LS, 36 tahun, karyawan swasta, Jakarta.

 

Pada kesempatan dialog bersama semua peserta di hari terakhir, kami mendapatkan pertanyaan, “Apa yang membuat kami mengikuti retret untuk yang kesekian kalinya?” Saya bersyukur mendapatkan pertanyaan ini sehingga saya pun memperoleh jawaban untuk saya sendiri. Intinya adalah, “Setiap kali meditasi selalu ada pemahaman baru yang muncul. Bahkan setiap kali saya merasa sudah selesai atau tuntas, ternyata selalu masih ada hal yang lebih fundamental lagi yang siap dituntaskan.” Itu terjadi setiap hari, tidak hanya selama retret saja. Hanya ada beberapa perbedaan:

 

  1. Dalam kehidupan sehari-hari banyak objek yang terlalu cepat runtuh sebelum terpahami secara utuh, mungkin karena kesibukan kita, atau sengaja mengabaikannya, atau memang sungguh tidak menyadarinya. Tidak heran apabila objek yang sama akan kembali dan kembali lagi, bahkan kadang mengakibatkan kebocoran energi atau membangkitkan sensasi tubuh lainnya. Sedangkan keheningan yang panjang selama retret membuat hal-hal yg lebih halus tertangkap, sehingga dapat diolah lebih serius dan runtuh dengan sempurna.
  2. Adanya pendamping untuk berkonsultasi, membuat kita tidak ragu mengolah objek-objek yang mungkin menurut pikiran kita berat.
  3. Situasi dan teman-teman yang baru ditemui, dapat menjadi alat yang ampuh guna mengecek kembali batin dan memancing kotoran-kotoran batin untuk diolah lebih lanjut. Jadi bila ada ketidakpuasan dengan situasi yang ada, itulah teman spiritual terbaik Anda ke depan.
  4. Sharing pada saat dialog bersama dapat menambah wawasan, semangat, atau bahkan objek baru yang dapat kita olah.
  5. Terkadang teori yang telah kita baca dan kita kira sudah terpahami, ternyata belum tuntas terealisasi.
  6. Suasana hening yang menciptakan rasa yang beda, tanpa waktu, media, alat komunikasi, kesederhanaan dan kebersamaan membuat saya merasakan liburan yang sesungguhnya.

 

 

Pertanyaan terakhir dari Romo Pembimbing pada akhir retret yang lalu adalah apakah saya sudah bisa mengenali munculnya “si aku”. Jawaban saya saat itu adalah saya belum bisa mengenalinya. Namun yang bisa saya lakukan hanyalah menjaga kesadaran dari waktu ke waktu, karena saat itu saya merasa hal yang paling fundamental sudah tertuntaskan. Saat itu Romo tidak mengatakan hal itu benar atau salah, tetapi hanya mengingatkan bahwa buku saya masih banyak yang belum terbaca. Dalam hati saya berkata, “Saya malas membacanya.” Bagi saya, semua ini sudah lebih dari cukup.

 

Ternyata suka tidak suka, mau tidak mau, kita memang pasti akan membacanya. Penundaan karena ketidaktahuan hanya akan menyebabkan kebocoran energi walaupun manfaat meditasi tetap saya alami. Misalnya, dalam beberapa bulan ini, batin saya diuji. Saya telah dimampukan berhadapan dengan phobia naik pesawat dengan mendadak harus naik pesawat yang rusak. Namun kali ini saya yang minta pesawat itu terbang walau banyak penumpang lain yang minta pesawat itu diganti.

 

Masih banyak pengalaman lain seperti menghadapi phobia menengok orang sakit, terombang-ambing di tengah badai dengan sampan, bertemu dan berhubungan dengan orang-orang yang saya hindari, melakukan perjalanan sendiri, naik gunung, kesehatan yang sempurna, orang-orang terbantu tanpa saya rencanakan. Yang terakhir sebelum retret adalah saya terdampar berlibur di kota yang saya hindari bertahun-tahun. Semua itu saya sadari ketika tiba-tiba sudah ada di situasi itu dan semua itu membuat saya terheran-heran, “Kok bisa ya?”

 

Saat dialog bersama, saya bertanya, “Setelah ini terus apa?” Romo jawab, “Ya kamu mau apa lagi?” Ya, saya mau apa lagi karena semua sudah terselesaikan. Namun ada perumpamaan yang sangat tepat, yaitu tentang bunga lotus yang kotorannya mengendap sehingga tampak bening airnya. Namun bila potnya digoncang, maka airnya akan menjadi keruh kembali. Bunga lotus selalu bening di pagi hari, sebelum ada goncangan. Batin yang tenang atau datar bukan berarti tidak ada apa-apa. Justru kita harus lebih sadar agar hal-hal yang lebih halus menampakkan dirinya.

 

Malam hari setelah dialog tersebut, pundakku terasa panas. Rasa nyeri dipundak menyerang. Saya mengenalinya. Saya tahu inilah saatnya. Dengan percaya diri saya berniat mengolahnya malam itu juga karena besok sudah hari ke-5 atau sudah tidak ada waktu lagi. Terbersit keluhan pada Romo Pembimbing, mengapa baru sekarang pot lotusku digoncang? Hingga ngantuk dan lelah datang, saya tidak mendapatkan apa-apa, padahal seluruh titik tempat yang pada retret terdahulu menjadi favoriteku menangis kudatangi. Aneh, batin tetap hening. Tidak ada airmata sama sekali. Sempat gugup karena sensasi di tubuhku tak bisa berbohong. Akhirnya saya sadari bahwa saya sudah terseret oleh waktu. Saya tegang dan takut besok tak sempat lagi mengolahnya. Saya teringat lotus bening di pagi hari dan apa artinya waktu. Dalam pengalamanku, kesadaran atau pemahaman tidak kenal waktu.

 

Pagi harinya, ketika kami semua bermeditasi di balkon lantai 3, benar saja, tiba-tiba saya paham pada “si aku” yang hendak pergi setelah beberapa bulan ini seluruh eksistensinya aku hilangkan dengan kesadaran jangka pendek. Beberapa bulan ini saya tidak pernah meditasi secara khusus di rumah. Saya menganggap setiap saat itulah meditasi. Semua yang muncul langsung saya sadari dan saya biarkan runtuh, sehingga entitas lain yang menyertainya tidak pernah tersentuh sama sekali. Inilah yang membuat kebocoran energi yang kadang terjadi dalam beberapa bulan ini. Ada perang batin di sana. Diri berusaha tetap eksis dengan segala perhitungan untung ruginya. Saya pun segera mengadakan rekonsiliasi dengan “si aku”, bahwasanya saya tidak pernah berniat menghilangkannya. Apalagi mengingat jasanya selama ini, dia sudah bekerja keras melindungi hatiku, dan saya sangat bangga dengannya atas apa yang telah kami capai bersama. Saat ini saya hanya ingin “si aku” tidak bekerja terlalu keras lagi dan menjalani hidup yang berbeda, yang lebih tenang dan berkualitas, sama seperti yang pernah saya janjikan dulu walau saat itu belum tahu bagaimana caranya. Kini saya sudah tahu caranya. Saat ini adalah saat paling tepat menjelaskan kepada “si aku”. Cukup lama saya menahannya, menjelaskannya, merayunya. Syukurlah semuanya selesai pas jam makan pagi.

 

 

Saya baru mengerti mengapa lima tahun yang lalu seorang pendoa mengirimkan sms pada saya, “Dear, jangan jalani hidup ini dengan keras. Kau berusaha mengalihkannya sehingga terbawa dan terlihat jelas ke dalam aspek kehidupanmu sehari-hari.” Saat itu saya tidak mengerti sama sekali. Saya merasa semuanya baik-baik saja dan saya anggap itu hal yang mengada-ada. Bagaimana mungkin hidup tanpa perjuangan? Semua dialog tidak ada gunanya bila tidak mengolah hati terlebih dahulu.

 

Keesokan harinya pemahaman lain muncul. “Si aku” tidak bisa diruntuhkan oleh keinginan kuat untuk meruntuhkannya dari waktu ke waktu. Biarkan “si aku” memiliki kesempatan yang cukup baginya untuk muncul, hingga suatu saat runtuh dengan sendirinya dengan sempurna. Kuda liar membutuhkan ruang untuk bertarung dan ada saatnya berhenti dengan sendirinya.

 

Kini saya mengerti bagaimana menjalani hidup dalam kepenuhan, bekerja bukan lagi dengan daya upaya, mengejar target, memuaskan keinginan, menguras pikiran, melainkan bekerja dengan hati, sukacita, dan damai karena memahami nilai pekerjaan pada dirinya. Di satu pihak, saya berikan ruang pada “si aku” untuk bekerja dan di lain pihak saya memberikan waktu meditasi yang lebih teratur. Sejak pulang dari Retret saya tidak pernah mengalami kebocoran energi lagi sampai sekarang.

 

Saat ini bagi saya inilah yang paling fundamental. Entahlah esok.

 

Bertemu dengan teman-teman yang baru pertama kali mengikuti retret mengingatkan keadaan saya saat pertama kali mengikuti retret. Ada kebahagiaan yang tak terjelaskan saat mereka datang terburu-buru dan berbisik bahwa mereka telah mengalami Titik Hening. Opssss…!*