Cinta yang matang adalah seperti api tanpa asap. Asap cinta adalah iri hati, cemburu, rasa takut, kecewa, benci, rasa memiliki, ambisi untuk berkuasa, keinginan utk menjadi seseorang, keinginan akan kesenangan dan kepuasan, dan seterusnya. Orang berpikir kalau ada asap pasti ada api. Kalau ada rasa cemburu, di sana ada cinta. Namun demikian, nyala api cinta yang berasap adalah nyala cinta yang tidak matang. Ia sesungguhnya bukanlah Cinta.

Nyala api Cinta ini tidak bisa dipikirkan atau dirumuskan. Ia bukan produk pikiran. Ia bukan kenangan masa lampau, bukan pula proyeksi harapan di masa depan. Ia bukan rasa-perasaan. Ia tidak punya motif, tidak punya tujuan. Ia bukan milikku dan bukan milikmu, bukan milik kelompokku dan bukan milik kelompokmu.

Nyala Cinta seperti itu akan terlahir kalau diri ini pudar. Pudarnya diri hanya mungkin kalau kita memahami masalah-masalah eksistensi kita sampai tuntas tanpa ambisi untuk mencari solusi. Diri yang bebas dari asap segala bentuk keinginan membuat nyala Cinta merekah. Cinta yang penuh asap membuat hidup menjadi pedih; Cinta yang bebas asap melahirkan Sukacita.

Nyala Cinta seperti ini membawa kita lebih dekat dengan Allah. Allah adalah Cinta (Bdk 1 Yoh 4:8). Maka kalau kita mencinta, kita menjadikan diri kita dekat dengan Allah. Cinta adalah jalan paling baik menuju Allah.

Mencintai Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi (Bdk Mat 22:37) hanya mungkin kalau Cinta bebas dari asap. Dari pihak diri kita, mencinta berarti tidak ada bagian dari diri kita yang tidak kita serahkan kepada Allah. Mencintai Allah secara total berarti pudarnya diri atau berhentinya keakuan.

Dari pihak Allah, mencintai Allah berarti mencintai Dia seperti adanya, bukan mencintai yang bukan Allah. Hiburan-hiburan rohani yang sejati berasal dari Allah namun hiburan rohani itu sendiri bukanlah Allah. Mencintai Allah supaya mendapat hiburan-hiburan rohani bukanlah Cinta. Mencintai Allah supaya dapat memperoleh kesenangan dan kenyamanan duniawi bukanlah Cinta. Mencintai Allah supaya masuk surga bukanlah Cinta. Mencintai Allah karena motif atau tujuan apapun bukanlah Cinta.

Cinta kepada Allah tidak bisa tidak hanya tertuju kepada Allah Yang Tak-dikenal. Hadiah atau berkah yang datang dari Allah patut kita syukuri kalau diberikan kepada kita, namun itu semua bukanlah yang terpenting dalam tindakan Cinta kepada Allah.

Allah yang kita kenal lewat konsep, gambaran, Kitab Suci, Teologi, bukanlah Allah yang sesungguhnya. Allah tidak bisa dijangkau dengan pikiran, pengetahuan, konsep, teknik, metode apapun. Mencintai Allah yang kita kenal hanya akan membawa kita bertemu dengan gambaran tentang Allah, tetapi bukan Allah yang sesungguhnya. Hanya melalui jalan Cinta, bukan pengetahuan, Allah Yang Tak-dikenal ini bisa didekati. Cinta tidak menjadikan Allah sebagai objek pikiran, objek harapan, objek iman. Cinta adalah jalan sekaligus tujuan.

Gerak Cinta kepada Allah seperti ini memurnikan diri kita. Selanjutnya kita akan mampu mencintai sesama secara benar dan mencintai sesama hanya mungkin kalau kita bisa mencintai diri sendiri. Mengasihi sesama seperti diri sendiri (Bdk Mat 22:39) bukan sekedar perintah tetapi juga hadiah atau berkah. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka di sana ada sukacita. Begitu pula kalau kita mencintai sesama. Karenanya setiap kesempatan untuk mencintai sesama yang datang kepada kita merupakan tawaran berkah Allah.

Cinta terhadap sesama mendatangkan sukacita. Sukacita ini bukan datang dari rasa keakuan, adanya rasa memiliki, rasa menguasai, dan seterusnya. Sukacita yang terlahir dari rasa keakuan tidak lain adalah kesenangan atau kepuasan. Dalam Cinta, tidak ada lagi aku, tidak ada lagi engkau. Yang tertinggal hanyalah Cinta yang melahirkan sukacita.

Mencintai Allah merupakan gerak yang terutama dan pertama; mencintai sesama seperti diri sendiri adalah sama dengan gerak yang pertama (Mat 22:38). Cinta yang tertuju kepada kepada Allah adalah sama dengan Cinta yang tertuju kepada sesama. Cinta Allah terhadap diri kita adalah sama dengan Cinta kepada sesama dan diri sendiri. Yang bisa mencintai diri sendiri pasti bisa mencintai Allah dan sesama. Yang tidak bisa mencintai Allah pasti tidak bisa mencintai diri sendiri dan sesama.

Cinta itu menyatukan dan melebur segala sesuatu. Ia meledak di Saat Sekarang, di luar waktu, memutus rantai masa lampau dan masa depan. Ia menyatukan orang yang mencinta dan yang dicinta. Tidak ada lagi aku dan tidak ada lagi engkau. Tidak ada milikku dan milikmu. Cinta memutus sekat hubungan diri, Allah dan sesama.

Dalam Cinta, semuanya terlebur dalam Allah. Lemparkan balok kayu ke dalam api, maka muncullah percik api. Api akan membakar kayu itu sampai habis. Akhirnya tidak ada kayu karena kayu sudah terlebur dalam api. Begitulah gerak cinta kepada Allah dan kepada sesama seperti diri sendiri. Aku dan sesama tiada; yang ada hanyalah Cinta dari dan kepada Allah. Mencintai Allah dengan sepenuh hati dan mencintai sesama seperti diri sendiri menjadi satu gerak yang tiada beda.*

(Diambil dari Revolusi Batin Adalah Revolusi Sosial, Kanisius 2009, bab 26)