CS, 46 tahun, Penulis dan editor buku dan majalah.

 

Tepat 40 hari setelah saya mengalami kematian diri, pada dini hari 27 November 2011 untuk pertama kali saya mendapat serangan hipertensi. Saya terbangun pukul 03.00 dini hari dengan jantung berdebar-debar, kedua tangan, kaki, dan wajah terasa kebal. Rasa dingin mulai menjalari tubuh. Saya tak tahu, rasanya seperti mau mati. Maka, saya membangunkan suami dan mengatakan perasaan itu. Saya ingin menghubungi Romo untuk minta Sakramen Perminyakan dan menelepon anak-anak di Bandung.

 

Suami menepis perasaan tersebut, memberi saya minum air rebusan daun salam dan teh hijau. Suami saya bisa melihat aura orang lain. Ia mengatakan saat itu aura saya hitam semua. Saya merasa berhadapan langsung dengan kekuatan jahat. Seringai dan keganasannya tak akan pernah saya lupakan. Suaranya kasar di dalam hati, mendesak saya untuk segera mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang yang saya sayangi dan mengikutinya.

 

Ia menantang saya dengan mengajak ke alam baka – tempat yang selama ini membuat saya penasaran. Sering saat mendoakan para arwah, saya bertanya-tanya apa yang terjadi dengan mereka? Ke mana sebenarnya mereka pergi? Saat inilah saya dihadapkan dengan ego dan kesombongan saya, termasuk belakangan ini saya mempertanyakan keabsahan Sakramen Tobat, otoritas Vatikan, dan Gereja Katolik.

 

Suara itu jahat dan memaksa, maka saya tak mau tunduk. Saya mohon ampun kepada Tuhan atas segala dosa saya, minta Yesus dan Bunda Maria menyelamatkan saya dari jerat maut. Selama sekitar 3 jam saya berjuang antara hidup dan mati.

 

Saat fajar, saya naik taksi ke RS Medistra untuk mengetahui apa yang terjadi dengan saya. Diagnosis menunjukkan hipertensi (180/100), dengan denyut nadi 104, dan kadar kolesterol 252. Setelah itu, dua minggu berikutnya saya tak bernafsu makan. Alhasil, hipertensi saya tak mereda, stamina tubuh drop, jantung berdebar tak beraturan, tetapi kolesterol saya menurun drastis jadi 119. Saya kembali ke RS dan diopname selama 3 hari karena kurang gizi.

 

Selama saya sakit, anak-anak tetap di Bandung. Permintaan saya sebelumnya agar mereka saling menjaga,  terbukti. Mereka tak bergantung pada saya, berusaha menyelesaikan masalah-masalah mereka berdua. Kontrak kerja saya di majalah ITR sudah berakhir awal November 2011 lalu. Tak ada pekerjaan yang terhambat karena sakit ini.  Hanya saja saya tak bisa hadir pada perayaan Ekaristi pada Minggu Adven ke-1 dan ke-3.

 

Saat ini saya dalam taraf pemulihan. Mulai berani makan tetapi belum begitu berani makan daging sapi. Juga belum berani menyetir mobil terlalu jauh, karena terkadang pandangan kabur dan tubuh cepat lelah. Ternyata lebih mudah membuat stamina tubuh drop, dibandingkan mengembalikan stamina tubuh kembali bugar.

 

Melalui pengalaman itu saya mengimani secara pribadi arti kalimat-kalimat yang sebelumnya hanya seperti kata-kata klise, “Yesus mati di salib untuk menebus dosa-dosa manusia,” “Yesus telah mengalahkan maut.” Sekarang ayat-ayat Alkitab terasa hidup dan mempunyai makna mendalam. Apakah pengalaman seperti ini pernah Romo alami saat sakit demam berdarah beberapa tahun silam?

 

Terima kasih atas meditasi tanpa objek yang Romo ajarkan, sehingga telah membawa saya ke titik hening, menjadikan hati murni. Seperti yang pernah saya ungkapkan kepada Romo saat mengaku dosa pada Desember 2007, saya ingin memiliki hati yang murni, agar Tuhan bisa bersemayam di dalamnya. Kini Kristus menarik saya lebih jauh, seperti Saulus yang ditangkap Sinar Terang dalam perjalanannya ke Damsyik. Setelah kejadian 27 November 2011, saya tak tahu apa yang akan Ia perbuat. Saya mencoba memahami dan menjalani saja, tanpa tahu pasti ke mana dan harus berbuat apa.

 

Saya memandang kejadian di Minggu Adven ke-1 itu sebagai kematian tubuh lama. Segala ego dan dosa selama 46 tahun kehidupan saya telah ikut mati. Begitu pula kebiasaan-kebiasaan hidup tak sehat,  berganti dengan pola hidup sehat. Ternyata kebiasaan tidur larut malam dapat menjadi salah satu pencetus hipertensi, di samping kebiasaan tak pernah berolahraga. Yang jelas, hidup dengan hipertensi membuat saya semakin mengutamakan batin hening.

 

Malam Natal 2011 ini sangat berkesan buat saya, karena secara pribadi menjadi manusia baru yang lahir bersamaan dengan perayaan kelahiranNya. Mukjizat masih terjadi sampai saat ini. Selamat Natal, Romo. Saya yakin, Romo pun mengalami keindahan karuniaNya secara pribadi. Selamat memasuki dunia keheningan menjelang akhir tahun, selamat membuka lembaran baru tahun 2012. Sampai jumpa.

 

Teriring salam dan doa,

cs