up on me.

 LP, 68 tahun.