Meditasi tanpa objek adalah meditasi tanpa gambar, tanpa imaginasi, tanpa simbolisasi, tanpa visualisasi, tanpa fokus, tanpa tema atau tanpa konsep. Yang dilakukan pemeditasi hanyalah duduk diam dengan batin yang hening, menyadari keberadaan Saat Sekarang, mengamati segala sesuatu yang datang dan pergi tanpa tebang pilih, memberi perhatian terhadap segala sesuatu apa adanya.

Biasanya orang memahami objek lewat saringan pikiran. Objek yang dipahami lewat saringan pikiran tidak bisa dipahami seutuhnya karena keterkondisian pikiran subjek manusia. Kalau ada subjek yang berpikir, di sana ada objek pikiran. Pikiran selalu membuat jarak atau pemisahan subjek dan objek. Subjek tidak bisa mengalami objek secara langsung kalau harus melalui medium pikiran yang menciptakan jarak.

Meditasi tanpa objek berarti meditasi tanpa menggunakan kemampuan pikiran. Keinginan, kehendak atau daya upaya untuk menolak atau membuang atau menghentikan pikiran masih merupakan bagian ego yang berpikir. Subjek yang bebas dari pikiran adalah subjek yang bebas dari kesadaran aktif intensional. Bebasnya subjek dari kesadaran aktif, membuat subjek menghilang. Ketika subjek yang berpikir menghilang, objek pikiran juga menghilang. Tidak ada lagi subjek dan objek. Kesadaran pasif muncul dengan sendirinya ketika kesadaran aktif berhenti. Ketika saringan pikiran tak terpakai lagi, maka segala sesuatu hadir seutuhnya. Segala sesuatu hadir secara murni seperti apa adanya.

Lenyapnya Diri

Tidak sedikit pemeditasi yang tidak keluar dari gerak pikiran, diri atau si aku. Si aku yang halus bergerak secara tersamar dengan mengejar tujuan tertentu termasuk agar mencapai pembebasan atau untuk melepas egonya. Meditasi seperti itu masih ditunggangi oleh keakuan yang melekat pada sesuatu atau mengejar sesuatu.

Padamnya diri tidak bisa dikejar. Sesungguhnya padamnya diri merupakan dampak saja dari pengamatan total atau kesadaran terus-menerus akan gerak tubuh dan batin. Keakuan atau subjek padam dengan sendirinya kalau pikiran tidak bergerak. Saat pikiran bergerak, keakuan atau si aku terlahir.

Dalam kehidupan sehari-hari kita melihat dualitas subjek dan objek. Dualitas ini tercipta ketika pikiran bergerak. Namun subjek ini tidak ada sebelum pikiran bergerak. Yang ada hanya objek-objek, tanpa subjek sama sekali, tanpa si pengamat, tanpa si pemikir, tanpa si aku.

Bahasa yang merupakan manifestasi pikiran juga selalu mengandung hubungan subjek dan objek. Di dalam keheningan meditasi adanya subjek, keakuan, si aku hanya sebuah ilusi. Ternyata subjek dan objek itu satu dan sama. Ternyata si pemikir dan pikirannya adalah satu dan sama. Si pemikir adalah pikiran dan pikiran terus bergerak tanpa subjek yang menggerakkanya.

Saat mesin pikiran atau ego berhenti, pemeditasi menyadari hakekat diri yang sesungguhnya. Pemahaman baru tentang siapa diri kita yang sesungguhnya ini bukan hasil dari olah pikiran, juga bukan akumulasi dari pengalaman, melainkan terjadi di luar lingkup apa yang dikenal. Semuanya ini hanya mungkin dialami kalau pikiran berakhir, si pemikir berhenti, diri padam.

Yesus Kristus Sebagai Model, Bukan Sebagai Objek Meditasi

Meditasi tanpa objek tidak menempatkan Kristus sebagai objek meditasi, namun mengikutiNya sebagai model. Menjelang detik-detik penangkapanNya, Yesus berbicara tentang Kehadiran Ilahi di tengah para muridNya. “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” (Yoh 16:7) Dengan perginya Yesus berarti kita tidak akan melihat Dia sebagai objek pikiran. Roh Penghibur tidak akan datang kalau kita masih menempatkan Yesus sebagai objek pikiran. Sebagai gantinya, Ia sendiri melalui Roh Kudus mengarahkan kita kepada Bapa dan membantu kita berseru: ”Abba, ya Bapa.”

Kristus mengajak kita untuk menyadari Kehadiran Ilahi dalam diri kita, Keberadaan kita yang sesungguhnya. Meditasi tanpa objek adalah perhatian tanpa objek, perhatian murni, keheningan total. Dalam keheningan ini, pikiran berhenti. Dalam tataran ini datanglah pemahaman langsung akan Yang Ilahi atau Yang Kudus. Meditasi tanpa objek adalah kesadaran murni, kesadaran Kristus sendiri, akan siapa diri kita sesungguhnya, sebagai alter Christi, sebagai anak Allah, segambar denganNya.

Pengalaman Rohani Kristus

Bukan hanya kesadaran kita, kesadaran Kristus sendiri juga berevolusi. Kesadaran Kristus tentang relasi dengan BapaNya berkembang dari saat ke saat. Ada saatnya bahwa diriNya bukan hanya sebagai anak Maria dan Yosef dari keluarga Nazareth, tetapi juga sebagai Putera Bapa. Kesadaran sebagai Putera Bapa ini tumbuh berkembang seiring pertumbuhanNya terutama mulai pada umur 12 tahun. Di kenisah Yerusalem, Ia pertama kali memperoleh kesadaran baru bahwa Ia adalah Putera Allah (Lukas 2:48-49).

Orang tuanya tidak mengerti, tetapi Yesus juga tidak memberikan penjelasan. Ia tinggal beberapa lama di Yerusalem. Itu terjadi supaya kesadaran bahwa Ia yang sejak semula menjadi Putera Bapa menjadi bagian dari diriNya. Segala yang Ia ketahui tentang kehadiran Ilahi di Kenisah membawa pada kesadaran yang lebih dalam tentang hakekat sebagai Anak Allah.  Seiring dengan tumbuhnya kesadaran akan hakekat sebagai anak manusia, Ia secara berahap juga sadar akan hakekat sebagai Anak Allah.

Tahun-tahun kehidupan di Nazareth merupakan saat yang bukannya tanpa guna. Di bawah asuhan orang tuaNya, “Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Lukas 2:52)

Kesadaran siapa DiriNya semakin tumbuh dan berkembang. Yesus membutuhkan sekitar 30 tahun untuk mencapai tingkat Kesadaran yang matang sebagai Putera Allah. Sesudah dibaptis oleh Yohanes, Yesus segera keluar dari air. Pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atasNya (Mat 3:16). Sabda yang keluar dari sorga meneguhkan kesadaranNya sebagai Anak Allah: “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:30)

Pertanyaan Yesus “Kata orang, siapakah Aku ini?” (Markus 8:27) merupakan pertanyaan yang bukan sekedar ingin tahu. Siang dan malam Yesus bertanya siapa diriNya dan ia tidak menemukan jawaban sepenuhnya sebelum Ia kembali kepada Bapa. Meditasi di Kenisah, pembaptisan di Sungai Yordan, keheningan 40 hari di padang gurun, penampakan di gunung Tabor, pendakian ke Yerusalem, meditasi di taman Getsemani, penyaliban, kebangkitan dan kenaikan ke surga merupakan saat-saat menentukan dalam pertumbuhan kesadaran yang Ia latihkan dalam keseluruhan hidup. Jalan Kesadaran ini tidak lain adalah meditasi tanpa objek.

Dalam proses sadar akan hakekat diriNya, dalam meditasi tanpa objek, lahirlah Sabda. Kristus menjadi sadar bahwa Ia adalah Sabda Bapa. Ia sadar diriNya adalah Sabda Bapa dan Sabda Bapa ini membentuk kemanusiaanNya. Ia menjadi gambaran sempurna dari Bapa. Itulah mengapa Ia mengatakan: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yoh 14:9)

Meditasi tanpa objek membawa kita masuk pada kesadaran siapa diri kita yang berakar-dalam pada Kristus, Bapa, Roh Kudus. Hakekat Kristus atau hakekat Ilahi merupakan Keberadaan kita yang paling dalam. Pada jalan ini kita digabungkan dalam perjalanan rohani Kristus sendiri.

Inilah sejenis meditasi yang dihidupi oleh kaum kontemplatif seperti yang lebih dulu dihidupi Kristus. Kristus mengundang kita untuk sadar akan siapa diri kita dan kemudian Ia berbagi dengan kita KesadaraNya sendiri.*

(Diambil dari Revolusi Batin Adalah Revolusi Sosial, Kanisius 2009, bab 23.)