Bisakah dijelaskan lebih jauh mengapa proses identifikasi diri penting untuk memahami ego? Mengapa proses identifikasi diri itu terjadi dan apa dampaknya secara psikologis bagi orang yang mengalami?

 

Identifikasi diri dan hubungannya dengan ego penting untuk dipahami karena hampir selalu kita berada dalam keadaan mengidentifikasi diri dengan objek. Hidup adalah hubungan dan dalam hampir setiap hubungan ada proses identifikasi diri.

 

Identifikasi diri merupakan proses kejiwaan yang membentuk struktur ego atau diri dan sebaliknya munculnya ego atau diri memperkuat proses identifikasi diri. Objek identifikasi banyak. Tetapi proses identifikasi hanya tunggal, yaitu si aku atau si pemikir yang tidak berbeda dari pikiran melekat pada gambaran tentang objeknya: tubuhku, sifatku, barang berhargaku, rumahku, uangku, keluargaku, partnerku, kesenanganku, kebahagiaanku, kesedihanku, lukaku, penderitaanku, agamaku, kelompokku, kekuasaanku, statusku, ideologiku, ajaranku, doktrinku, Tuhanku.

 

Proses identifikasi selalu membuat konflik dalam batin karena objek yang diidentifikasi bukanlah “apa adanya”, melainkan gambaran yang dipersepsikan oleh pikiran tentang objeknya. Ketika muncul objek sensasi dan pikiran membuat gambaran atau konseptualisasi atas sensasi dan melekati gambaran atas sensasi, maka pikiran tidak menyentuh dan memang tidak bisa menyentuh “apa adanya”. Yang bisa disentuh oleh si aku atau pikiran hanya gambaran tentang objeknya, tetapi bukan objeknya itu sendiri.

 

Meskipun pikiran hanya mampu menyentuh gambaran atas objek dan melekatinya, proses identifikasi diri menciptakan sensasi psikologis tertentu. Orang merasa “Aku ada”, “Aku bahagia”, “Aku lebih kuat”, “Aku lebih bersemangat”, “Aku bergairah”, “Aku lebih percaya diri”. Identifikasi diri ini mempertebal ego. Ego itu sendiri merupakan entitas ilusif. Begitu pula proses identifikasi diri. Itu merupakan proses kejiwaan yang ilusif.

 

Dampak sosiologis dari menguatnya ego oleh identifikasi diri sangat berbahaya. Ego adalah pusat konflik. Ketika ego menguat dalam bentuk ego kelompok, maka potensi konflik dan kerusakan hidup bersama semakin besar. Misalnya, orang mengidentifikasi diri dengan Tuhan atau agama, “Tuhanku” atau “agamaku”. Lalu kelompok laskar Tuhan atau laskar agama tertentu ini tidak takut membunuh atau memusuhi orang-orang yang tidak sepaham dengan Tuhannya atau agamanya yang dipersepsikan sebagai kafir. Sekarang temukan sendiri identifikasi diri Anda terhadap sesuatu yang berdampak merusak dalam relasi-relasi Anda.

 

Mengapa terjadi proses identifikasi diri? Apakah itu terjadi karena adanya rasa takut, tidak percaya diri, merasa lemah, kerdil, tidak berharga, tidak berarti? Batin yang ingin diberi pahala, diakui, dihargai, dihormati, disanjung, dipuji karena apa yang dimilikinya adalah batin yang menderita karena terperangkap pada gambaran yang diciptakannya sendiri. Batin seperti ini tidak merasa bahagia kalau tidak ada pengakuan dari orang lain.

 

Amat sulit untuk meruntuhkan proses identifikasi sebab dalam proses tersebut orang menemukan rasa aman, rasa pasti, rasa kuat, antusiasme, semangat, gairah, spontanitas, inspirasi. Tidak mudah memutus identifikasi diri dengan barang atau orang. Lebih tidak mudah lagi memutus identifikasi diri dengan ide-ide, ajaran kebenaran dan Tuhan-tuhan sebagai konsep. Sebelum ada pengertian bahwa itu semua adalah ilusi, maka proses identifikasi yang adalah esensi dari si aku sulit diruntuhkan. Dan untuk memahami secara aktuil bahwa semua itu sebagai ilusi tidak mungkin tanpa meditasi.

 

Sesungguhnya selama ada si aku atau diri, yang ada hanya penderitaan. Tidak ada Anda di luar penderitaan. Tidak ada si aku di luar penderitaan. Tidak ada si aku di luar rasa kerdil. Tidak ada si aku di luar rasa lemah. Tidak ada si aku di luar rasa takut. Ketika rasa takut dan lain-lain itu dilihat dalam kejernihan sebagai fakta tanpa berlari mengejar apa yang bukan fakta dan batin seketika dibebaskan dari fakta yang dilihatnya, bukankah tidak ada lagi proses identifikasi? Ketika pikiran mengatakan, “Ini penderitaanku”, dan fakta bahwa “Tidak ada Anda di luar penderitaan” dilihat dalam kejernihan, bukankah si aku lenyap dan penderitaan juga lenyap seketika?

 

Cermatilah, sadarilah, tangkaplah, kapan si aku muncul dan mendistorsi fakta “apa adanya”. Bisakah pergerakan awal dari proses identifikasi diri, yaitu ketika pikiran menciptakan gambaran atau konseptualisasi atas objek dan melekatinya, disadari dan dibiarkan runtuh?*

 

(Dialog 2 September 2011 pada kesempatan retret 10 hari).