by Sudrijanta Johanes on Thursday, 27 October 2011 at 18:39
 

Berikut adalah dialog NN dan JS tentang kematian dan kehidupan. NN, 47th, pernah mengikuti retret meditasi 10 hari, ibu 2 orang anak, penulis dan editor buku dan majalah.

======

Pernahkah Romo merasakan kematian begitu dekat dan tidak menakutkan lagi? Saya masih merasa aneh dengan apa yang saya alami. Berikut sharing-nya, mungkin Romo bisa memberi pandangan.

 

Minggu malam, 16 Oktober 2011 lalu, saya merasa sangat sedih dan menangis saat menelepon anak-anak. Saya minta maaf kepada mereka karena tidak bisa selalu bersama mereka dan supaya mereka saling menjaga sebagai saudara. Anak-anak bingung. Waktu itu suami sedang ke luar kota. Mereka berusaha menghibur, mengatakan mungkin saya kesepian. Tetapi, sebelumnya saya pernah sendirian di rumah selama sebulan, tak mengalami perasaan seperti ini. Saya katakan kepada mereka, waktu saya sudah dekat. Kalimat ini meluncur begitu saja.

 

Saya merasa hampa. Dalam kelelahan saya tertidur. Keesokan pagi saya bangun, hati terasa ringan. Tak ada ikatan emosional dengan siapa pun. Siang hari saya mengantar ibu berobat ke rumah sakit, tetapi saya tidak merasa dekat dengannya secara emosional. Saya hanya merasa seperti mengantar seseorang yang perlu ditemani ke rumah sakit. Saya tidak merasa punya anak-anak, keluarga, dan teman-teman. Saya sendirian dan bebas. Semua rutinitas berjalan biasa, berbelanja, memasak, rapat di kantor, berbincang dengan rekan-rekan kerja, tetapi tanpa emosi. Datar saja.

 

Ketika suami pulang dan saya ceritakan, ia pun melihat saya yang berbeda.  Saya berusaha membangkitkan berbagai kenangan dan keinginan, tetapi tak ada perasaan apa-apa. Saya mencari-cari, tetapi tidak menemukannya. Pada saat merasa bukan siapa-siapa lagi, membayangkan kematian tidak terasa menakutkan, hanya seperti kelanjutan dari kekosongan total dan terasa ada sosok yang begitu perkasa dan agung menguasai tubuh.

 

Agak aneh rasanya hidup tanpa emosi, tetapi ringan karena tak ada beban batin. Selama tiga hari saya alami hal itu. Sekarang masih on-off, antara ada dan tiada. Ingin mengulang seluruh pengalaman itu, tidak bisa. Lewat pengalaman tersebut saya jadi paham kalimatNya, saat Ia mengatakan: “Siapakah ibuKu? Siapakah saudara-saudaraKu?” Dan beberapa sabdaNya yang lain.

 

Mohon tanggapan Romo: (1) Apakah perkataan saya bahwa waktu saya sudah dekat – mengisyaratkan tak lama lagi saya akan meninggal? Wah, kalau begitu mesti siapkan surat wasiat dan bereskan segala sesuatu nih… (2) Mengapa diri yang sudah hilang bisa muncul kembali?

 

Salam,

NN

======

 

Dear NN

 

Kehidupan sebagai manifestasi dari gerak keinginan dan sarat dengan kelekatan-kelekatan merupakan salah satu objek identifikasi diri yang paling kuat yang mengkondisikan batin sehingga membuat batin takut terhadap kematian. Orang tahu bahwa ia tidak tahu kapan kematian tiba, tetapi ia tahu kematian itu pasti akan datang. Orang takut bukan pertama-tama karena ia tidak tahu kapan kematian itu datang. Orang takut juga bukan terhadap kematian itu sendiri karena ia tidak mengenal apa itu kematian. Orang takut justru karena enggan melepaskan kehidupan yang ia kenal yang dilekati sebagai objek identifikasi diri.

 

Ketika batin melekati kehidupan yang adalah relasi-relasi–relasi dengan anak, dengan suami, dengan keluarga, dengan teman-teman, dengan alam benda-benda, dengan ide-ide–sebagai objek identifikasi diri, maka orang terus hidup dalam ketakutan, kegelisahan, penderitaan. Bukankah kesedihan dan tangisan Anda yang muncul secara mendadak sebelum, selama, dan setelah menelpon anak-anak merupakan manifestasi dari ledakan kelekatan terhadap kehidupan itu sendiri?

 

Kehidupan yang kita lekati terentang dalam waktu. Tidak ada waktu tanpa keinginan, tanpa kelekatan, tanpa identifikasi diri. Kelekatan adalah akar penderitaan. Maka hampir sepanjang waktu kita hidup dalam penderitaan. Sayangnya, orang tidak menyadarinya atau justru ingin menolak, membuang atau menghindarinya. Tetapi energy penderitaan di alam bawah sadar itu bisa menyeruak dan menerobos control pikiran dalam bentuk mimpi saat kita tidur atau menyeruak dalam bentuk tangisan dan kesedihan tiba-tiba di siang bolong seolah tanpa sebab. Maka tangisan dan kesedihan itu adalah ledakan waktu. Bukankah demikian?

 

Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan “waktunya sudah dekat”? Apakah yang dimaksud adalah kematian sebagai pengakhiran total dari kehidupan atau pengakhiran total dari waktu itu sendiri? Apa yang terjadi setelah ledakan waktu itu berakhir? Ketika ledakan waktu berakhir, muncullah secara mendadak “kehidupan di luar waktu”. Anda mengalaminya begitu bangun tidur di pagi hari setelah “ledakan waktu” terjadi pada moment sebelum kelelahan dan tidur sepanjang malam. Ego/diri lenyap. Tidak ada lagi keinginan, kelekatan, identifikasi diri, emosi. Tidak ada lagi ketakutan, kesedihan, tangisan, penderitaan. Yang ada hanya kekosongan total yang tidak bisa dipersepsikan oleh pikiran. Dan dari kekosongan tersebut, lahirlah pengertian apa artinya kematian, apa artinya kehidupan, dan pengertian lebih mendalam makna di balik kata-kata Kitab Suci.

 

Pengalaman tanpa-diri Anda alami selama 3 hari. Ketika pengalaman tanpa-diri berakhir, Anda ingin memasukinya kembali tetapi tidak bisa dan tidak mungkin bisa. Anda bertanya, “Mengapa diri yang sudah hilang bisa muncul kembali?” Lenyapnya diri yang Anda alami tidak atau belum bersifat permanen. Kapan lenyapnya diri secara permanen terjadi? Kita tidak tahu. Tidak satupun orang tahu. Yang kita tahu dari pengalaman tanpa-diri ini adalah bahwa kematian adalah pengakhiran total dari apa saja yang dikenal oleh pikiran dan ketika kehidupan yang kita kenal ini seluruhnya berakhir, secara aktuil muncul kehidupan yang lain yang bukan berasal dari gerak waktu. Selama kehidupan bergerak dalam waktu, yang ada hanyalah kisah kesedihan dan penderitaan. Ketika kehidupan yang adalah gerak waktu berakhir secara total, muncullah kebebasan.

 

Kematian dan kehidupan yang dimengerti dengan persepsi pikiran merupakan dua moment yang terpisah. Ketika ego/diri atau pikiran runtuh seluruhnya, entah sementara atau permanen, kehidupan dan kematian bukanlah dua hal yang terpisah satu dengan yang lain. Maka mari kita meneruskan langkah untuk memasuki kematian-kehidupan sebagai satu gerak kesatuan yang tak terpisahkan.*

JS