LJ, 41 tahun, Dokter Gigi, Tangerang.
Kisahnya berawal dari seminar “Meditasi sebagai Pembebasan Diri. Setelah membaca bukunya, yang juga berjudul Meditasi sebagai Pembebasan Diri, timbul keinginan untuk memahami lebih jauh. Saya lalu mendaftar retret meditasi 7 hari di akhir tahun 2011.Tidak mudah memutuskan untuk pergi karena selama ini saya tidak pernah pergi sendiri meninggalkan suami dan anak-anak saya di rumah. Tapi tekad saya sangat kuat sekalipun rasanya agak berat. Saya tidak tahu apa yang saya cari tapi saya ingin mencoba.

 

Dalam dialog pada hari pertama saya mengatakan tidak menemukan apa-apa. Lalu Romo mengatakan, “Siap-siap saja, nanti ada sesuatu yang tiba-tiba meledak”. Hari kedua setelah makan siang perasaan saya sesak. Sepertinya saya ingin memberontak. Saya heran mengapa perasaan ini tiba-tiba muncul lagi di sini. Padahal masalah ini sempat terlupakan setelah mengalaminya 3 kali di sekitar awal tahun. Sore hari sebelum sesi dialog, saya duduk meditasi. Yang terjadi malah guncangan perasaan yang membuat saya tidak bisa menahan air mata sehingga saya menangis saja sepuasnya. Setelah menangis rasanya lega. Kelegahan ini berlanjut pada meditasi malam. Rasanya ada  kelegaan yang sangat dalam, kedamaian dan sukacita yang dalam, sampai-sampai seluruh badan bergerak seolah-olah mengiringi alunan musik yang sangat merdu. Hal ini masih berlanjut pada meditasi pagi keesokan harinya.

 

Pada hari ketiga setelah makan siang saya melakukan walking meditation di lantai 3. Di situ saya menemukan terang kesadaran yang lagi-lagi menguras air mata saya. Malamnya setelah meditasi, saya tidur lebih awal. Sebelum bel tidur dibunyikan, di luar dugaan, suatu kesalahan saya buat. Saya tidak sadar sudah berapa lama saya tertidur. Begitu terdengar bunyi bel, saya cepat-cepat cuci muka lalu bergegas ke ruang meditasi. Saya pikir saya terlalu cepat datang dan teman-teman yang lain belum datang. Ada satu teman yang keluar dari kamarnya untuk bermeditasi. Kamarnya berada dekat ruang meditasi itu. Lama-lama dia merasa aneh karena tidak ada yang lain. Lalu dia masuk kamarnya dan mau tidur lagi. Saya sadar ada suatu kesalahan, tapi mau kembali ke kamar tidur yang letaknya agak jauh membuat saya takut. Akhirnya saya mengetuk pintu kamar teman tadi dan malam itu kami ngobrol meskipun dilarang. Dari situlah saya menjadi patah semangat dan ingat keluarga di rumah. Rasanya saya ingin pulang. Karena tidak bisa tidur bersama teman ini, akhirnya saya kembali ke kamar walau masih di dera ketakutan.

 

Sesi meditasi pagi terlewatkan. Bangun tidur sudah hampir jam makan pagi. Kerinduan untuk pulang bertambah besar. Lalu saya memberanikan diri mengetuk kamar Romo. Saya mengutarakan keinginan saya untuk pulang, juga rasa takut yang saya alami. Kata romo, “Bagus anda menemukan masalah Anda di sini. Jika anda pulang, masalah itu akan tetap ada. Coba olah kesadaran Anda. Setelah pulang nanti,  Anda akan menemukan cara baru dalam menghadapi masalah.”  Akhirnya saya mengikuti saran Romo. Juga berkat dukungan teman-teman akhirnya saya kembali bersemangat.

 

Terang kesadaran terus-menerus bermunculan dan setiap kemunculannya selalu saja menguras air mata. Ketakutan dan kerinduan pada keluarga sudah tidak lagi mengganggu. Juga banyak hal lainnya yang tidak bisa saya ungkapkan semuanya di sini. Seperti kata Romo, “Hujan turun dan rerumputan tumbuh begitu saja. Kita  tidak perlu menarik hujan ke bawah supaya hujan turun ke atas bumi dan kita tidak perlu menarik rerumputan supaya tumbuh dari bumi.” Sekarang saya menjalani hidup saya apa adanya, tanpa beban. Rasanya langkah saya begitu ringan, begitu tenang dan damai.

 

Akhirnya, saya ingin mengatakan semua ini tidak sia-sia. Sampai sekarang kebiasaan meditasi setelah bangun pagi tetap saya jalankan, juga sebelum tidur, karena saya merasa meditasi ini sangat bermanfaat bagi saya. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Romo Pembimbing dan juga teman-teman yang telah saling mendukung.*