AAF, 36 tahun, Akuntansi, Single Person.

 

Dua hari menjelang berakhirnya retret meditasi tanpa objek selama 7 hari dari tanggal 25 Desember 2011 sampai dengan 1 Januari 2012, kusadari bahwa selama ini, di saat aku melayani orang lain, yang hatinya terluka, butuh penghiburan dan doa, aku hanya sekedar memberikan doping kepada mereka.

 

Yang kumaksud adalah seperti ini. Beberapa tahun lalu ada seorang teman yang merasa putus asa dan ingin bunuh diri. Ia putus dengan pacarnya yang berbeda agama setelah berhubungan selama empat tahun. Dia ungkapkan apa yang dia rasakan melalui sms. Aku tergerak untuk mendatanginya di kosnya saat itu juga. Dengan membawa kitab suci aku datang. Aku berdoa untuk dia. Dia sangat tersentuh pada perkataanku dan bertanya bagaimana aku dapat mengetahui segala yang dia rasakan. Aku katakan bahwa kalau aku dapat merasakan, itu karena Tuhan sangat mencintainya, mau meyakinkannya, menghiburnya, dan memberikan kekuatan kepadanya. Aku hanya alat yang dipakai-Nya. Kuajak dia membaca ayat-ayat kitab suci. Kuminta dia untuk terus berdoa dan membaca kitab suci.

 

Dua minggu kemudian aku mendapat sms darinya. Isinya ucapan terimakasih. Ia mengatakan betapa bodohnya sampai terpikir untuk bunuh diri hanya karena putus cinta.

 

Setelah kejadian itu, dia sering memintaku untuk mendoakannya, baik dari hal-hal kecil sampai besar; mengenai jodoh, kemudian setelah menikah mengenai anak, sakit, ekonomi, orang tua, dan keluarga. Dia lakukan ini selama bertahun-tahun. Saat itu aku jadi merasa seperti dukun. Aku merasa sangat lelah dengan hal itu. Akhirnya aku mengatakan kepadanya bahwa sebaiknya dia tidak bergantung pada doa-doaku, tetapi berdoa sendiri dan berharap pada Tuhan saja. Dia berkata bahwa dia telah terus berdoa, tetapi masalahnya belum selesai dan menyangsikan apakah aku juga berdoa untuk dia. Banyak nasihat kusampaikan. Sesaat dia tenang. Namun, keluhannya terus dia utarakan melalui sms hampir setiap hari. Akhirnya aku pun mengatakan padanya untuk tidak mengirim sms kepadaku karena mungkin masalahnya justru akan selesai bila dia tidak mengirim sms kepadaku.

 

Setelah kejadian itu, dia tidak mengirim sms lagi. Ada rasa sedih sedikit karena merasa telah keras padanya, tetapi aku tidak mau pusing lagi akan hal itu. Aku ingin dia dapat bertumbuh.

 

Cerita lain kurang lebih hampir sama. Aku merasa hanya memberikan ketenangan sesaat pada mereka (doping), tetapi mereka tidak dapat mandiri.

 

Untuk diriku sendiri, aku merasa bahwa ritual, meditasi objek, dan persekutuan yang selama ini kuikuti membuatku mendapatkan ketenangan dan menjadi lebih peka dalam melayani orang lain, tetapi tidak membawa perubahan terhadap diriku sendiri. Mungkin ada, tetapi sedikit. Aku berbuat ke luar, tetapi batinku tidak terolah. Pergulatan antara baik dan buruk dalam batin terus terjadi. Hal itu tidak jarang menimbulkan konflik batin. Dengan susah payah aku mengontrol diri agar tidak terjadi konflik. Namun, lebih banyak gagal dan batinku menderita karenanya.

 

Retret ini memberikan kesempatan kepadaku untuk sadar dari saat ke saat. Sadar ketika aku tidak sadar. Apapun itu pikiran yang datang, disadari tanpa daya upaya, pikiran pun pergi. Datang dan lenyap, tanpa menilai, tanpa daya upaya untuk sadar. Tidak tebang pilih. Tidak menolak ataupun mengikutinya. Pikiran-pikiran itu adalah objek dan merupakan teman agar aku tetap sadar. Melihat atau menyadari segala sesuatunya apa adanya. Tidak lebih, tidak kurang. Tidak ditambah, tidak dikurangi. Seperti nafas yang alamiah, tidak perlu diatur panjang pendeknya, demikian juga hidup dijalani apa adanya.

 

Hal itu aku praktikkan sejak hari pertama. Ketika walking meditation, kusadari setiap langkah. Tiba-tiba aku teringat pada orang yang akan membayar kontrakan pada tanggal 26 Desember. Terpikir apakah orang itu sudah mentransfer. Aku tidak dapat menghubunginya karena handphone disimpan oleh panitia. Aku menyadari saja pikiran itu. Pikiran itu yang merupakan objek pun lenyap. Kusadari untuk hidup pada saat ini, bukan kemarin dan bukan besok. Pikiran-pikiran lain datang dan pergi, terus tidak berhenti.

 

Pada hari pertama aku tidak tahan untuk sitting meditation karena kaki kiriku menjadi sakit pada saat meditasi. Saat itu sepertinya lama sekali. Aku berusaha bertahan dan hampir putus asa kesakitan. Untungnya kemudian Romo Pembimbing membunyikan bel tanda untuk walking meditation. Saat dialog aku ungkapkan hal itu. Romo mengatakan supaya aku merasakan sakit pada bagian-bagian kaki yang lain. Memeriksa batin, apakah batin menderita atau terganggu.

 

Saat sitting meditation aku merasakan sakit lagi. Aku merasakan bahwa bagian kakiku yang lain juga sakit. Aku memeriksa batin. Ternyata batinku tidak menderita. Sakit pada kakiku pun lenyap, tanpa daya upaya untuk melenyapkannya.

 

Mengenai gatal pada kepalaku saat meditasi juga kutanyakan dalam dialog. Romo katakan bahwa ketika aku menyadari gatal itu, sadari juga tangan ingin menggaruk dan bergerak ke kepala dan menggaruk bagian yang gatal.

 

Selain itu aku ungkapkan juga rasa takut yang menyerang ketika melewati tempat gelap menuju villa tempat aku tidur, meskipun aku bukan termasuk orang yang penakut dalam hal itu. Romo mengatakan bahwa itu dapat terjadi ketika orang mau masuk lebih dalam. Untuk itu sadari rasa takut itu, tanpa menolak atau mengikutinya. Benar, rasa takut itu pun lenyap.

 

Pada hari kedua ada perasaan bosan sedikit. Aku menyadarinya, dan memeriksa batinku, apakah batinku terganggu karena hal itu. Batinku tidak terganggu. Perasaan bosan pun pergi. Aku jadi punya minat untuk tetap bermeditasi.

 

Pada hari ketiga aku melihat lagi seekor kucing berwarna abu-abu yang sejak pertama datang di lokasi retret mendekat dan berputar-putar di sekitar kakiku, bahkan sampai menyentuh. Aku berusaha terus menghindarinya. Aku memang tidak suka dengan kucing. Namun, hari itu ada perubahan terjadi. Aku melihat kucing itu tanpa perasaan tidak suka. Aku memandanginya, dan dapat melihat sesuatu yang indah pada kucing itu. Tiba-tiba kucing itu melompat ke kursi. Aku hanya memandangnya dan berlalu tanpa menilai lagi.

 

Ada kalanya kakiku sakit. Aku sadari adanya penolakan terhadap pikiran yang datang. Semakin ditolak semakin sakit. Aku memeriksa batin. Batinku menderita. Namun, kesadaran muncul dengan sendirinya, untuk tidak menolak pikiran yang datang, tidak menilai atau menghakimi, melihatnya apa adanya, tidak lebih, tidak kurang. Kesadaran muncul dengan sendirinya dan aku menemukan kebebasan. Aku senang sekali. Namun, rasa senang juga merupakan objek. Aku sadari rasa senang itu dan rasa senang pun lenyap.

 

Di hari terakhir, saat sore hari menjelang perayaan Ekaristi, aku teringat ketika aku melakukan dialog pribadi dengan Romo bahwa aku telah menilai seorang temanku. Hal itu membuatku merasa bersalah. Rasa bersalah itu terus muncul. Aku berusaha menyadari dengan daya upaya. Pikiran bersalah itu tetap muncul. Akhirnya, pikiran itu tidak berusaha kutolak lagi, juga tidak kuikuti. Kesadaran tanpa daya upaya atas penilaian itu kemudian muncul, membuat pikiran bersalah berhenti, pergi dan batinku damai.

 

Dari segi fisik, aku paling tidak tahan dengan angin dan selalu berusaha menghindarinya. Namun, saat meditasi di atap lantai 3, angin bertiup dengan kencangnya, tidak berhenti. Namun, aku tidak tertanggu. Aku tidak masuk angin juga. Juga, ketika sejak hari pertama mau tidak mau mandi dengan air dingin, sementara di Jakarta aku mandi dengan air hangat. Hal itu tidak membuat otot-ototku kaku. Otot-ototku relaks. Karena relaks, aku tidak ngos-ngosan seperti di Jakarta.

 

Tidak ada tujuan lain, baik yang kasar maupun yang halus dalam latihan kesadaran, selain hanya kesadaran. Dengan membiarkan kesadaran muncul dengan sendirinya, aku menjadi sadar dari saat ke saat. Sadar ketika aku tidak sadar. Pikiran datang dan pergi. Tidak kutolak, tidak kuikuti.

 

Retret telah selesai. Aku kembali ke rumah. Keesokan paginya aku bangun pukul 4 untuk meditasi duduk selama 1 jam. Pukul delapan kurang sampai di kantor. Biasanya sehabis libur, kembali kerja seperti orang telmi (telat mikir), tetapi kali ini tidak. Ada energi tanpa daya upaya yang membuatku tetap bekerja seperti biasa.

 

 Hari itu, aku bertemu dengan orang yang pernah konflik denganku. Namun, ada sesuatu yang lain muncul. Aku merasa telah berdamai dengannya, tanpa daya upaya. Aku dapat melihat sesama dengan cara yang baru.

 

Sore hari pulang dari kantor, aku baru mengetahui bahwa barang yang kupesan, yang langsung dikirim ke rumah ada yang kurang, tidak sesuai dengan yang ditawarkan. Padahal aku sudah membayar sesuai tagihan. Ada selisih kurang lebih satu juta rupiah. Itu cukup banyak bagiku. Saat itu aku telepon berkali-kali ke sales perusahaan itu dan tidak ada yang mengangkat. Rupanya dia sudah pulang. Pikiran sempat berkecamuk. Namun, kesadaran muncul, pikiran itu pun pergi. Besok saja kutelepon. Aku tetap dapat melakukan aktivitas tanpa kepikiran. Sesaat timbul lagi kekuatiran, aku sadari, dan pikiran itu pergi. Aku hidup di saat ini. ”Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Bdk. Mat 6:34). Aku pun dapat tidur dengan nyenyak. Mungkin sebelum retret, kalau menghadapi itu, aku akan terus kepikiran.

 

Hari kedua sepulang retret, aku teringat pada temanku yang dulu sempat membuatku merasa seperti dukun, seperti yang kuceritakan di awal. Aku menelepon dia. Kuucapkan selamat natal dan tahun baru. Kudengar suara yang bersahabat dari sana. Aku tanyakan kabarnya dan memintanya untuk bercerita tentang keadaannya. Ada rasa syukur dan damai dalam bicaranya. Aku mendengarkan dengan kesadaran, hal apapun yang dia ceritakan, tidak membuatku menilai baik atau buruk lagi, juga tidak membuatku terganggu dan menderita lagi. Aku bermaksud mengirimkan buku Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial untuknya. Mungkin saat ini dia belum punya kesempatan untuk ikut retret, tetapi melalui buku itu semoga ada sesuatu yang diperolehnya juga.

 

Teringat akan perkataan Romo Pembimbing, ”Batin yang jernih adalah seperti langit yang mahaluas, yang tidak terganggu akan keadaan sekitarnya, baik itu awan putih, maupun awan gelap. Dia tetap langit yang terpisah dengan keadaan apapun tanpa terpengaruh.”

 

Seperti batang pohon yang tetap berdiri tegak, tanpa terpengaruh keadaan sekitar, baik itu panas maupun hujan, baik berdaun lebat maupun rontok daunnya, dia tetap batang pohon, apa adanya, tidak lebih dan tidak kurang.

 

Pengalaman hanyalah pengalaman. Datang dan pergi. Segala pengalaman, konsep dan teori bukan untuk dilekati, melainkan untuk dilepaskan karena itu tidak membawa perubahan yang berarti padaku. Namun, yang penting bagiku adalah mempraktikkan kesadaran tanpa daya upaya dari saat ke saat, melihat segala sesuatunya apa adanya, tanpa menolak, tanpa mengikuti, tanpa menilai atau menghakimi. Akan ada sesuatu yang lain yang keluar dari kesadaran. Tidak ada tujuan, selain sadar (awareness) dengan cara sadar (awareness).

 

Aku bersyukur kepada Sesuatu Yang Lain, Yang Tak-Dikenal, yang jauh melampaui apa yang dapat dikenal oleh manusia. Kesempatan telah diberikan-Nya dengan membawaku mengikuti retret ini.

 

Terimakasih untuk teman-teman yang mengikuti retret ini di mana kita dapat saling berbagi dan meneguhkan. Banyak terimakasih kepada Romo yang telah membimbing kami dengan sangat sabar.

 

Rahmat Tuhan melimpah bagi kita semua untuk terus mempraktikkan kesadaran dari saat ke saat.*