Testimoni AWJ, 36 tahun, Katolik, Pekerja Lepas

 

Usai misa pembukaan, Pastor Sudrijanta menjelaskan tentang retret meditasi yang berlangsung selama 10 hari. Dari soal apa yang perlu dilakukan para retretan hingga apa yang terlarang dibuat selama retret. Dari perihal apa itu meditasi sampai bagaimana disposisi hati yang hendaknya dibangun para peserta retret. Melalui uraian tersebut saya mulai dapat melihat bahwa olah batin yang sudah setiap hari saya lakukan sejak pertengahan Januari 2008 termasuk ke dalam meditasi dengan objek. Dalam waktu 10 hari retret ini saya diajak mengalami meditasi yang tanpa objek. Meditasi yang menjadikan gerak batin yang ada sebagai ruang gerak bagi kesadaran untuk bangun dan tumbuh.

 

Jika selama ini saya bermeditasi, berkontemplasi, dan berulang kali membatinkan perikop-perikop Injil serta membuat refleksi atasnya, maka kini saatnya bagi saya untuk menyadari terus-menerus gerak batin yang terjadi tanpa mengikuti atau pun menolak keinginan untuk menambahkan atau menguranginya. Sebagai contoh fakta saya menghirup aroma pepohonan. Sebelum retret ini saya akan berfokus pada adanya bau yang tercerap oleh indera saya sedangkan dalam retret dengan peserta 20 orang ini saya tidak boleh berhenti pada adanya harum pepohonan, suara-suara, atau sentuhan-sentuhan halus pada indera saya. Mulai kini saya harus menyadari adanya gerak batin yang berlangsung ketika hal-hal di atas datang menghampiri.

 

Posisi meditasi yang diperkenalkan oleh Pastor Sudrijanta sebagai pendamping retret adalah posisi duduk, posisi berjalan, dan posisi berbaring. Posisi duduk (bersila dengan kaki kanan di atas paha kiri atau sebaliknya) langsung memberi sensasi sakit pada kaki saya. Luar biasa sensasi tersebut meskipun saya sudah terbiasa (sekitar 40 menit setiap harinya) untuk duduk setengah lotus seperti ini.

 

Lewat pendampingan, kesungguhan dan ketekunan berkanjang dalam duduk berteman sakit membuat saya akhirnya ngeh (mengerti) bahwa saya harus lebih memperhatikan gerak batin yang muncul ketika sakit pada kaki datang dan menguat. Timbul kesadaran adanya keinginan untuk bisa duduk lebih lama agar memperoleh sesuatu selama bermeditasi. Keinginan ini menghadirkan rasa tidak suka pada sensasi berupa rasa sakit di kaki. Rasa tidak suka melahirkan keinginan untuk meluruskan kaki sekaligus keinginan untuk terus bertahan. Datang juga pikiran tentang apa yang ada setelah rasa sakit ini kutaklukkan. Kesemuanya menimbulkan ketegangan, kebingungan, dan akhirnya pergumulan.

 

Saya terus menyadari semuanya sampai perlahan-lahan terbit kesadaran tentang adanya si aku yang menderita atas sakit dan peperangan batin yang ada. Terang kesadaran terus-menerus mulai meredakan gerakan-gerakan batin tersebut. Tinggal rasa sakit yang tersisa. Rasa sakit tanpa keinginan untuk begini-begitu. Lalu mulailah rasa sakit mengurai dirinya. Tidak ada lagi rasa sakit yang tunggal dan utuh. Nyatanya sakit di kaki itu menghadirkan sensasi-sensasi yang berbeda di dalamnya. Rasa sakit itu terbagi dalam titik-titik. Tiap kali titik-titik itu ditangkap kesadaran, maka mereka mulai sirna dan selalu ada titik rasa sakit yang terbesar dan terkuat di antara mereka.

 

Ada semangat untuk menambah waktu duduk demi mengetahui sesuatu yang saya pikir pastilah besar dan berharga di balik rasa sakit itu. Setelah waktu yang ditentukan oleh batin terlewati akhirnya saya sadar bahwa yang ada di balik rasa sakit itu bukan sesuatu yang lain yang tidak saya kenal melainkan keinginan untuk mengalahkan rasa sakit. Ada keinginan untuk mengubah rasa sakit menjadi sesuatu yang lain dan ada keinginan untuk mengalami pencerahan setelah rasa sakit lewat. Kesadaran membuat rasa sakit pada kaki saat bermeditasi duduk itu sudah tidak mengganggu lagi dan sudah tidak menghasilkan gerakan-gerakan batin bagai sebelumnya.

 

Selain sensasi sakit ternyata ada juga ingatan yang tanpa bosan dan lelah hadir ke dalam batin. Objek itu menunjukkan adanya luka lama yang ingin saya buang tapi, toh, tetap ada. Luka yang menghadirkan fakta bahwa saya sulit untuk memaafkan. Saya tidak suka semua itu sebab ternyata saya belum sebaik yang saya sangka. Meditasi yang saya lakukan terus menghadirkan gerakan-gerakan batin setiap kali objek tersebut datang. Keinginan untuk menolak ingatan tersebut membuat keinginan untuk melenyapkannya turut muncul. Rasa marah, rasa tidak berdaya, dan keinginan untuk lari membuat si aku yang menderita muncul dan tertangkap oleh kesadaran.

 

Saya merasa tidak tahan atas semua itu. Ada pikiran untuk lari pada doa dan rokok. Akhirnya saya pilih merokok saja namun sebatang pun tidak bisa habis. Ada rasa malu karena menyerah pada objek tersebut. Ada keinginan menaklukkan si objek yang perlahan melemah menjadi sekadar menghadapinya saja, namun saya tetap tidak tahu harus bagaimana. Kemudian saya mengetuk pintu kamar Pastor Sudrijanta untuk ber-sharing. Dialog tersebut menghadirkan disposisi hati yang berbeda terhadap ingatan itu. Kini si ingatan saya sikapi sebagai teman spiritual saya dalam mengisi hari-hari retret. Meditasi pun saya bangun kembali dengan kesungguhan dan ketekunan.

 

Pada sebuah sesi meditasi berjalan (walking meditation) saya menyadari rasa dingin yang begitu menyerap kesadaran. Rasa dingin yang menyentuh tubuh tersebut membuat adanya gerakan pada batin tetapi kesadaran segera menangkapnya pada saat kemunculan gerakan-gerakan itu. Ada keheningan yang mampu menyadari apa yang terjadi di dalam batin dan apa yang terjadi di luar batin. Rasa dingin pada tubuh nyatanya menciptakan si aku yang menghadapi sensasi tersebut. Si aku yang sedang berusaha menghilangkan rasa dingin tersebut tertangkap kesadaran. Keinginan untuk menolak dan mengubah sensasi dingin makin membuat nyata si aku yang menderita karena berjuang mewujudkan hasrat tersebut.

 

Saya terus berkanjang dengan gerak batin sebagai jangkarnya. Batin mulai tenang lagi setelah gerakan-gerakannya berpulang kembali pada objek yang berupa rasa dingin. Kesadaran bahwa objek menciptakan subjek menyengat saya. Ada tubuh yang bergerak, ada sensasi dingin, ada objek-objek luar dan dalam batin, dan kesadaran menangkap kehadiran semuanya itu di tempatnya masing-masing.

 

Lalu ketika bermeditasi duduk hal tersebut, bahwa objek menciptakan subjek, tertangkap kesadaran  kembali. Batin, tubuh, tenda, rerumputan, dan lainnya saling menjalin. Ya, kesadaran menangkap keterjalinan semua itu. Apa yang ada dalam batin jalin-menjalin dengan apa yang ada di luar batin. Rasa damai menggerakkan batin. Ada si aku yang ingin menetap di sana. Ada rasa bahwa tidak mungkin lagi menghidupi kehidupan seperti sebelum retret. Juga lantas timbul rasa ngeri tentang hidup macam apa yang nanti bakal dijalani. Semua gerakan batin tersebut tidak dapat lolos dari terang kesadaran.

 

Saat sesi dialog bersama, saya mengerti bahwa semua itu datang dan pergi. Apa yang dibutuhkan adalah kesadaran terus-menerus dari saat ke saat akan gerakan-gerakan batin pada waktu kemunculannya. Saya pun diminta Pastor Sudrijanta untuk lebih memperhatikan gerak batin yang berlangsung daripada berfokus dan mengikuti atau menolak sensasi-sensasi yang datang silih berganti.

 

Proses menyadari berlangsung tanpa daya upaya. Bahkan dalam posisi berbaring pun kesadaran dapat menangkap gerak batin yang ada. Sampai tiba saat kesadaran mendapati adanya kelekatan yang ternyata sudah menjadi motor sejarah hidup saya sejak masih kanak-kanak. Pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan dalam hidup saya nyatanya terjadi untuk mendapatkan kelekatan tersebut. Penolakan-penolakan dan penghindaran-penghindaran yang telah saya buat juga hanya reaksi dari kelekatan itu. Tidak terkecuali ingatan yang kerap muncul selama meditasi. Dalam retret ini saya mengerti bagaimana menyikapinya. Bukan lagi mengikuti dan membuang kelekatan itu (yang dalam kesadaran tampak sebagai kelekatan juga) melainkan menyadari gerak batin yang timbul akibat kelekatan tersebut.

 

Kesadaran yang mulai tumbuh tidak memberi kesempatan pada keinginan diri untuk berubah menjadi sesuatu yang lain atau pun hasrat mendapat pencerahan untuk memperkeruh kolam batin. Semua itu tidak relevan lagi. Menyadari apa yang terjadi dalam batin waktu kesadaran menyentuh objek-objek tanpa memilih nyatanya jauh lebih berharga.

 

Selesai misa penutupan, pendamping retret membacakan janji pemeditasi yang diikuti para retretan. Janji untuk menyelamatkan segala makhluk yang tak terhitung banyaknya dan janji untuk tetap setia menempuh jalan kesadaran yang luas sekaligus dalam tak terkira.

 

Terima kasih mendalam saya sampaikan untuk Pastor Sudrijanta, Panitia Retret, dan Teman Retretan atas semua pengalaman ini. Sekali lagi, terima kasih.*