MAX KUSNADI:

 

“Romo apakah bila memiliki ego tetapi tdk melanggar hak-hak orang lain tetap salah ? Apakah bila memiliki ego tetapi menempatkan nya secara hirarki dibawah kehendak Nya juga salah ?

 

Apakah boleh bila kita tetap terikat dengan karya-karya kita di bumi tetapi menyerahkan hasil nya kepada Nya ?

 

Apakah boleh kita berusaha se maximal mungkin di bumi ini tetapi di akhiri dgn : Jadilah Kehendak Mu saja . . . ? Bukankah kita di tempatkan di bumi ini dengan tugas utk bekerja demi kemuliaan Nya ? Mohon pencerahan nya Romo, terima kasih . . .”

 

SUDRIJANTA:

 

Pertama-tama musti dijernihkan dulu dari sudut mana Anda bertanya soal salah dan benar? Apakah Anda bertanya dari teori atau posisi intelektual tertentu? Kalau Anda sudah memiliki posisi intelektual tertentu dan Anda bertanya soal salah dan benar dengan latar belakang posisi tersebut, bukankah sebenarnya Anda sudah memiliki jawabannya?

 

Posisi intelektual ini menentukan jawaban salah dan benar dari suatu perkara. Demikian pula kalau Anda belajar dari orang lain hanya untuk melihat perkara dari posisi intelektual yang berbeda, maka sesungguhnya Anda belum keluar dari problem yang Anda hadapi. Posisi intelektual sebagai latar belakang dalam memahami perkara, itulah masalahnya.

 

Kalau kita memahami perkaranya tanpa posisi intelektual apapun, maka ada kemungkinkan muncul persepsi langsung atas perkaranya. Persepsi langsung (bukan persepsi pikiran) inilah yang membuat kita memahami yang salah sebagai salah dan benar sebagai benar. Salah dan benar di sini tidak diukur oleh kesesuaian atau ketidaksesuaian dengan moral.

 

Kedua, perlu dijernihkan pula apa yang dimaksud dengan ego/diri. Bagi saya ego/diri itu tidak lain adalah pikiran atau keinginan dengan segala manifestasinya. Ada pikiran atau keinginan fisikal dan ada pikiran atau keinginan psikologis. Di satu pihak pikiran fisikal kita butuhkan untuk kelangsungan hidup, sementara di pihak lain pikiran atau keinginan psikologis menciptakan banyak problem psikologis dan spiritual.

 

Misalnya, kalau Anda hidup berkekurangan, Anda bekerja keras didorong oleh keinginan untuk hidup berkecukupan. Itu hal yang wajar. Tetapi kalau Anda bekerja keras agar menjadi kaya raya tanpa batas dan lewat kekayaan Anda mengejar kekuasaan tanpa batas, maka kerja keras Anda sudah ditunggai oleh keinginan psikologis yang akan makin mempertebal ego Anda.

 

Ketiga, kerja keras demi kemuliaan Tuhan merupakan manifestasi dari egoisme yang halus selama pikiran atau keinginan psikologis menjadi penggerak utamanya. Kalau pikiran atau keinginan psikologis dalam diri para laskar Tuhan tidak runtuh, maka para pejuang bagi kemuliaan Tuhan hanya menipu diri mereka sendiri karena mereka sesungguhnya berjuang untuk kepentingan ego halus mereka sendiri dan bukan demi kemuliaan Tuhan.

 

Cermatilah ungkapan berikut ini:

(1) “Aku akan bekerja keras bagi Tuhan” merupakan contoh ungkapan orang yang egonya masih kuat.

(2) “Aku akan bekerja bersama Tuhan” merupakan contoh ungkapan orang yang egonya kurang kuat.

(3) “Bukan lagi aku, tetapi Tuhanlah yang bekerja di dalam ini” merupakan contoh ungkapan orang yang sudah runtuh egonya.

 

Keempat, kehendak Tuhan tidak mungkin ditemukan kalau kehendak ego/diri tidak runtuh. Kalau orang mengaku melaksanakan kehendak Tuhan dan bekerja melulu demi kemuliaan Tuhan, tetapi tidak mau menanggalkan kehendak ego/dirinya (self-will, self-love, self interest), maka ia tidak jujur dengan dirinya sendiri.*