Testimoni KZ, 32 tahun, Katolik, Wiraswasta, Palembang

 

Terasa sangat sulit untuk mulai menulis. Rasanya tidak mudah untuk menuangkan sekian banyak pengalaman yang tak terduga yang mengalir secara alami selama 10 hari. “Mengalir secara alami” rasanya sudah sangat jauh dari kehidupanku sejak lama. Memang aku tidak pernah mengijinkan hidup itu mengalir secara alami. Buatku, akulah yang harus mengatur kehidupanku. Nasib ada di tanganku sendiri. Itu prinsipku setidaknya sampai aku menjalani retret. Akhirnya retret ini meruntuhkan semua prinsip itu.

 

Aku hadir dalam retret dengan sebuah keinginan besar. Meski sudah berkali-kali diingatkan oleh Rm Sudri agar dilepaskan, tak juga mampu aku lepaskan. Ada keinginan untuk memahami jalan meditasi ini dengan sebaik-baiknya, agar kelak ketika aku pulang, aku mampu menjalani sebuah kehidupan yang benar-benar baru. Aku ingin sebuah kehidupan yang akan aku jalani dengan pandangan yang jernih dan penuh damai. Aku mengharapkan sebuah kehidupan baru yang bebas dari konflik batin dan pergulatan dengan diri sendiri. Selama retret aku baru menyadari, bahwa aku sudah benar-benar muak dengan pola kehidupan yang aku jalani selama ini dengan berbagai konflik yang tak kunjung henti.

 

Aku hadir dalam retret dengan sebuah persepsi mengenai diri yang teramat logis. Persepsi tentang diri ini membuat aku kebat-kebit dan bertanya dalam hati, “Mampukah aku menjalani meditasi ini karena pikiran justru menjadi penghambat utama di jalan ini? Mampukah aku melepaskannya?” Pertanyaan itu muncul karena kebiasaan merasionalisasikan segala sesuatu terasa sudah begitu mengakar dalam diriku. Buatku logika adalah segalanya. Buatku logika adalah ukuran yang paling utama.

 

Pertanyaan-pertanyaan itu menciptakan ketegangan yang luar biasa besar, tetapi tidak aku sadari sama sekali. Empat hari pertama dalam retret, setiap kali Romo meminta semua peserta untuk melihat ketegangan yang ada baik pada fisik maupun batin, aku tak pernah menemukannya. Yang aku alami justru pergulatan dengan pikiran yang tak berhenti berceloteh di satu sisi, dan menyanyi di sisi yang lain. Aku merasa sangat terusik dengan kehadiran celotehan dan lagu-lagu yang seolah berperan sebagai background music (music latar) yang mengiringi celotehan-celotehan yang ada. Pikiran sibuk melabeli setiap sensasi yang ada, dan membuat analisa-analisa dari setiap hal yang melintas. Menjengkelkan sekali.

 

Pernah suatu saat dalam meditasi aku melihat dan memahami bahwa semua penderitaan yang aku alami di masa lampau bukanlah disebabkan oleh luka yang ditorehkan orang lain. Bukan luka itu ataupun orang yang menorehkan luka itu yang membuat aku menderita. Bukan itu penyebabnya, melainkan kotoran-kotoran batinku sendiri, yaitu keinginan-keinginan untuk menolak semuanya itu, keinginan-keinginan untuk mengatur kehidupanku sedemikian rupa sehingga sempurna seperti yang aku mau. Itu semualah yang membuatku menderita.

 

Aku tak menyangka bahwa pada akhirnya aku tiba pada pemahaman itu. Semuanya itu mengalir secara alami, tanpa ada usaha sedikitpun dariku untuk memahami hal itu. Pemahaman itu berlangsung sangat cepat, hingga akhirnya muncul lagi sebuah suara dalam benakku yang mulai menganalisa apa yang baru aku temukan dan pikiran mulai berceloteh lagi panjang lebar. Setelah itu muncul lagi sisi pikiran yang mempertanyakan, “Sungguhkah yang baru aku dapatkan adalah sebuah insight, ataukah itu hanya hasil analisa dari logika?” Gerak pikiran terus berlanjut dan semakin ramai. Aku mulai terseret kedalam kegaduhan pikiranku sendiri. Aku mencoba untuk kembali sadar dan mengamati tanpa terlibat di dalamnya.

 

Dari celotehan-celotehan yang tidak pernah berhenti mengalir, aku baru menyadari bahwa betapa batin ini sangat menyukai kepuasan intelektuil. Betapa kepuasan intelektuil itu membuat aku begitu melekat dan ingin terus menikmatinya. Menganalisa dan menganalisa. Setiap saat berhasil menemukan buah analisa yang menurutku cemerlang, aku bahagia layaknya seorang pemenang hadiah utama.

 

Buah analisa yang cemerlang itu akan terus terulang dalam benakku. Setiap terjadi pengulangan (repetition), ada sensasi damai dan puas. Itu hanya berlangsung sesaat, hingga pikiran kembali bergerak untuk menganalisa objek lain, dan berusaha menemukan kepuasan inteletuil yang lain, dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.

 

Aku mulai melihat proses ini secara perlahan. Tak menyangka bahwa dalam keheningan, proses ini dapat tertangkap dengan cukup jelas. Namun melihat dengan jelas proses ini, tidak lantas membuat pikiranku berhenti berceloteh. Aku mulai gelisah. Sepertinya ada objek-objek lain yang lolos dari pengamatanku dan kelolosan itulah yang membuat pikiranku hingga detik itu tidak juga berhenti bergerak.

 

Suatu saat aku melihat bahwa proses pengamatan yang aku lakukan dalam meditasi ternyata sudah tersaring dengan sendirinya. Yang muncul sebagai objek adalah hal-hal yang biasa saja, hal-hal yang menurutku “aman”. Hal-hal yang menurutku “tidak aman” tidak pernah muncul. Siapakah yang melakukan filter itu? Aku menemukan fakta itu, namun aku tidak memahami, bagaimana proses itu bisa terjadi dan subjek apakah yang melakukan proses penyaringan itu.

 

Tidak ada hal yang bisa aku lakukan selain mencoba untuk mengamati dan hanya mengamati saja setiap celotehan atau apa pun yang diciptakan oleh pikiran yang tak pernah bisa diam. Namun lagi-lagi masuknya daya upaya dalam pengamatan menguras energi tanpa aku sadari, hingga pada separuh perjalanan retret, aku mulai kehabisan tenaga untuk latihan dan mulai ambruk.

 

Pada hari ke-6 retret, aku bahkan sudah tak mampu untuk meditasi lagi. Batinku resah luar biasa. Tak ada yang tersisa selain rasa ingin menangis. Aku mencoba bicara dengan Romo untuk menemukan jalan keluar dari kondisi yang ada. Romo mengatakan bahwa kesadaranku belum kuat, sedang objek yang muncul kekuatannya melebihi kesadaranku, dan itu membuat batin terus menerus terseret oleh objek. Beliau menyarankan aku untuk meningkatkan kesadaran mulai dari sensasi yang kasar, yaitu sensasi tubuh, baru setelah itu ke sensasi yang lebih halus dalam batin. Bila muncul pelanturan lagi, maka kembali lagi ke sensasi kasar, baru setelah itu ke sensasi yang halus lagi. Terus berputar.

 

Aku menjalani apa yang disarankan Romo. Pada saat pelanturan semakin ramai dalam meditasi duduk, maka aku mengalihkan latihan ke meditasi yang lebih banyak melibatkan gerak fisik. Gerak fisik membantu aku untuk hadir sepenuh-penuhnya dalam setiap gerak yang ada tanpa banyak melibatkan pikiran. Untuk sesaat, meditasi jalan (walking meditation) membuat aku cukup rileks. Hingga akhirnya aku menemukan bahwa bahkan dalam proses melihat dengan indra, begitu banyak distorsi yang muncul. Yang aku lihat dalam proses itu, sama sekali bukan apa yang sesungguhnya ada di depan mataku. Yang ada adalah lamunanku. Yang aku lihat adalah gambaran-gambaran yang diciptakan oleh pikiranku sendiri. Demikian pula saat mendengar indera. Yang aku dengar bukan hanya suara gemerisik daun-daun yang diterpa angin, tapi ada background music yang hingga saat itu masih tak bisa diam. Menemukan hal itu aku mulai gelisah lagi. Aku bahkan tak mampu lagi untuk melihat gerak batin yang menolak dan berusaha untuk meniadakan semua distorsi itu. Aku hanya bisa menemukan diri yang semakin tenggelam dalam kotoran batin yang semakin menebal, dan aku mulai benar-benar kehabisan tenaga dan tak tahu harus berbuat apa.

 

Karena aku sudah tak punya tenaga lagi, maka tidak ada lagi yang bisa aku lakukan selain berusaha untuk rileks, dengan harapan aku bisa mengumpulkan sedikit saja tenaga untuk kembali melanjutkan latihan. Dalam latihan yang aku lakukan di titik ini, aku menemukan diri tidak sedang melatih kesadaran, tapi latihan konsentrasilah yang sedang aku lakukan. Tubuh terasa amat penat dan punggung terasa nyeri. Aku sudah tak mampu fokus sama sekali. Satu saja gerakan dari peserta lain, sudah membuyarkan semua konsentrasiku. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kamar untuk menenangkan diri dan mencoba untuk latihan sendiri tanpa gangguan gerakan dari orang lain.

 

Di kamar, aku mencoba untuk rileks sekali lagi, mencoba untuk mengumpulkan kembali sedikit tenaga untuk meneruskan latihan. Daya upaya memang sia-sia. Tetapi tahu secara teoretis memang bukan jaminan bisa menghentikan daya upaya. Saat itu aku merasa nol besar. Tidak dapat apa-apa. Ahh, lagi-lagi tujuan dan keinginan masih juga belum terlepaskan.

 

Relaksasi yang aku lakukan membuatku ada di posisi setengah tidur, antara tidur dan bangun. Suatu saat tiba-tiba aku melihat bayangan seseorang yang sedang duduk meditasi. Aku sadar akan apa yang tengah berlangsung. Orang itu tidak lain adalah diriku sendiri. Aku sedang mengamati diriku sendiri, duduk meditasi, dan betapa tegangnya proses latihan meditasi yang dilakukan. Mengapa aku tak merasakannya bahkan ketegangan fisik yang paling kasar sekalipun selama proses latihan itu? Kenapa aku harus mundur dan mengamati kembali proses latihan, dan di sana aku baru bisa menemukan ketegangan itu?

 

Setelah menemukan ketegangan dalam kondisi relaksasi itu, sensasi yang berhubungan dengan diri yang tidak ingin aku lihat muncul seketika, secara serentak, dan menjadi tak tertahankan. Tak tertahankan karena pada akhirnya aku menyadari bahwa sesungguhnya aku teramat takut untuk menghadapinya. Aku menolak kehadiran diri yang tak kusukai itu. Munculnya objek-objek itu membuat aku bangun. Aku bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

 

Aku berusaha secepatnya menemui Romo dan menceritakan semua yang baru saja terjadi. Romo menjelaskan hal itu terjadi karena aku masih menggunakan pikiran, dan pikiran tak mampu melihat dirinya sendiri. Itu sebabnya aku harus mundur dulu dari proses latihan dan dari sana aku baru mampu melihat proses yang sudah dijalani. Sejak saat itu, aku baru memahami bukan hanya secara intelektuil bahwa memang kondisi rileks sangat dibutuhkan dalam latihan, dan itu hanya bisa dicapai bila daya upaya tidak ada. Memahami itu membuat aku merasa sedikit lega.

 

Kemudian bagaimana dengan objek mengenai diri yang tak kusukai itu? Romo mengatakan bahwa bila ada yang tidak disukai, maka pikiran akan secara otomatis meniadakannya, dan tidak akan memunculkannya sebagai objek. Itulah jawaban dari proses filter yang sempat aku temukan beberapa hari sebelumnya. Pikiran secara otomatis hanya memunculkan objek-objek yang menurutnya aman.

 

Dengan memahaminya, aku menjadi sedikit lebih rileks dari biasanya. Pada akhirnya aku menemukan bahwa salah satu yang menyebabkan ketegangan dalam meditasi duduk adalah pikiranku yang terkondisi bahwa untuk meditasi punggung harus tegak, sedang struktur tulang punggungku yang faktuil adalah sedikit bungkuk. Daya upaya yang muncul dari pikiran yang terkondisi ini tanpa aku sadari menimbulkan konflik yang pada akhirnya berujung pada munculnya ketegangan. Selain tentunya berasal dari konflik-konflik batin lainnya yang lebih halus namun belum berhasil aku selesaikan.

 

Pemahaman yang muncul dengan mengalaminya langsung membuatku mampu mempertahankan kondisi rileks yang sudah dicapai, dan dalam 1-2 hari berikutnya aku mampu meditasi dalam kondisi yang lebih santai, tak setegang biasanya dan tentunya tak selelah biasanya.

 

Hingga pada suatu saat, pada saat meditasi, sebuah objek berupa ingatan mengenai percakapan dengan seorang pendoa karismatik yang sempat mendoakan aku pada bulan Januari yang lalu, muncul secara tiba-tiba. Ingatan mengenai Roh Kematian yang menurut Ibu Tin sangat dekat denganku dan menyebabkan aku depresi selama belasan tahun dan selalu merasa ingin mati itu muncul dalam bentuk sepasang mata yang menatapku tajam dari balik kegelapan malam. Tak ada yang aku lihat selain sepasang mata itu, dan setelah kemunculan mata itu, tanganku mulai terasa panas dingin, seperti ada energi yang mengalir berputar mengalir di kedua tanganku, dan pungung yang semula tidak nyeri, mendadak terasa nyeri melebihi biasanya. Begitu bel berbunyi, aku langsung bangun dan melangkah keluar untuk melanjutkan latihan dengan meditasi jalan dengan harapan sensasi itu berhenti.

 

Pada saat berjalan keluar, aku merasa blank (kosong). Aku tahu yang baru saja menghampiri batinku adalah objek, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan pada objek itu. Bingung hingga langkah kakiku tak seperti orang yang melakukan meditasi jalan, tapi seperti orang yang sedang bingung dan berpikir keras untuk menemukan solusi. Aku menyadari penuh gerak kakiku yang cepat dan pikiranku yang bergerak kencang saat itu. Tapi aku ingat pesan Romo, selagi batin masih bergerak, maka yang harus aku perhatikan adalah batin, bukan objek. Hingga batin berhenti bergerak, pengamatan baru bisa dialihkan pada objek hingga objek itu hilang secara alami. Dan itu aku lakukan dengan perlahan dan sangat hati-hati. Aku mengamati batinku yang menolak rasa takut yang aku temukan teramat besar, melebihi kesadaranku sendiri. Aku menemukan batinku terkejut. Tak menyangka bahwa hal ini akan muncul sebagai objek. Objek ini tidak pernah muncul di benakku. Rasa depresi dan rasa ingin mati itu tak pernah menghampiriku lagi sejak 4 bulan terakhir ini, apalagi sampai merasa takut dengan vonis itu. Tapi ternyata aku salah. Persepsi itu tetap tersimpan rapi dalam pikiran bawah sadarku, dan adanya rasa takut yang menyertainya pun, tak pernah kusangka ternyata masih ada.

 

Memahami apa yang dialami batin membuat objek itu berhenti tanpa aku harus bersusah payah menaklukkannya. Setelah batin diam, rasa takut itu pun berangsur hilang. Aku yakin bahwa yang aku lihat barusan adalah manifestasi dari ketakutanku sendiri yang tidak aku sadari keberadaannya. Karena pada sesi dialog sebelumnya, Romo sempat bercerita tentang pikiran yang bisa menimbulkan manifestasi bahkan ke kondisi fisik seperti rasa sakit. Dalam batin yang tenang, aku merasa kagum pada kekuatan keheningan dalam mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri kita.

 

Pengalaman ini aku ceritakan pada sesi dialog pada hari berikutnya. Romo menjelaskan bahwa apa yang aku lihat bukan lah Roh, tetapi manifestasi visual dari pikiranku sendiri.  Namun ada baiknya aku menemukan, sepasang mata itu sebenarnya apa. Itu belum aku temukan hingga detik ini.

 

Setelah pengalaman itu, sesi meditasi berjalan seperti biasa, tanpa ada fenomena-fenomena yang mengejutkan. Yang jelas hingga retret berakhir, aku berada pada kondisi yang tidak lagi setegang masa awal retret. Gerak batin yang menolak dan menerima atau memilih-milih sudah semakin berkurang dan terasa lebih mudah untuk masuk ke dalam keheningan. Keheningan ini melahirkan rasa damai yang luas dan dalam tak terbatas dan belum pernah aku alami sebelumnya dalam hidupku.

 

Tanggal 7 September aku tiba kembali di Palembang, kota kelahiran sekaligus tempat tinggalku sekarang. Begitu tiba di rumah, sejumlah sensasi muncul serentak secara tiba-tiba. Aku menemukan rasa jengkel, marah, dan yang paling dominan adalah sedih. Rasanya ingin menangis keras-keras. Aku baru sadar, bahwa sungguh aku tak ingin pulang. Aku terseret berkali-kali ke dalam kesedihan. Aku menemukan rasa ingin lari dari kenyataan. Aku menemukan rasa malas untuk menghadapi semua fakta yang ada di depan mata. Dan saat itu tindakan untuk lari itu pun sudah menjadi kenyataan. Aku meredam semua rasa yang tak menyenangkan itu dengan menyetel musik keras-keras. Tibalah aku pada sebuah ingatan akan pengalamanku mengenai background music yang tak bisa berhenti bergaung di benakku pada masa retret berlangsung. Itukah bentuk pelarianku? Sungguhkah aku seorang pencinta musik yang sejati seperti yang aku kira selama ini, ataukah musik hanya sekedar sebagai hiburan untuk rasa tidak nyaman yang aku rasakan dan pelarian yang tersembunyi, atau pengisi kekosongan yang terasa agar kekosongan itu tak terasa teramat menyiksa ? Ya, aku sudah menemukan jawabannya. Gerak batin yang kalut sedikit mereda seketika. Dan kehadiran music di benak ini sudah sangat jarang muncul hingga kini.

 

Rasa sedih masih muncul hingga hari ke-3 setelah retret, meski ia muncul dengan intensitas yang semakin berkurang pada tiap kemunculannya. Energi untuk menyelami lebih dalam kesedihan itu akhirnya muncul pada hari itu. Akhirnya aku memahami bahwa yang membuat aku sedih tidak lain adalah keinginan baru yang diciptakan oleh pikiranku sendiri. Lagi, muncul keinginan untuk melekat pada keheningan intens yang kualami pada saat retret, yang rasanya tidak akan mungkin lagi aku temukan di rumah. Fakta kehidupan sehari-hari yang hiruk-pikuk membuat aku takut. Betapa pikiran bisa menciptakan semuanya itu tampak begitu nyata dan meyakinkan. Betapa pikiran bisa menyembunyikan kesan ilusif dari apa yang diciptakannya. Dan betapa kita mudah untuk tertipu bila kita tidak sadar. Memahami keaslian dari semua sensasi yang ada, membuat semuanya itu menghilang tanpa harus bersusah payah meniadakannya.

 

Meminjam perumpamaan dari Ajahn Chah, aku memahami bahwa kesedihan dan kemarahan yang aku rasakan sama dengan seorang yang duduk di tengah jalan raya, dan berteriak keras dengan penuh amarah pada setiap mobil yang melaju kencang ke arahnya agar menjauh darinya. Ya, aku sama dengan orang itu. Aku marah dengan dunia nyata yang penuh hiruk-pikuk, yang terasa mengancam keheninganku. Aku ingin mengendalikan semuanya, dan semua keinginan itu adalah sia-sia.

 

Pikiran sangatlah terbatas kemampuannya. Pemahaman itu pada akhirnya membawaku pada intensitas berpikir yang semakin bekurang. Seperti kata Romo, berpikir hanya pada saat diperlukan. Dan selebihnya, energi digunakan untuk mengembangkan kesadaran, menikmati keheningan yang membawa kedamaian yang tak terbatas itu di tengah hiruk pikuk kehidupan sehari-hari.

 

Kotoran batin yang melekat mungkin masih ada, dan bahkan mungkin masih banyak. Aktivitas “wait and see” (“tunggu dan lihat”) terasa mulai mengalir secara alami. Baik objek maupun kotoran batin pada akhirnya terpahami dan menghilang dengan sendirinya saat disadari. Aku terus berjaga agar tak tercipta kotoran batin yang baru. Ini adalah kondisi terakhir di mana akhirnya aku selesai menuangkan semua pengalaman yang ada. Tujuan yang semula tak mampu aku lepaskan lenyap entah kemana. Bagiku yang penting saat ini adalah melangkah dan hanya melangkah dalam kesadaran yang penuh. Hidup sepenuh-penuhnya dari saat ke saat, hingga sepenggal kalimat yang aku sukai sejak dulu tidak lagi hanya sepenggal kalimat favorit, tapi terealisasi dalam kehidupan nyata saat ini: “My daily life is my true Temple.” (“Tempat kekudusanku ada dalam kehidupan sehari-hari”)

 

Terima kasih sebesar-besarnya untuk Rm Sudri yang sudah menyelenggarakan retret yang luar biasa ini. Terima kasih sudah membimbing kami semua melebur dalam keheningan yang tak terbatas yang pada akhirnya membuat kami bertemu dengan kedamaian sejati. Terima kasih juga untuk sahabat-sahabat panitia yang sudah memberikan pelayanan yang luar biasa. Dan juga untuk semua peserta retret, terima kasih atas kebersamaan yang sudah terjalin dalam keheningan.*