NN, 30 tahun, Katolik, Pekerja Lepas, Jakarta

 

Terlahir sebagai kebanggaan bagi kedua orang tua dan dua keluarga besar–dengan latar belakang budaya yang berbeda namun sama-sama keras dan kaku–ternyata tidak selalu mendapat perlakuan yang istimewa. Demikianlah kesan kehidupan yang saya rasakan sejak saya kecil hingga saat sekarang. Kesan ini muncul selama beberapa bulan terakhir saya bergumul dengan diri sendiri. Setiap ucapan dan perlakuan orang tua kepada saya seketika tampak jelas. Saat itu, pertama kali saya memberanikan diri menyampaikan keberatan dan ketidak-setujuan saya secara jujur atas beberapa pernyataan dan perlakuan orang tua baik kepada saya maupun terhadap adik-adik saya. Sejak itulah pergumulan batin mulai bergejolak tiada henti. Namun latihan meditasi yang selama ini saya jalani, terutama saat pasif yaitu saat duduk dan dalam posisi berbaring, cukup membantu saya melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tidak hanya latihan saja, pengalaman mengikuti beberapa kali retret dan sesi latihan meditasi bersama, ternyata sangat membantu saya melatih diri melihat keadaan saat ini apa adanya.

 

Sayangnya, rutinitas sehari-hari selalu saja menjadi pelarian yang termudah. Semua pergumulan yang telah dan sedang terjadi itu seolah-olah sudah selesai. Satu demi satu rutinitas saya jalani dengan tertatih-tatih akibat kelelahan yang timbul sepanjang perjalanan pergumulan batin saya.

 

Suatu saat, saya tersadar bahwa kenyataannya pergumulan batin saya belum selesai. Peristiwanya terjadi ketika saya bertikai secara fisik dengan papa saya yang kembali mengulangi perlakuan mempersalahkan anak-anaknya atas kesalahan orang lain atau keadaan yang terjadi tidak sesuai dengan harapannya. Saat itu saya sadar 100% bahwa saya bertikai dengan papa saya dan saya berani menyampaikan kata-kata yang menurut papa saya sangat lancang dan tidak pantas dikatakan oleh seorang anak kepada orang tua. Saya sadar bahwa papa akan melakukan hal itu dan saya siap menerimanya. Tiada rasa sesal sedikit pun, bahkan saya menganggap bahwa semua perkataan saya adalah benar adanya.

 

Tentu saja, sejak saat itu hubungan saya dengan papa berubah. Komunikasi yang terjadi lebih sering sudah tidak formal lagi. Saya merasa sedikit agak bebas untuk menyampaikan semua keberatan dan ketidak-setujuan  saya atas sikap dan perlakuan papa maupun mama.

 

Hanya saja, keheranan timbul dalam benak saya, “Kenapa yach beberapa bulan terakhir saya tidak betah tinggal di rumah dan merasa sangat terbebani ketika melakukan pekerjaan rumah yang sebelumnya tidak memberi efek apapun pada emosi dan perasaan saya?” Tidak hanya sekali muncul pemikiran dan niat untuk meninggalkan rumah dan melakukan apa saja yang bisa menyakiti diri saya sebagai pembelajaran bagi orang tua saya. Syukur pada Tuhan atas bimbingan KasihNya yang tiada henti. Dia tak berkenan membiarkan semua itu terjadi. Meski niat dan pemikiran untuk pergi dari rumah semakin kuat, namun energy–atau kekuatan atau apapun namanya, saya sungguh tidak tahu–dari dalam diri bertambah kuat untuk menarik diri kembali ke rumah.

 

Tidak hanya keinginan dan pemikiran yang saling bekerjasama membelenggu diri. Kesesakan juga turut datang menyiksa diri sehingga pergumulan batin yang terjadi beberapa bulan terakhir sangat hebat. Alhasil emosi saya juga menjadi naik turun. Fiuh…. Sungguh kacau kondisi saya saat itu.

 

Kembali saya bersyukur karena saya diberi kesempatan keluar dari rumah selama sepuluh hari dinas di luar kota. Tentu saja pekerjaan di lapangan sangat membantu menyegarkan kembali jiwa dan raga saya. Kelelahan fisik membantu lelap tidur saya di malam hari sehingga kondisi fisik dan jiwa saya berangsur pulih. Sayangnya, akhir pengalaman dinas luar kota saya berhadapan dengan fenomena-fenomena mistik yang mempengaruhi ketakutan dan sering mengusik alam bawah sadar saya. Sepulang dari dinas luar kota, saya merasa ketakutan yang luar biasa ketika saya sendiri dalam ruangan gelap. Saya merasa sangat sesak dan tidak bisa bernapas. Seumur hidup saya belum pernah mengalami ketakutan seperti ini. Tidak hanya ketakutan saja, tidur saya juga sering terganggu oleh alam bawah sadar yang membawa bayangan-bayangan mistik yang sepertinya saya kenal.

 

Demikianlah secara singkat kondisi saya sebelum berangkat menuju lokasi retret meditasi di akhir tahun 2011. Sebelumnya, saya merasa tidak yakin akan diberi kesempatan kembali menjadi peserta retret oleh Romo Pembimbing, apalagi setelah beberapa hari berlalu tanpa konfirmasi, sehingga saya pun membuat rencana liburan di luar kota untuk menyendiri. Menyendiri untuk memulihkan kondisi batin saya sekaligus menarik diri dari rutinitas akhir tahun di rumah bersama keluarga yang tentunya akan lebih memberatkan lagi.

 

Untungnya, saya belum sempat membeli tiket atau memesan apapun ketika Romo Pembimbing memberi konfirmasi melalui email. Entahlah, sepertinya Sang Kekasih pun turut serta menggerakkan setiap niat dan pemikiran saya untuk liburan menyendiri, sehingga ketika mendapat konfirmasi dari Romo Pembimbing, saya pun langsung mempersiapkan diri untuk mengikuti retret. Rasa senang sekaligus bercampur dengan keraguan besar selama masa persiapan retret. Senang karena saya mendapat kesempatan liburan menyendiri, namun ragu akan mendapat ijin dari orang tua. Keraguan inilah yang menyebabkan saya baru memberi berita kepada orang tua pada siang hari tanggal 24 Desember 2011 bahwa saya tidak akan merayakan Natal dan malam tahun baru bersama keluarga, yang tentu saja dalam penyampaian berita tersebut saya tidak bermaksud untuk meminta ijin dari orang tua. Weleh… Rasanya sangat aneh memang setelah saya menyampaikan berita tersebut, apalagi mengetahui bahwa orang tua tidak memberi tanggapan apapun saat itu.

 

Tanggal 25 Desember 2011 tepat pukul 12.00 WIB, saya pun berangkat menuju lokasi retret. Saya masih sempat bertemu dengan beberapa anggota komunitas yang telah hadir dan kumpul di rumah untuk merayakan Natal. Kunjungan Natal oleh teman-teman komunitas telah menjadi ajang silaturahmi setiap tahun bagi keluarga kami. Tentu saja, teman-teman komunitas tidak keberatan dengan kepergian saya, karena memang saya telah pamit bahwa saat Natal dan malam tahun baru nanti saya akan pergi ke luar kota untuk menyendiri. Teman-teman komunitas sangat memahami kondisi saya, sehingga meski saya tidak berada di rumah, mereka satu per satu mengirimkan berita melalui sms tentang kemeriahan di rumah. Berita tentang kemeriahan itu pun sempat mengusik rasa sesal saya meninggalkan rumah pada hari itu, namun setibanya saya di lokasi retret membulatkan keputusan saya untuk tidak kembali ke rumah.

 

Pada hari pertama, tidur saya didominasi oleh alam bawah sadar saya yang kembali mempertemukan saya dengan bayangan-bayangan mistik yang sering datang dalam tidur akhir-akhir ini. Bedanya, malam itu saya berani membuka mata untuk melihat bayangan tersebut yang dengan lincah mempermainkan ketakutan saya. Saya pun seolah-olah terduduk untuk mengusir bayangan itu sembari menjulurkan lidah saya untuk mengejek bahwa saya sudah berani membuka mata dan berhadapan langsung dengannya.

 

Perginya bayangan tersebut tidak membuat saya bangun dari tidur, namun semakin menambah kegelisahan tidur saya. Saya larut dalam tidur yang membuat saya kesiangan akibat tidak mendengar bunyi bel dan melewatkan sesi subuh meditasi bersama. Dengan perasaan lucu akibat kesiangan, saya pun melangkahkan kaki menuju tempat meditasi bersama dan bertemu dengan Romo Pembimbing dan beberapa peserta yang melakukan meditasi berjalan (walking meditation) di luar ruangan. Pertama kali bertemu dengan Romo Pembimbing yang sedang walking meditation menambah kegelian dalam hati saya, sehingga dalam hati saya tertawa terbahak-bahak membayangkan, sembari ikutan walking meditation di luar,  jika nanti saya akan dipulangkan akibat bangun kesiangan di hari pertama.

 

Tanpa rasa bersalah, saya pun langsung masuk ke ruangan untuk bergabung dengan sesi kedua meditasi duduk (sitting meditation). Meski waktunya sangat singkat, meditasi duduk di pagi itu sangat membantu saya mengenali ketakutan saya saat tidur tadi malam. Tak terasa, air mata saya mengalir karena dalam meditasi duduk saya bertemu dengan diri saya yang terluka dan tercabik-cabik, entah akibat kenangan masa kecil maupun akibat semua pertentangan dan konflik yang telah dilalui sebelum berangkat retret.

 

Setelah sarapan, saya kembali melanjutkan meditasi duduk dan berjalan selama beberapa jam. Kelelahan akibat kurang tidur di malam hari membuat saya terlelap dalam tidur siang, sampai-sampai saya melewatkan waktu makan siang. Ketika bangun, perasaan yang pertama kali datang adalah rasa lapar yang luar biasa. Langsung saja saya mengambil botol minum sembari menyeduh mie instant untuk mengobati rasa lapar saya. Tak disangka, ternyata saat itu sudah dekat dengan waktu sesi dialog kelompok di hari pertama. Tentu saja saya lebih memilih untuk mengobati rasa lapar terlebih dahulu baru kemudian bergabung dengan sesi dialog kelompok.

 

Ketika saya memasuki ruangan dialog kelompok, ternyata sesi belum dimulai karena sebagian besar peserta belum hadir. Setelah lengkap, Romo Pembimbing pun mempersilahkan setiap peserta membagikan pengalaman meditasinya sepanjang hari pertama.

 

Dengan seksama, saya mendengar sharing dari setiap peserta, namun sering juga pikiran saya masih dipengaruhi oleh mimpi tadi malam. Saat tiba giliran saya untuk sharing, secara gamblang dan detil saya pun menceritakan apa yang saya alami ketika tidur tadi malam. Sharing saya tutup dengan pertanyaan apakah fenomena mistik itu benar-benar ada dan apakah meditasi dapat membantu kita untuk berhadapan dengan fenomena itu?

 

Jawaban Romo Pembimbing saat itu sangat membesar hati saya dan menumbuhkan keberanian yang cukup besar. Romo menyampaikan bahwa fenomena mistik atau fenomena alam roh ada di sekitar kita, namun apa yang terjadi dengan saya pada malam itu apakah benar-benar fenomena mistik ataukah manifestasi dari pikiran dan diri yang terbelenggu sehingga pikiran dan diri muncul dalam bentuk bayangan yang ditakuti. Romo pun menyampaikan bahwa pikiran dan pengalaman diri seringkali mendominasi batin ketika melakukan sitting meditasi secara intens. oleh karena itu, Romo meminta setiap peserta melanjutkan latihan selama retret untuk mengamati setiap reaksi yang dimunculkan oleh pikiran dan diri.

 

Pertanyaan romo sebagai tanggapan atas pertanyaan saya mendorong saya untuk tekun dan serius mengamati setiap reaksi pikiran dan diri selama menjalani retret kali ini. Dalam retret sebelumnya, saya agak separuh hati menjalankan setiap sesi latihannya, karena saat itu saya hanya berperan sebagai follower saja. Keberanian yang berangsur tumbuh berhasil menjadi obat tidur saya pada malam kedua. Tidur saya nyenyak sekali, sehingga saya pun lagi-lagi tidak mendengar bel sebagai tanda untuk bangun.

 

Saya terbangun karena mendengar suara adzan subuh. Dengan langkah ringan dan segar, saya langsung menuju ruangan meditasi bersama. Selama sitting meditation, alam bawah sadar saya kembali mendominasi. Dia membawa saya ke masa lalu yang tidak pernah mau saya sentuh selama hidup. Kesadaran membangunkan saya dari alam bawah sadar, namun ketika mulai menutup mata, alam bawah sadar kembali masuk. Begitulah terus menerus yang terjadi ketika saya melakukan sitting meditation sepanjang hari kedua. Pengalaman ini pun saya bagikan dalam sesi dialog kelompok di hari kedua, namun saya tidak mempertanyakan apapun kepada romo karena memang saya tidak membutuhkan tanggapan apapun dari romo atau peserta lainnya.

 

Setelah dialog kelompok di hari kedua, malamnya saya melanjutkan latihan meditasi sendirian di dalam kamar. Awalnya lampu menyala, sehingga saya pun tidak takut karena memang saya tidak melihat apapun. Kemudian saya mematikan lampu dan saya mulai melihat sekelilingnya yang ternyata tidak ada apapun. Dalam benak saya berucap, “Lah wong ngga ada apa-apa kok, ngga perlu takut lah.” Hanya saja saya masih belum berani untuk melakukan sitting meditation dengan mata tertutup dalam gelap karena banyak bayangan bermunculan dan membuat ketakutan kembali mendominasi. Karena sudah mulai takut, saya pun beranjak ke ruang tengah untuk melakukan walking meditation, namun saya tidak berani untuk masuk ke satu ruangan dekat ruang tengah karena saat itu saya melihat ruangan itu sangat gelap gulita.

 

Demikianlah rutinitas yang saya lakukan ketika melakukan latihan meditasi sendirian di malam hari. Pengalaman lucu terjadi. Saat malam ketiga saya menyadari kalau saya hanya seorang diri dalam rumah villa yang saya tinggali. Kesadaran itu muncul karena saya tidak melihat sandal kedua teman saya yang juga tinggal bersama saya. Otomatis malam itu saya langsung panik dan segera keluar rumah.

 

Pertama kali saya menuju teras depan untuk mengecek apakah ada teman yang latihan di tempat, namun setelah berkeliling, saya tidak bertemu dengan seorang pun. Jantung berdegup kencang seolah mau loncat keluar dari tempatnya karena saya tidak berhasil menemukan siapa pun padahal kondisi saat itu sangat gelap. Saya langsung bergegas ke ruangan meditasi bersama. Hah…lega rasanya. Ternyata banyak peserta melakukan latihan di tempat itu. Saya pun coba untuk bergabung dalam ruangan, namun keadaannya membuat saya sangat tidak nyaman, karena saat itu saya sadar bahwa saya sedang lari dari ketakutan saya. Ketika sitting meditation dan menutup mata, batin saya berucap, “Kok lari sich dari masalah? Hadapi donk supaya masalahnya bisa selesai.” Tanpa berpikir panjang, saya pun segera meninggalkan ruangan meditasi bersama menuju kamar saya yang masih gelap gulita. Ketakutan masih tetap tinggal dalam diri, namun batin memberi perintah untuk melihat ke sekeliling apa yang membuat saya sangat ketakutan.

 

Sepanjang perjalanan menuju kamar, saya berjalan dengan sangat perlahan sembari melakukan walking meditation di tempat-tempat yang gelap. Saya membuka mata saya lebar-lebar dan tidak menemukan apapun yang membuat saya takut, hingga akhirnya saya pun tiba di dalam kamar. Tak terasa, ternyata saya tertidur atau memang terbawa kembali oleh alam bawah sadar ketika melakukan sleeping meditation. Mulai dari malam ketiga hingga malam keenam, saya tidak bisa tidur karena selalu terbawa oleh alam bawah sadar. Oleh karena itu, sepanjang perjalanan retret ini saya sangat rajin untuk tidur siang sebagai pembalasan kegelisahan di malam hari.

 

Mulai dari hari ketiga, perjalanan latihan meditasi saya bersama alam bawah sadar membawa saya memasuki masa lalu yang telah lama saya kubur dalam-dalam. Saya menangis tersedu-sedu, saya tertawa, saya marah dan masih banyak lagi emosi yang silih berganti datang.

 

Seperti biasa, saya melihat dan membiarkan semua emosi yang muncul seperti apa adanya, tanpa berusaha untuk menolak atau menerima. Saya lalui semua tahap emosi dengan santai sehingga ketika latihan di hari keempat saya mampu melihat bahwa masa lalu yang telah terpendam lama itu adalah kegelapan yang paling saya takutkan seumur hidup sehingga saya selalu lari darinya.

 

Ketakutan inilah yang ternyata selama ini menyerang dan menguasai diri saya. Selama ini saya tidak pernah berani berhadapan langsung dengan diri atau batin saya sendiri yang dalam kondisi tersakiti dan tercabik-cabik. Air mata terus mengalir ketika saya sadar bahwa seumur hidup saya sebagai anak tertua dan kebanggaan keluarga, sangat terbelenggu oleh semua aturan yang mesti saya jalankan untuk memuaskan kedua orang tua dan keluarga besar saya. Selama hampir dua jam, saya menangis ketika bertemu dengan diri atau batin saya yang terluka dan ternyata juga masih menangis akibat penderitaan yang ditanggungnya sendiri selama ini.

 

Saya tak pernah sadar bahwa selama ini saya menyembunyikan diri atau batin saya dalam-dalam untuk melihat dan memahami apa yang terjadi di luar. Sudah sangat lama saya mengacuhkan diri atau batin saya yang terluka dan terus berupaya untuk menjadi yang terbaik bagi siapa saja yang harus saya hadapi. Saya semakin terisak dalam tangis ketika menyadari betapa menyedihkan kondisi diri saya saat itu dan saya mulai merasakan ada cinta yang tumbuh dalam diri. Cinta yang tumbuh bukan untuk orang lain atau apapun yang ada di luar diri, namun cinta terhadap diri sendiri yang sudah lama terluka.

 

Saya pun tersenyum menyambut diri yang telah lama terbelenggu dalam luka dan derita. Kami pun mulai menjalani setiap kenangan yang telah terjadi bersama-sama. Sejak hari keempat itulah, saya merasa sudah tidak berjalan sendiri lagi. Kami berjalan bersama melalui setiap kejadian sebagai pengalaman yang baru, benar-benar baru.

 

Pengalaman pertama jatuh cinta pada diri saya membuat saya mampu melihat segalanya secara berbeda. Saya mulai memahami setiap peristiwa yang telah terjadi sejak kecil hingga saat ini, namun sudah tidak terluka lagi meski tadinya sangat menyakitkan. Rasa sakit, kecewa, senang dan semua rasa lainnya sudah tidak menjadi penting lagi ketika kenangan masa lalu datang.

 

Hanya saja, ketakutan akan cinta terhadap diri sendiri sempat mengusik keraguan saya. Jangan-jangan nanti saya akan tumbuh menjadi pribadi yang sangat egois. Sejak kecil saya dididik untuk selalu memperhatikan kepentingan orang lain terlebih dahulu sehingga saya tumbuh menjadi pribadi yang sangat solider. Begitulah pandangan banyak orang tentang pribadi saya dan saya sangat menyenangi julukan itu. Itulah sebabnya, pada saat dialog kelompok pada hari keempat, saya mempertanyakan apakah cinta diri itu baik atau jahat?

 

Saya heran melihat reaksi romo yang agak bingung dengan pertanyaan saya tersebut, namun saya tidak berusaha untuk mendapat jawaban. Terima kasih kepada seorang peserta yang berkenan membagikan pengalaman masa mudanya yang kurang lebih sama dengan saya dan memberikan cukup detil penjelasan tentang kondisi saya secara psikologis. Dari penjelasan tersebut, saya mulai paham atas kondisi psikologis saya dan menjadikan pemahaman tersebut sebagai modal saya untuk “Sadar ketika tidak sadar”–demikianlah pernyataan yang romo sering sampaikan dalam retret. Sadar ketika menghadapi perlakuan dan sikap orang tua yang tidak mungkin diubah, sadar ketika batin mulai memilah-milah suka atau tidak suka dan baik atau buruk, sadar ketika kenangan masa lalu mulai merasuki diri. Sadar yang benar-benar sadar bukan hanya sekedar bangun (awake) tetapi sadar total (aware).

 

Sepertinya semua peserta retret mulai menjalani keadaan “Sadar ketika tidak sadar”, sehingga mulai pada hari kelima, semua peserta tampak lebih santai menjalani setiap sesi latihan sampai retret berakhir. Rasa kekeluargaan pun mulai tumbuh dan semua peserta mulai membuka diri untuk saling mengenal satu sama lain.

 

Pengalaman yang sampai saat ini belum mampu saya ungkapkan dalam kata, yaitu pengalaman ketika menikmati pesta kembang api pada malam tahun baru bersama semua peserta retret yang telah menjadi keluarga baru bagi saya. Saya bersama semua peserta retret melepaskan emosi kegembiraan kami ketika melihat keindahan kembang api. Kami menikmati gemerlapnya perayaan malam tahun baru seperti apa adanya dengan segala pengalaman latihan kami selama retret.

 

Meski jauh dari keluarga masing-masing, kami semua tampaknya sangat bahagia melalui malam tahun baru bersama pribadi-pribadi baru yang tumbuh menjadi keluarga yang baru bagi kami masing-masing.

 

Terima kasih kepada Romo Pembimbing karena telah berkenan memberi kesempatan kepada saya untuk kembali menjadi peserta retret. Terima kasih karena telah berkenan mendampingi perjalanan saya selama melakukan latihan meditasi bersama teman-teman selama retret.

 

Kini saya berani untuk berjalan sendiri bersama batin ini. Saya sudah mulai tidak tergila-gila atau tergantung lagi pada sahabat, TV, radio, hp atau lainnya yang selama ini hanya memberi penghiburan semu saja dan ternyata berhasil menjadi pelarian yang memabukkan.

 

Mulai saat ini saya mampu menjalani semua kewajiban dan tugas perutusan saya atas dasar keputusan yang bebas, bukan lagi sebagai pribadi yang terbelenggu oleh aturan ataupun pendapat orang tua ataupun pendapat orang lain.

 

Dalam kesadaran ini, saya mulai paham bahwa saya harus mencintai diri saya terlebih dahulu agar saya pun bisa mencintai orang lain dan segala sesuatu di luar diri saya. Sentuhan kesadaran dengan diri sendiri ini membuat saya mampu dan siap menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi nanti serta membantu saya untuk menjalani segala sesuatu saat ini seperti apa adanya.

 

Semoga semakin banyak orang, terutama kaum muda, tergerak untuk menyadari keadaannya ketika tidak sadar.*