Meskipun kita dididik sejak kecil untuk mengalahkan kejahatan dan memupuk kebaikan, batin kita tidak sungguh-sungguh bebas dari kejahatan dan tidak sungguh-sungguh mekar dalam kebaikan. Pergulatan untuk mengalahkan kejahatan dan memupuk kebaikan terus akan berlangsung sampai tua dan belum akan berakhir sebelum timbul kesadaran baru bahwa pergulatan ini sama sekali sia-sia.

Mengapa batin tetap gampang jatuh dalam kejahatan meskipun kita sudah berjuang untuk menghindari atau mengalahkan? Mengapa batin tidak mekar dalam kebaikan meskipun kita sudah berjuang dalam waktu yang lama? Mengapa pergulatan ini tidak menghasilkan perubahan yang mendasar?

Apa yang jahat dan apa yang tampak baik—tapi tidak sungguh baik—belum akan runtuh selama ego masih bercokol. Ada ego yang berjuang untuk mengubah diri-aktual menjadi diri-ideal, ada ego yang ingin menghindari atau mengalahkan kejahatan, ada ego yang bergulat untuk memupuk kebaikan.  Kebaikan yang sesungguhnya hanya terjadi kalau ego diruntuhkan, sebab ego adalah akar segala kejahatan.

Tanpa batin yang diam, kebaikan yang sesungguhnya tidak akan mekar dan kejahatan terus tumbuh seperti pohon berduri. Sebaliknya, batin yang diam memungkinkan energy kejahatan terpatahkan dan kebaikan yang sesungguhnya menjadi mekar. Kapankah batin harus sungguh-sungguh diam?

Ketika muncul dorongan atau tekanan dalam batin,

Berupa nafsu keinginan untuk dipuaskan,

Janganlah bertindak apa-apa.

Diam, janganlah bicara,

Seperti sebatang pohon di tengah hutan.

 

Ketika muncul dorongan atau tekanan dalam batin,

Berupa api kebencian untuk dilampiaskan,

Janganlah bertindak apa-apa.

Diam, janganlah bicara,

Seperti sebatang pohon di tengah hutan.

 

Ketika muncul dorongan untuk mencari pujian,

Atau keinginan untuk mencela, merendahkan atau merugikan orang lain

Atau keinginan untuk menggunakan kata-kata kasar, mencari-cari perkara untuk berkelahi,

Diam, janganlah bicara,

Seperti sebatang pohon di tengah hutan.

 

Ketika batin menjadi kacau atau liar karena kepentingan diri,

Atau dipenuhi kesombongan dan keangkuhan,

Atau dipenuhi rasa rendah diri, cemburu, dan iri hati,

Ketika ada keinginan untuk mengorek-orek kesalahan orang lain yang tersembunyi,

Atau keinginan untuk mengungkit pertikaian lama atau berkata dusta,

Pada saat itu, haruslah diam,

Seperti sebatang pohon di tengah hutan.

Lihatlah sebatang pohon di tengah hutan. Ia tetap diam tak bergeming meski diterpa angin sepoi-sepoi di malam hari atau di pagi dini hari. Ia tetap diam tak bergeming meski digoncang angin badai berhari-hari. Ia tetap diam tak bergeming meski diguyur hujan atau dibakar panas setiap hari. Batin yang diam seperti sebatang pohon di tengah hutan adalah batin yang tidak terprovokasi oleh nafsu keinginan, kebencian, dan kepentingan diri.

Sekurang-kurangnya ada lima moment krusial yang membutuhkan perhatian penuh kesadaran.

Pertama, saat awal terjadi goncangan batin oleh nafsu keinginan atau kebencian, suka atau tidak suka. Lihatlah apa yang terjadi dengan batin ketika muncul nafsu keinginan atau kebencian? Bukankah batin tergoncang? Apakah muncul dorongan atau tekanan untuk melakukan sesuatu? Saat terasa ada goncangan oleh cinta atau benci, saat itu tepat untuk berdiam seperti sebatang pohon di tengah hutan. Jangan mengobarkan rasa suka atau tidak suka dengan pemikiran-pemikiran. Kalau batin diam, energy yang bergerak ini akan lewat tanpa menciptakan gangguan.

Kedua, saat pemikiran sudah berjalan tapi belum mencapai momentumnya yang membuat emosi menyala atau meledak. Dengan menyadari gerak pikiran, bukankah pikiran berhenti? Pikiran yang terhenti menimbulkan jeda sebelum pikiran yang lain muncul. Jeda pikiran ini memecah kekuatan emosi yang nyaris terbangkitkan. Tidak ada emosi yang bergerak sendiri tanpa pengaruh pikiran. Dengan menyadari pikiran dan membuatnya berhenti secara alamiah, gerak emosi dengan sendirinya juga berhenti.

Ketiga, saat pikiran bergerak dan mulai memenjara batin. Kalau pikiran yang bergerak tidak disadari, maka pikiran memberikan pasokan energy bagi emosi dan kekuatan emosi menjadi meningkat, menyala atau meledak. Biarkan saja emosi mekar. Pada saat yang sama, cobalah menyadari  pikiran-pikiran halus yang sudah bergerak dan yang memberi pasokan energy pada emosi. Sadari dalam-dalam keterbelengguan batin oleh pikiran dan emosi hingga kekuatan pikiran dan emosi memudar dengan sendirinya. Tidak ada kata terlambat untuk menyadari pikiran dan emosi dan membiarkan kekuatan pikiran dan emosi melemah dan berhenti secara alamiah.

Keempat, saat sudah muncul niat atau kehendak untuk berbicara atau bertindak. Sebelum berbicara atau bertindak, sadarilah niat atau kehendak. Janganlah berbicara atau bertindak sebelum niat atau kehendak tertangkap kesadaran. Dengan menyadari niat atau kehendak dan membiarkannya berhenti, ledakan pembicaraan atau tindakan jahat karena pasokan energy pikiran dan emosi bisa dihindari atau berkurang intensitasnya. Ketika tidak lagi ada niat atau kehendak, ketika tidak ada lagi pikiran atau emosi yang membelenggu, Anda bebas berbicara dengan batin yang diam.

Kelima, saat tindakan jahat sedang berlangsung dan Anda tersadar bahwa tindakan tersebut membuat orang lain dan diri Anda sama-sama menderita. Rasakan kegalauan batin, kekacauan, konflik, pergulatan, pembuangan energy, dan keletihan.  Menyadari dan memahami seluruh gerak kekacauan ini memungkinkan tindakan jahat seketika berhenti.

Latihan berdiam seperti sebatang pohon di tengah hutan bukanlah latihan mengendalikan diri, bukan menekan atau membuang kekuatan-kekuatan negative dalam diri, melainkan latihan memberi perhatian penuh kesadaran pada apa saja yang Anda alami. Batin yang berhenti bergerak, betapapun hanya sejenak, membuat pasokan energy yang mengobarkan api kejahatan juga berhenti.

Kebaikan yang sesungguhnya terjadi ketika kejahatan seluruhnya berhenti. Kebaikan sebagai lawan dari kejahatan masih tetap mengandung sisi lawannya. Oleh karena itu, kebaikan sebagai lawan dari kejahatan juga musti seluruhnya berhenti.

Selama ego masih bercokol, maka kejahatan masih tetap ada. Ketika ego runtuh, maka kejahatan lenyap. Ketika kejahatan seluruhnya lenyap dari batin kita, maka kebaikan yang sesungguhnya terlahir. Kebaikan yang masih digerakkan oleh ego bukanlah kebaikan. Kebaikan yang masih memperkuat kepentingan diri bukanlah kebaikan.

Inti perkaranya bukanlah bagaimana caranya kita bertindak baik, tetapi bisakah ada kesadaran-diri dari saat ke saat dan membiarkan kesadaran itu bertindak. Tidak adanya jeda antara kesadaran dan tindakan, menutup masuknya ego sebagai akar kekuatan kejahatan. Dengan demikian dalam setiap tindakan—melihat, mendengar, berbicara, bekerja, dst– terdapat kemungkinan mekarnya kebaikan ketika ego dilepaskan.

Tanpa kesadaran-diri, ego bisa menyusup dalam tindakan jahat atau tindakan baik. Oleh karena itu dalam setiap tindakan, kita bisa bertanya, apakah tindakan tertentu berjalan sebagai moment penguatan diri atau moment pelepasan diri. Kejahatan diperkuat ketika tindakan menjadi moment penguatan diri. Sebaliknya, kebaikan diperkuat ketika tindakan menjadi moment pelepasan diri.*