HS, 54 tahun, Karyawan, Buddha.

 

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada Romo Pembimbing yang telah mengikut sertakan saya dalam retret 7 hari di penghujung tahun 2011.

 

Mengikuti retret  meditasi pada akhir tahun 2011 terasa sangat istimewa dan menyenangkan. Pada retret tersebut pengertian saya tentang meditasi semakin mendalam berkat Romo yang telah membimbing dan menjawab semua pertanyaan saya, baik dalam diskusi kelompok maupun bertanya secara pribadi. Disamping itu dapat mengenal orang-orang yang tidak kita kenal sebelumnya juga merupakan suatu kebahagiaan tersendiri di mana kita bisa menambah wawasan dan rasa kebersamaan dalam mengikuti retret.

 

Saya telah lama menyenangi meditasi dan telah banyak belajar meditasi dari berbagai aliran, tetapi pada umumnya memakai konsentrasi. Ada yang memakai konsentrasi napas, melabel, memakai visualisasi dimana kita membayangkan berada dalam suasana yang indah, dan lain-lain, sehingga peranan pikiran sangat dominan. Tetapi semua itu hanya memberikan kesenangan yang sesaat karena masih adanya si aku sebagai si penikmat. Rasa kesadaran diripun kurang terbangkitkan. Tidak dapat disangkal  bahwa meditasi dengan konsentrasi ini juga bisa menimbulkan rasa damai, tenang, dan memberikan keheningan. Tetapi keberadaan si aku masih ada sehingga sering menimbulkan kekotoran-kekotoran batin sebagai manifestasi dari si aku.

 

Dalam meditasi kali ini, sejak hari pertama sampai dengan hari keempat, saya terus bergulat untuk dapat melakukan meditasi tanpa objek dengan benar. Daya upaya dan konsentrasi napas yang selalu menyusup menghambat meditasi saya. Akhirnya, sesuatu terjadi pada hari kelima subuh ketika berlatih di lantai 3. Angin bertiup mengenai tubuh dan terdengar ramai suara-suara alam disekitarnya. Kita bermeditasi tanpa objek, hanya mendengar dan merasakan apa adanya dengan pasif, tanpa daya upaya, tanpa melabel. Dibantu oleh suasana dilapangan, saya mulai bisa bermeditasi dengan benar. Saya hanya duduk diam, pikiran yang datang dan pergi hanya dilihat dengan pasif, tidak ada keinginan ataupun penolakan apapun, tidak mengharapkan sesuatu dan tidak ada konsentrasi pada sesuatu. Setelah keberadaan pikiran dapat disadari dan tidak menganalisa, kesadaran meditatif dan keheningan itupun datang dengan sendirinya dan memang hasil yang didapat sangat berbeda dengan hasil-hasil yang saya dapatkan sebelum saya mengikuti retret ini. Suatu keadaan yang tidak terbayangkan dimana kita seakan-akan menyatu dengan alam.

 

Didalam retret meditasi ini, Romo memberi bimbingan kepada kami untuk terus berlatih membangkitkan kesadaran dan keheningan. Bimbingan yang diberikan cukup sederhana yaitu usahakan selalu berada dalam kesadaran meditatif dimana “pikiran hanya digunakan jika diperlukan”, “Sadar bahwa kita tidak sadar”, dan prinsip “Not Knowing is much better than knowing” (Tidak mengetahui adalah jauh lebih baik dibanding tahu) sangat baik untuk menghindarkan konflik meskipun sebenarnya kita “knowing” (tahu). Kalau kita telaah, prinsip itu mirip ungkapan, “Kosong itu isi, isi itu kosong.”

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kesadaran meditatif ini sangat kita butuhkan. Kita dapat membuat keputusan yang terbaik dalam hidup kita, yang sekaligus juga merupakan jalan pembebasan spiritual bagi kita. Kita tidak tahu sampai kapan umur kita, tetapi kita bisa menabung bekal spiritual kita. Kesadaran meditatif ini harus terus kita jaga. Jika meditasi duduk mengalami kesulitan, cara yang termudah adalah dengan meditasi jalan, dimana kita melangkah dengan sewajarnya tetapi dengan pikiran yang disadari. Juga mengikuti retret meditasi minimal sekali dalam setahun.

 

Untuk teman-teman retret, teruslah berlatih, jangan putus asa. No act no result. Just do it. (Tidak ada hasil tanpa bertindak. Lakukan saja.)

 

Akhir kata, saya dan juga mewakili kawan-kawan yang lain mengucapkan terima kasih kepada Romo yang telah membimbing kami semua dengan baik.

 

Salam sejahtera

HS