Bagi kebanyakan orang, seks merupakan suatu masalah. Setiap orang memiliki hasrat seks dan mendambakan kasih sayang. Orang memang menemukan kasih sayang, kemesraan, keintiman, keakraban, kenikmatan dalam seks, tetapi dalam bentangan pengalaman itu terdapat juga ketakutan dan kepedihan. Kita akan menyelidiki bersama hubungan seks dan kasih sayang dan bertanya mungkinkah kita mengalami kasih sayang sejati yang bebas dari kenikmatan dan kepedihan.

 

Kenikmatan dan Penderitaan

Orang tahu dalam seks ada kenikmatan. Karenanya orang menyukainya. Tetapi orang tidak bisa begitu saja mengekspresikan kebutuhan seksual seperti seekor ayam. Masyarakat membuat aturan sosial. Hasrat seks musti diatur agar tidak menimbulkan kekacauan. Muncullah institusi yang disebut keluarga. Lalu orang kawin atau dikawinkan dan menikmati seks dengan pasangannya.

Dalam institusi keluarga, orang merasa sah melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Tindakan seks menjadi wujud ekspresi cinta yang paling indah. Ketika seks diperlakukan sebagai alat pemuas kebutuhan biologis atau psikologis belaka, bukankah cinta tidak ada? Orang bisa saling memuaskan, tetapi ketika kenikmatan melulu dijadikan sebagai tujuan, tindakan seks kehilangan keindahannya.

Seks yang dijadikan alat untuk tujuan tertentu telah melahirkan bentuk-bentuk kekerasan, manipulasi, eksploitasi, perendahan martabat. Itu terjadi baik dalam institusi keluarga maupun dalam relasi antar pasangan di luar institusi keluarga.

Pada jaman modern atau post-modern ini, sebagian orang tidak merasa perlu menikah untuk bisa menikmati seks. Seks dianggap sebagai kebutuhan seperti layaknya orang makan. Selama sepasang insan sepakat untuk saling memenuhi kebutuhan seks masing-masing—entah dengan atau tanpa tanggung-jawab sosial, ekonomi, psikologis—hubungan seks dianggap normal saja.

Dalam seks bukan hanya ada kenikmatan tetapi juga ada penderitaan. Hubungan seksual membawa serta tanggung-jawab terhadap kesejahteraan pasangannya. Kehadiran seorang bayi mungil menuntut tanggung-jawab seluruh hidup dari orang-tuanya. Ada dimensi penderitaan dalam tanggung-jawab ini. Meskipun ada penderitaan dalam seks, orang tetap menyukai seks dan mau membayar apapun karena ada kenikmatan di dalamnya.

Sebagian orang merasa tidak punya masalah dengan seks. Mereka membutuhkan seks seperti orang membutuhkan makan. Saat kesepian mendera, orang menemukan seks sebagai tempat berlabuh. Ada seks atau tidak ada seks, kenyataannya rasa takut, rasa sepi, rasa pedih tetap ada. Betapapun orang memiliki kepuasan seks, semua itu tidak bisa disembuhkan dengan seks.

Ada kenikmatan dan penderitaan dalam seks. Ada kelegaan atau pelepasan atau kepuasan kalau seks terpenuhi. Tanpa seks, orang hidup dalam kebingungan, depresi, rasa tertekan.  Saat kenikmatan seks berakhir—karena ditinggal pergi oleh pasangan, penyakit, cacat, usia tua—orang terperosok dalam kepedihan yang lebih dalam.

Sebagian orang bersumpah hidup murni atau berkaul kemurnian. Banyak orang mengutuk seks sebagai yang duniawi, rendah, tidak suci. Mereka berjuang untuk mengenyahkan hasrat seks. Menjauhi, menolak atau membunuh hasrat seks sama bodohnya dengan mengumbar hasrat seks. Dengan bertindak demikian, bukankah orang telah mengingkari gairah dan keindahan kehidupan?

 

Mengapa Seks Begitu Penting?

Seks dianggap sebagai hal yang luar biasa penting bagi kehidupan. Bagi kebanyakan orang, seks merupakan satu-satunya pelepasan dari keterbelengguan. Kebanyakan orang terbelenggu oleh berbagai tuntutan di sekolah, dunia kerja, keluarga, masyarakat, agama, politik. Orang merasa dikungkung oleh berbagai otoritas, aturan, moralitas, hukum, sopan-santun. Tidak ada ruang yang bisa membuat orang betul-betul bebas kecuali seks. Di sana ada kebebasan, pelepasan, intensitas.

Seks menjadi luar biasa penting juga karena seks menjadi satu-satunya pengalaman ketiadaan-diri. Dalam kehidupan sehari-hari kebanyakan orang hidup seperti mesin. Diri adalah motor penggeraknya. Tiada hari tanpa perjuangan. Orang berjuang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi juga untuk memenuhi hasrat rohani yang paling tinggi. Di mana-mana orang berjuang, entah di pasar kerja atau di ruang doa. Diri yang kasar atau diri yang halus terus berlangsung untuk menggapai pemenuhan duniawi maupun rohani. Meski demikian tetap saja orang masih terpenjara oleh diri. Seks lalu memberikan pengalaman pembebasan dari diri sekurang-kurangnya untuk sementara waktu. Dalam tindakan seks, meski hanya beberapa detik atau menit, orang merasa bahagia.

Karena pengalaman kebahagiaan, kebebasan relatif, pelepasan dan intensitas ini, orang menjadi mudah ketagihan. Karena ketagihan lalu orang diperbudak oleh seks. Mereka pikir seks sebagai satu-satunya pelepasan, meskipun sesungguhnya bukan pelepasan sama sekali. Karenanya seks dipandang begitu penting.

Kelekatan dan Ketakutan

Sesungguhnya apa yang kita sebut sebagai kenikmatan seks? Perhatikan muncul dan tenggelamnya hasrat atau gariah atau nafsu seks. Nafsu adalah keinginan dan keinginan adalah pikiran. Hubungan antara nafsu seks dan pikiran begitu dekat. Hasrat akan kenikmatan sebelum atau setelah tindakan seks tidak lain adalah pikiran. Kita menyukai kenikmatan dan pikiran mengulang-ulang atau meneruskan kenikmatan seks yang telah lewat. Pikiran membayangkan kenikmatan seks yang belum atau sudah terjadi dan imaginasi ini membakar nafsu birahi.

Yang menjadi masalah di sini bukan tindakan seks melainkan pikiran seks. Kalau lapar, orang makan. Kalau sebelum atau setelah makan, orang terus-menerus berpikir tentang makan, itu menjadi masalah. Begitu pula dengan tindakan seks. Kalau ada gairah seks, tanpa pikiran, tanpa kelekatan dan ketakutan, maka terjadi tindakan seks. Menjadi masalah kalau sebelum atau setelah tindakan seks, orang terus-menerus berpikir seks.

Pikiran senang melekat pada sesuatu yang membuat nikmat dan seks adalah salah satunya. Bukankah karena rasa takut kita berlari dengan melekat pada sesuatu dan kelekatan itu menciptakan lebih banyak ketakutan? Apakah seks merupakan suatu pelarian dari rasa kesepian atau kekosongan eksistensi kita? Anda musti melihatnya sendiri. Kalau Anda memahami seluruh gerak kenikmatan dan penderitaaan, kelekatan dan ketakutan di dalamnya, pikiran dan keinginan-keinginannya, bukan membuangnya, maka mungkin Anda akan melihat seks secara berbeda.

Seks sebagai Kebutuhan Dasar?

Betulkah seks merupakan kebutuhan dasariah agar orang hidup secara manusiawi? Kalau yang dimaksud adalah tindakan seks, bukan pikiran seks, itu barangkali benar. Tindakan seks bukan hanya terbatas hubungan intim sepasang insan, tetapi juga cara kita memperlakukan tubuh kita, hubungan-hubungan lebih luas antara laki-laki dan perempuan, cara memandang, cara mendengarkan, cara bergaul, cara bertindak, dan seterusnya.

Ketika memandang seorang perempuan cantik, misalnya, saat itu sudah terjadi tindakan seks. Dalam  pengamatan total sudah terjadi tindakan total. Kalau kita memandang perempuan cantik lalu pikiran berceloteh ingin menikmati, memiliki, menilai, mengatakan boleh atau tidak boleh, maka di situ tidak ada tindakan seks. Di situ ada pergulatan dari apa adanya menjadi apa yang seharusnya atau apa yang tidak seharusnya. Selidikilah mengapa orang bergulat dengan seks, bergulat sesuatu yang harus dipenuhi atau tidak harus dipenuhi, bergulat dengan boleh atau tidak boleh, bukan menghidupi seks sebagai bagian dari kehidupan.

Dalam tindakan seks mungkin ada kelembutan, keindahan, kebebasan, intensitas, kebahagiaan, cinta atau kasih sayang yang sesungguhnya. Itu ada kalau pikiran, keinginan, atau diri ini berhenti. Keinginan untuk menghentikan hasrat seks tidak akan membuatnya berhenti. Pikiran yang mau menghentikan pikiran seks tidak mungkin membuatnya berakhir. Alih-alih menyadari seluruh gerak pikiran dan keinginan seks mungkin akan membuatnya berhenti. Kalau keinginan berhenti, masihkah pemenuhan hasrat seks dibutuhkan?

Kebebasan dan Kasih Sayang

Hasrat seks dan reaksi-reaksi batin kita terhadapnya perlu dipahami secara total. Apa yang terjadi kalau hasrat seks dan reaksi-reaksi batin disadari tanpa menilainya sebagai baik atau buruk, normal atau tidak normal, remeh atau tidak remeh, boleh atau tidak boleh? Apa yang terjadi kalau gairah seks dipahami seperti apa adanya tanpa tebang-pilih, tanpa menyalahkan atau tanpa membenarkan, tanpa menerima atau tanpa menolak, tanpa melawan atau tanpa lari daripadanya? Kalau kita hidup bersamanya, apakah hasrat seks menjadi sumber konflik dan kekacauan?

Selamanya seks menjadi masalah besar selama tidak ada kebebasan yang sesungguhnya. Pikiran seks membelenggu kebebasan. Keinginan untuk mengumbar nafsu seks juga menjadi penjara kebebasan. Hanya dalam kebebasan batin terdapat cinta atau kasih sayang sejati. Orang yang tidak memiliki kebebasan dan kasih sayang sejati menjadikan seks sebagai masalah. Di mana ada kenikmatan dan kepedihan, apakah di sana ada cinta?

Seks mempunyai tempatnya sendiri dalam kehidupan. Tetapi ketika kehidupan dikuasai oleh seks atau kehidupan dipisahkan sama sekali dari gairah seks, maka tidak ada lagi keindahan, tidak ada lagi kebahagiaan, tidak ada kasih sayang sejati.*

 (Daimbil dari Revolusi Batin Adalah Revolusi Sosial, Kanisius 2009, Bab 27)