Kebanyakan dari kita barangkali jarang mengalami kekosongan karena saat itu muncul, kita cenderung menghindarinya, melarikan diri darinya. Kita enggan menghadapinya. Kita lalu mencari sesuatu yang lain untuk mengisinya. Kita menyibukkan diri dalam dunia kerja, mencari kekayaan, banyak berkegiatan, berelasi dengan orang, mengisi dengan hiburan televisi atau internet atau telpon genggam atau alat-alat teknologi lain, membaca banyak buku, mengumpulkan pengetahuan, mencari kekuasaan, memupuk kepercayaan, melakukan pemujaan, doa, meditasi.

Kita tidak sungguh-sungguh menyelidiki apa itu kekosongan. Kita suka menamai ”itu kosong”. Kita menilainya sebagai ”buruk”, ”menyakitkan”, ”menakutkan”, ”mengerikan”. Kalau kita menamai dan menilai, maka batin telah bergerak mengikuti ingatan-ingatan dari masa lampau. Ingatan-ingatan ini telah menciptakan ketakutannya sendiri. Di situ sudah ada perlawanan atau pelarian diri. Selama batin menamai, melawan, melarikan diri, maka kekosongan tidak terpahami.

Bisakah batin menghadapi kekosongan tanpa memberinya nama, tanpa menilai, tanpa mengutuk, tanpa melawan, tanpa lari darinya? Bisakah tinggal bersama kekosongan tanpa jarak? Apa yang terjadi? Bukankah tidak ada pengamat yang menamai, tidak ada pengamat yang menilai, tidak ada otoritas yang mengutuk, tidak ada penyensor yang menyalahkan, tidak ada penderita yang merasa ngeri dan ingin berlari, tidak ada korban yang mencari perlindungan dan penghiburan? Bukankah tidak ada entitas lain yang diciptakan pikiran di luar dirinya? Yang tinggal lalu adalah suatu keadaan batin yang disebut kekosongan.

Batin yang adalah kosong sebenarnya sudah kita kenal kalau kita tidak berlari dan menutupinya dengan berbagai kegiatan atau harta kepemilikan. Kalau kita menolak kekosongan, maka kepemilikan atau  kegiatan menjadi sangat penting. Itulah yang membentuk diri. Diri tidak bisa dipisahkan dari kepemilikan. Aku merasa ada karena memiliki sesuatu, memiliki uang, memiliki seseorang, memiliki kegiatan, memiliki karya, memiliki ketakutan, memiliki kesakitan, memiliki kepercayaan, memiliki harapan, memiliki Tuhan. Aku merasa ada kalau bisa berbuat sesuatu, melakukan karya-karya besar, bisa mengatasi masalah ini dan itu. Itu semua membuat aku merasa ada.

Apa yang terjadi ketika kepemilikan itu dijauhkan dari kita? Apa yang terjadi ketika kita didera sakit, tidak lagi bisa melakukan kegiatan atau karya-karya besar? Apa yang terjadi saat kita kehilangan seseorang atau sesuatu yang kita anggap begitu berharga? Bukankah aku merasa tidak berharga, merasa tidak bernilai, merasa bukan apa-apa, merasa bukan siapa-siapa? Bukankah tidak ada rasa-diri tanpa kepemilikan? Bukankah inilah keadaan batin kita yang sesungguhnya, batin yang kosong, dan kita bukan siapa-siapa?

Saat-saat krisis, misalnya sakit atau kehilangan sesuatu yang berharga, bisa menolong kita untuk kembali mengenali kekosongan ini. Apa itu yang disebut krisis? Krisis adalah suatu ketergoncangan batin dari keadaan yang aman dan mapan. Kita merasa aman kalau memiliki uang deposito sejumlah tertentu, memiliki ketercukupan sandang-pangan-papan. Kalau itu tidak cukup kita miliki, kita mencoba mencari bentuk kepemilikian dalam relasi pribadi, dalam pengetahuan, dalam kesucian, dalam kekuasaan. Kalau semua itu tidak juga memuaskan kita, lalu kita mencari Tuhan dan berharap bisa duduk di sebelah kananNya. Kita memiliki uang, sandang-pangan-papan, relasi pribadi, pengetahuan, kepercayaan, harapan, Tuhan. Itu semua memberikan kenyamanan hidup. Apa yang terjadi kalau semua itu tiba-tiba dijauhkan dari hidup kita? Bukankah batin yang mapan ini tergoncang?

Saat kita kembali sadar dari ketergoncangan ini, kita menjadi sedih karenanya. Lalu apa reaksi kita? Kita menghibur diri bahwa kita akan mendapatkan pengganti dari apa yang hilang. Kita mempertebal kepercayaan bahwa Tuhan tidak diam. Kita membangkitkan harapan bahwa kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih bernilai. Kita terpaksa pasrah pada kenyataan hidup yang sebenarnya tidak kita inginkan. Kita berjuang untuk menerima keadaan yang tidak bisa kita ubah. Bukankah itu semua merupakan penghiburan dan pelarian diri? Bukankah itu merupakan gerak penguatan rasa-diri? Bukankan itu merupakan bentuk perlawanan terhadap ketiadaan-diri?

Berbagai krisis kehidupan–dalam hidup pribadi, dalam relasi antar pribadi, dalam keluarga, dalam masyarakat–menghentakkan kita akan kenyataan batin kita yang sesungguhnya yang adalah kosong. Selama kita merespons krisis dari pusat-diri yang hendak melanggengkan dirinya, maka krisis tidak terpahami. Kita juga kehilangan kesempatan terbaik untuk memahami kekosongan. Baik krisis maupun kekosongan musti dipahami secara lengkap dan pemahaman lengkap terjadi kalau kita tidak melawan atau menghindar. Apakah krisis yang Anda alami memicu munculnya kesadaran akan kekosongan ataukah Anda masih terus berlari-menghindar darinya?*

(Diambil dari Revolusi Batin Adalah Revolusi Sosial, Kanisius 2009, bab 25)