Kekosongan merupakan realita diri yang terdalam. Realita kekosongan ini dinamai dengan berbagai istilah lain seperti ”bukan-diri”, ”diri sejati”, ”dasar jiwa”, ”hakekat diri yang tak-berhakekat”, ”padang gurun keheningan”, dan seterusnya.

Dalam meditasi tanpa objek, pemeditasi hanya mengamati gerak-gerik batin, gerak pikiran dan emosi. Ia tidak melawan, menolak, menyetir, mengontrol, mengendalikan, memaksa, mengubah, dan seterusnya. Meditasi ini, yang tidak berfokus pada objek tertentu, akan membawa pemeditasi menyadari sesuatu di dalam diri yang bukan pikiran dan perasaan. Dengan mengamati gerak pikiran dan perasaan apa adanya, membuat aku berbeda dari mereka. Aku bukan tubuhku, bukan pikiranku, bukan perasaanku. Aku bukan itu semua.

Aku yang sesungguhnya juga tidak berkait dengan fungsi. Aku tidak sama dengan apa yang aku lakukan atau peran yang aku mainkan, misalnya sebagai guru, pengacara, dokter, penulis, biarawan, buruh, petani, pengusaha, dan seterusnya.

Peran dan fungsi menciptakan rasa aman, rasa memiliki identitas. Itu semua membuat kita merasa solid, dibutuhkan, berharga, dihargai, permanent. Itu semua membentuk diri. Tetapi itu semua bukan aku yang sesungguhnya.

Aku bukan apa yang aku pikirkan dan engkau bukan apa yang engkau pikirkan. ‘Aku’ dan ‘engkau” adalah proyeksi. Kalau kita melepas selaput proyeksi, maka kita sampai di titik tidak ada aku dan tidak ada engkau.

Ada sesuatu di dalam diri yang secara sempurna tidak melekat, halus dan lembut. Ia tidak dikotori oleh apapun. Ia seperti danau yang dalam yang tanpa tepi dan tanpa dasar. Pikiran dan perasaan adalah seperti gelombang air di permukaan. Di bawah permukaan, tidak ada riak gelombang. Segala sesuatu diam. Sekali gelombang berhenti dan air menjadi tenang, kita bisa melihat gerak yang mahaluas dan sadar apa yang hidup di sana. Itu adalah gambaran Diri Sejati yang kita sadari saat kita terlepas dari segala proyeksi dan kemelekatan.

Keadaan terlepas dari kemelekatan melahirkan sikap lepas-bebas, kosong, tetapi penuh vitalitas. Tidak ada pengejaran, daya upaya, ambisi untuk mengejar tujuan tertentu, termasuk tujuan untuk mencapai Diri Sejati. Ia bebas, tenang, terbuka tanpa batas, menerima realita Saat Sekarang apa adanya. Selama kita belum menyentuh realita yang terdalam, maka kita terus didera dan dipenjara oleh pikiran dan perasaan kita. Tidak peduli pikiran dan perasaan itu baik atau buruk, sedih atau menggembirakan, penuh harapan atau putus asa. Segala bentuk aksi hanyalah reaksi; reaksi atas endapan pikiran dan perasaan yang tersimpan dalam memori otak kita. Aksi hanya mungkin kalau tindakan mengalir dari sumber aku yang sesungguhnya.

Tepatlah kekosongan disebut sebagai hakekat diri yang tak-berhakekat. Ia bukan kehampaan tak berujung; bukan sekedar tiadanya pikiran, hilangnya rasa-perasaan, terserap dalam kekosongan ruang. Ia adalah terlepasnya segala konsep diri. Ia adalah lenyapnya kemelekatan subjek terhadap objek. Di sana tidak ada pusat, tidak ada tepian, tidak ada kedalaman, tidak ada ketinggian.

Memandang segala sesuatu dari titik kekosongan itu membuat segala sesuatu terpahami secara terang apa adanya. Dalam titik kekosongan, ada pemahaman di luar pikiran, pencerahan terlahir, kemelekatan terlepas, dan esensi segala sesuatu muncul dengan sendirinya. Segala sesuatu pada hakekatnya kosong tetapi di situlah terlihat realita yang sesungguhnya.

Hanya dalam realita kekosongan inilah kita sadar secara aktuil adanya sesuatu Yang Lain. Ia bukan bagian dari diri, tetapi tak terpisahkan dari diri. Semua itu tidak bisa dipahami dari luar, tetapi musti dipahami dari dalam.*

(Diambil dari Revolusi Batin Adalah Revolusi Sosial, Kanisius 2009, bab 24)