Testimoni LDP, 68 tahun, peserta baru retret meditasi 21-23 Oktober 2011.

======
Once you choose Awareness to not being Aware, there is no turning back. Seluruh hidup akan dengan sendirinya menyesuaikan untuk senantiasa sadar. Berulang kali Romo sudah mengatakan, tidak sadar hanya membawa penderitaan. Kesadaraan memberi pembebasan dari penderitaan, dengan seketika. Beruntung sekali dapat ikut retret 3 hari, dibimbing through the spritual path of Awareness. Saya tidak tahu sudah berapa jauh perjalanan saya. Saya juga tidak tahu apa saya sudah dapat menemukan titik Hening. Menurut buku Revolusi Batin, tidak ada bekas memori bagi mereka yang sudah mencapainya. Memang sangat abstrak ya Romo, tidak dapat diraba, tidak dapat di lihat, tidak dapat dirasa. Just do it.

Tiga hari retret dengan pemahaman tentang  Daya Upaya   (hari pertama), Keinginan   (hari kedua) dan  Ego yang muncul terus (hari ketiga).  Tiap hari tiap saat ada Daya Upaya, ada Keinginan dalam berbagai bentuk yang beragam, ada Ego. Kalau sudah terasa sulit, saya ingat akan the Golden Rule: tugas utama adalah menyadari every single thought, dari saat ke saat, moment to moment. I will keep that in mind in case I loose my balance, so as to be on the right track again.

 
Ada sesuatu yang beda pada diri saya antara sebelum ikut meditasi kesadaran dan sesudahnya. Sebelumnya, jika timbul masalah, saya bisa berputar-putar dalam pikiran tanpa menemukan solusi yg memuaskan. Hanya keresahan yang menguras energi. Sekarang agak beda. Meskipun masih tetap berpikir-pikir dan berputar-putar, tetapi sekonyong-konyong pikiran bisa terbuka dan solusi datang yang ternyata begitu sederhana. It is truly amazing bahwa ini merupakan salah satu hasil meditasi kesadaran.  Kemudian dalam kehidupan sehari-hari saya tidak begitu cepat marah, meskipun kadang situasi sudah bikin saya nyaris sangat emosionil. Saya tidak tahu, what else to expect but I am forever grateful if those are the fruits of Awareness Meditation that I joined once a week since May 2011 and the 3-days retreat.


Homili pada hari minggu 16 oktober 2011, kembali kami mendapat masukan yang dahsyat, homili mengenai Intellect vs Intelligence (Pikiran vs Kecerdasan). Tiap kali Romo Sudri bicara, kami harus berpikir, dituntut berpikir.

 
Sungguh beruntung ordo Jesuit mendapat such a fine priest like you.  Tanpa mendiskreditkan siapa-siapa, jarang dapat bertemu atau dibimbing  seorang pastor yang begitu intelligent. No one can touch you there, it’s yours only!
Memang in Life kadang Good Fortune berarah kepada kita. This happened when they send you to us, the congregation of gereja Santa. May you be with us for many more years Romo. Bbe in good health and guide us through the spiritual journey of Awareness, sometimes unreachable yet sometimes within our grasps.


I have also learned and tried to understand the way of paradox, so explicit in your writings, two opposites, two extremes, but absolutely true. Awesome and overwhelming !

 
The amazing thing I discovered:   this is life in it’s purest.   Never realized before, just accept, obedient, now open and bare. Almost raw in its vulnerability, yet so human.

 
Tiap kali dibuat terkejut atas kebenaran-kebenaran yang tampak, begitu jelas, simple, tidak habis pikir mengapa dulu seperti orang tertidur dan sekarang baru terbangun.

Dari lubuk hati yang terdalam, saya sampaikan Terima Kasih.*