Stress merupakan salah satu factor yang banyak menyebabkan tubuh sakit dan tubuh yang sakit bisa menyebabkan stress. Ada banyak masalah kesehatan yang disebabkan stress, misalnya, rasa sakit di bagian-bagian tubuh, sakit jantung, masalah pencernaan, insomnia, obesitas, perubahan warna kulit, berbagai penyakit karena kurangnya kekebalan tubuh.

Marilah kita bertanya bersama-sama, bisakah kita hidup sehat dan utuh setiap hari? Bisakah kita menghadapi stress-stress kita dan mengakhirinya setiap hari tanpa proses pergulatan panjang melalui pengendalian diri? Bisakah kita hidup sehat dan utuh setiap hari tanpa stress dan pengendalian diri?

Stress adalah reaksi syaraf terhadap suatu perkara atau tantangan. Kalau kita menghadapi suatu perkara atau tantangan dengan sikap menolak atau melawan, maka kita akan mudah stress. Tubuh dan batin menjadi tegang. Hormon-hormon stress, seperti adrenalin dan kortisol, menjadi meningkat dan bisa mempengaruhi suasana hati, merusak hubungan pribadi, menciptakan problem kesehatan, menurunkan tingkat produktivitas kerja, dan mempengaruhi kualitas kita menjalani hidup.

Meskipun menderita stress, belum tentu orang insyaf bahwa dirinya sedang stress. Orang bisa merasa baik-baik saja, meskipun stress sudah mencapai tingkat yang akut. Itu seringkali terjadi ketika orang terobsesi oleh sukses atau oleh tujuan tertentu yang membuat orang tidak menyadari keadaannya sekarang. Konsentrasi orang tertuju jauh ke depan, yaitu tujuan atau sukses yang diidam-idamkan, dan orang lupa pada moment sekarang. Semakin besar ambisi akan sukses, semakin kuat tujuan dikejar, dan semakin jauh tujuan atau sukses itu tidak bisa dicapai, maka semakin besar stress mendera.

Pada tingkatan tertentu, stress dianggap berguna karena memberi energy yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Stress dianggap wajar kalau orang ingin mendapatkan apa yang ingin dicapai. Dalam kenyataan, energy yang muncul dari stress justru membahayakan tujuan yang sesungguhnya ingin dicapai.  Kalau Anda menolak atau melawan dengan tujuan supaya bebas dari belenggu batin, maka Anda tidak akan pernah mencapai tujuan. Apa saja yang Anda tolak atau lawan, justru akan tetap ada dan mengganggu Anda. Kalau Anda berambisi untuk mencapai sukses supaya Anda bahagia, maka kebahagiaan tidak akan pernah Anda dapatkan karena kebahagiaan yang sesungguhnya tidak berada di masa depan ketika sukses tercapai lewat pergulatan, tetapi sudah ada pada moment sekarang. Dengan demikian, stress justru menjauhkan dari tujuan yang sesungguhnya ingin dicapai.

Stress perlu kita kenali saat kemuncullanya sebelum berkembang menjadi besar dan menguasai diri kita.  Gejala-gejala berikut ini bisa merupakan manifestasi dari stress.

  • Gejala kognitif: mudah lupa atau daya ingat menurun, daya konsentrasi berkurang, daya penalaran terganggu, cenderung melihat sisi negative, sering ngalamun atau pikiran kosong.
  • Gejala emosi: suasana hati atau perasaan mudah berubah-ubah, mudah tersinggung atau marah, cepat tegang atau tidak relaks, cenderung menguasai, merasa kesepian atau terasing, merasa tidak bahagia, merasa cemas dan gelisah.
  • Gejala fisik: sakit di bagian tertentu seperti sakit kepala, terasa melayang-layang, sakit pada lambung, sakit pada leher, sakit pada dada, jantung berdetak kencang, diare, loyo atau kehilangan gairah.
  • Gejala perilaku: makan terlalu banyak atau terlalu sedikit; tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit; menggunakan alcohol, rokok, atau narkoba untuk relaksasi; perilaku cemas, misalnya menggigit kuku, jalan mondar-mandir tampak bingung; menarik diri dari pergaulan; lupa tanggung-jawab atau terlalu obsesif pada tanggung-jawab.

Masalah-masalah di luar batin bukanlah akar penyebab stress, tetapi bisa memicu munculnya stress. Faktor-faktor eksternal itu sendiri beragam. Misalnya: perubahan siklus hidup seperti dari usia anak-anak ke usia remaja, dari usia produktif ke usia pensiun; masalah di tempat kerja, kesulitan dalam relasi pribadi, masalah financial, terlalu sibuk, masalah dalam rumah tangga, masalah di lingkungan masyarakat, kemacetan lalu lintas.

Batin belum akan bebas dari stress hanya dengan menjauhkan faktor-faktor pemicunya tanpa menyelesaikan akarnya. Akar penyebab stress tidak lain adalah pola batin yang menolak atau melawan apa yang tidak disukai, ambisi mengejar hasil atau sukses, kaku atau tidak lentur terhadap gerak perubahan, pola batin yang memupuk harapan, gerak batin yang menjauh dari “apa adanya” dan mengejar “apa yang seharunya”.

Ada banyak cara atau teknik untuk meredakan stress. Misalnya: mengunjungi atau berhubungan dengan teman atau keluarga yang hangat; mengembangkan sikap dan pandangan yang benar dalam menghadapi tantangan; memiliki sense of humor, tidak kaku terhadap perubahan; memiliki hidup spiritual yang sehat; rutin olah raga, melakukan aktivitas fisik, relaksasi, mempraktikkan meditasi ketenangan atau penyembuhan, mempraktikkan yoga atau tai chi; memiliki kemampuan mengontrol emosi.

Berbagai teknik di atas bisa meredakan atau mengurangi stress, tetapi tidak cukup membuat kita sungguh-sungguh bebas dari stress. Periksalah batin Anda. Saat stress menyerang, apakah Anda tidak cepat mengenali dan butuh waktu lama untuk bebas darinya lewat berbagai daya upaya?

Apakah Anda dengan mudah dibelenggu kebencian atau kemarahan dan lama dalam melepaskan? Apakah Anda amat tergantung orang lain, seperti teman atau keluarga, untuk membuat Anda merasa tenang di saat-saat sulit?  Apakah Anda sering terganggu atau tergoncang batinnya terhadap hal-hal yang tidak Anda suka? Apakah Anda sering tidak bersemangat (loyo, lumpuh), agresif (marah), atau menarik diri (isolative) ketika datang masalah? Apakah Anda memiliki masalah emosi atau masalah pribadi dan Anda tidak melihat perubahan yang signifikan lewat upaya pengendalian emosi atau pengendalian diri?

Kalau jawaban Anda “ya”, maka teknik-teknik yang Anda praktikkan tidak membuat Anda sungguh bebas dari stress. Pengendalian emosi atau pengendalian diri tidak membuat kita bebas stress. Mengapa demikian?  Adakah pendekatan lain yang mampu membuat kita sungguh-sungguh bebas stress?

Pengendalian emosi atau pengendalian diri sesungguhnya adalah pembuangan energi. Ini terjadi karena ada jarak antara apa yang dikendalikan dengan si pengendali, apa yang dikontrol dengan si pengontrol. Ketika terjadi jarak antara si pengendali dan apa yang dikendalikan, maka terjadi konflik atau pergulatan dan konflik ini membuang-buang energy.

Si pengendali sesungguhnya tidak berbeda dari apa yang dikendalikan. Keduanya tidak berbeda. Bisakah melihat dengan kesadaran tanpa si pengontrol atau si pengendali? Bisakah menyadari proses batin yang mengendalikan diri tanpa si pengendali? Bila tidak ada pemisahan antara si pengendali dan apa yang dikendalikan, maka tidak ada friksi. Ketika tidak ada friksi, maka juga tidak ada pembuangan energi. Ketika tidak ada pembuangan energi, maka stress atau emosi tidak lagi mengganggu Anda.

Biarkan emosi mekar, meledak, dan berhenti secara alamiah, tanpa dikurangi atau ditambah. Mekarnya emosi adalah pengakhiran emosi. Mekarnya stress adalah berakhirnya stress. Selama batin diam, tidak mengontrol, tidak mengendalikan, maka emosi atau stress yang disadari dalam kejernihan tidak lagi memiliki energi untuk membesar, bahkan berhenti bergerak atau menurun intensitasnya, dan lenyap begitu cepat.

Ada pengendalian diri dan ada penyadaran diri. Pengendalian diri bekerja kalau tidak ada kesadaran diri. Kalau ada kesadaran diri, pengendalian diri tidak ada. Bisakah kita menjalani kehidupan sehari-hari tanpa pengendalian diri, yang berati hidup sadar-diri setiap hari? Bisakah stress dan penderitaan berakhir setiap hari tanpa pengendalian diri?*