NN, 21 tahun, Private Drawing Teacher, Buddha, Jakarta.

Ini pertama kalinya saya mengikuti retret meditasi bimbingan Romo Sudri. Sangat berkesan. Dalam hidup keseharian saya termasuk orang yang tidak kuat dingin. Namun selama seminggu retret di puncak, bahkan pada malam hari yang melulu disertai terpaan angin kencang yang begitu dingin, entah mengapa saya justru baik-baik saja. Bahkan juga saat tubuh tertutup hanya dengan sehelai kaus tanpa jaket sembari walking meditation di luar ruangan.

Selama retret, batin ini dipenuhi celoteh-celoteh pikiran, macam-macam perasaan, ingatan, kehendak, sesekali muncul nada-nada musik yang mengalun dalam benak, dst.
Pengalaman yang agak berbeda terjadi pada hari keenam. Biasanya saat saya sitting meditation di dalam aula pada siang hari, tidak jarang terdengar gelak tawa spontan oleh sebagian peserta yang mendapatkan giliran dialog kelompok di villa sebelah. Namun hari itu, di satu momen ketika kembali mereka meletuskan tawa riang, entah mengapa, secara bersamaan saya ikut tertawa sekalipun hanya mendengar suara tawa mereka tanpa berkumpul dengan mereka di sana. Pun pada saat walking meditation di luar ruangan dan dua kali mendapati warga sekitar yang sedang tertawa haha-hihi dengan begitu geli, saya juga ikutan tertawa, tanpa tahu apa yang mereka tertawakan dan tanpa pernah berinteraksi dengan mereka sebelumnya.
Pada hari itu ada pula saat di mana saya sedang menutup pintu kamar lalu membalikkan badan hendak berjalan. Begitu pemandangan sekitar terlihat sejangkaunya oleh mata, sesuatu terjadi, “Bum!!” Saya sangat takjub karena hal sesingkat itu dapat terasa begitu utuh/kekal dalam satu kilatan momen. Padahal yang saat itu tampak di hadapan hanya tembok berpola yang bolong-bolong dan ada orang yang sedang berjalan lewat di balik temboknya.

Selain itu, lebih jauh lagi, kadang-kadang saya mengalami perjumpaan dengan ketakutan-ketakutan hebat akan kehilangan sandaran-sandaran yang telah begitu lama nyaman dilekati, yang sangat kukuh ingin mempertahankan kelangsungan eksistensinya. Mungkin tidak selalu mudah untuk terbebas dari itu dan membiarkannya runtuh dengan sendirinya. Maka pengolahan batin tidak lekas berhenti sampai pada selesainya retret tujuh hari ini, namun tetap perlu saya praktekkan dalam kegiatan sehari-hari meski nuansanya tidak lagi sama dengan retret.

Akhir kata, kepada Romo Pendamping, sesama peserta, dan segala yang telah memungkinkan retret di Cibulan-Puncak ini, saya mengucapkan terima kasih. Retret ini pernah menjadi salah satu persinggahan di dalam proses perjalanan saya dan kita bersama.*